RSS
 

Artikel dan Penelitian

jendela jauhari

Leave a Reply

 
CAPTCHA Image
*

 
  1. Adiesta Feby Dhaviyanti

    May 11, 2014 at 7:54 pm

    NIM : 135030301111031

    PRODI : BISNIS INTERNASIONAL

    KELAS : B / KAMIS PIKUL 13.00

    “Dan ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat sesungguhnya
    aku hendak menjadikan dibumi seorang khalifah” (QS : al-Baqarah)

    Sudah menjadi sunnah ilahiah bahwa dalam setiap kelompok pasti ada seorang pemimpin. Secara umum seorang pemimpin itu bisa dikatakan sebagai roh atau orang yang menggerakkan. Arti sempit dari pemimpin adalah seseorang yang bisa mempengaruhi sebuah kelompok atau orang yang dipimpinnya. Dalam kedudukannya bukan berarti dia itu orang nomor satu (the first man).
    Melihat fakta yang ada, seringkali banyak orang salah asumsi sehingga sebagian mereka banyak yang beranggapan bahwa menjadi seorang pemimpin itu enak. Dia hanya bisa menuding aja mana kala ada hal yang diinginkannya. Bahkan kalau perlu disertainya tudingam-tudingan itu dengan gertakan-gertakan keras sementara dirinya duduk enak dikursi empuknya, makan gaji. Anggapan itulah kiranya yang mengilhami penulis untuk membuat oretan-oretan ini. Menurut hemat penulis pribadi pola-pola kepemimpinan semacam itu boleh saja sewaktu-waktu diterapkan jika dirasa sangat diperlukan sesuai dengan situasi dan kondisi. Persoalan kepemimppinan dari dulu hingga sekarang tidak pernah terlepas dari aneka problematika yang timbul didalamnya berkisar pada masalah tanggung jawab serta kemampuan memikul beban yang sangat berat itu.
    Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
    Pemimpin sejati adalah adalah kepemimpinan yang
    didasarkan pada kerendahan hati (humble).
    Ia adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator,
    inspirator, dan maximizer. Pemikiran seperti ini saat sekarang jarang
    ditemukan dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin
    konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor
    and praise) dari mereka yang dipimpinnya.
    Ada beberapa faktor penting yg harus dimiliki seorang pemimpin:
    1. Confident (percaya diri)
    Inilah syarat pertama yang semestinya dimiliki siapapun yang ingin jadi
    pemimpin. Jangan berharap dan bermimpi jadi pemimpin kalau tidak percaya
    diri. Artinya percaya diri di sini berbeda dengan pengertian percaya diri pada
    umumnya, percaya diri dimaksud adalah percaya bahwa dirinya adalah
    mendadapat amanah dari Yang Maha Kuasa sebagai khalifah di muka bumi.

    2. Visi.
    Kenneth Blanchard (1982: 132) mengatakan bahwa pemimpin harus
    memiliki visi atau wawasan ke depan yang jelas. Bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya.

    3. Idealisme.
    Pemimpin memiliki kepribadian kuat. Bersikap idealis. Dia konsisten
    pada nilai-nilai idealisme. Tapi rela bersikap kompromistis, elastis atau
    pragmatis pada hal-hal yang tidak prinsipil.

    4. Tanggung Jawab.
    Salah satu hal yang membuat orang percaya pada seseorang
    pemimpin adalah karena dinilai memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab
    itu identik/intrinsik/koheren dengan sikap konsisten dalam ucapan dan
    perilaku. Tanggung jawab juga berkaitan erat dengan sikap semangat yang
    stabil dari awal tugas sampai akhir.

    5. Egaliter/merakyat
    Menjadi egaliter tidak akan membuat kita
    diremehkan, sebaliknya justru semakin mengundang kekaguman dan
    simpati. Sikap egaliter itu identik dengan kerendah hatian. Salah satu ciri
    rendah hati (tawadhu‟) adalah open-minded dan tidak marah ketika dikritik,
    ketika dihina, ketika dicaci.

    6. Caring/Tidak Selfish atau Egois
    Caring berarti selalu peduli pada nasib orang lain. Pemimpin kredibel
    selalu “mengalah” ketika kepentingan pribadinya bertabrakan dengan
    kepentingan umum. Ia selalu berkorban. Termasuk mengorbankan
    perasaannya sendiri bilamana perlu. Ia tidak ingin senang di saat „anak
    buah‟nya sengsara, baik lahir atau batin.

    7. Dignified (bermartabat)
    Pemimpin itu simbol yg mewakili institusi dan seluruh anggotanya.
    Citra baik atau buruk sang pemimpin akan mempengaruhi citra institusi dan
    anggotanya. Ketika akan melakukan sesuatu, hal
    pertama yg mesti diingat seorang pemimpin adalah adakah hal itu akan
    merusak martabat institusi, anggota dan kepemimpinannya? Apabila berhasil
    memenuhi segala kriteria di atas, kepemimpinan tidak akan berhenti sampai
    di sini. Ia akan terus berlanjut sampai di masa datang.

     
  2. Tamara Magdalena

    June 17, 2014 at 11:31 am

    Tamara Magdalena
    135030301111020
    Bisnia internasional b
    Bagaimana kepemimpinan itu seharusnya ?
    Harusnya mempunyai situsional leadersip , transformational leadersip karena dengan ini seorang pemimpin
    Selalu memunculkan karya karya yang profesional dan mempunyai suatu kinerja yang baik bagi anggota kelompok sehingga dapat menghasilkan karya inobatif dan luar biasa.
    Dan syarat utama menjadi seorang pemimpin harus mempunyai kharisma.

     
  3. Evangelia S

    June 17, 2014 at 11:44 am

    Nim : 135030300111014
    Prodi : Bisnis internasional b
    Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi, memberi contoh kepada pengikutnya untuk mencapai tujuan organisasi. Sebagaimana layaknya pemimpin harus dapat memiliki prinsip dan karakter untuk memimpin bawahannya. Karisma, karakter, prinsip, tujuan, visi misi, kepedulian dan rasa tanggungjawab merupakan hal hal yang harus dimiliki oleh pemimpin. Seorang pemimpin juga bukan sekadar pemegang otoritas dan jabatan, tetapi juga inspirator, motivator dan maximizer serta pemberi semangat. Seorang pemimpin selayaknya tidak hanya menuntut pujian ataupun hormat. Pemimpin yang baik memiliki pemikiran apa yang dapat saya lakukan untuk orang yang saya pimpin bukan sebaliknya.
    Beberapa sikap yang seharusnya dimiliki pemimpin antara lain :
    1. Confident /percaya diri
    2. Visi/ tujuan dalam memimpin
    3. Idealisme/ konsistensi pemikiran
    4. Tanggungjawab
    5. Merakyat
    6. Tidak egois
    7. Bermartabat

     
  4. Amelia Rahma Iresa

    June 25, 2014 at 12:58 pm

    Na,a: Amelia Rahma Iresa
    NIM: 115030207111043
    kelas:Seminar MSDM B

    1. Apakah Anda yakin bahwa diagnosis dan hasil profil yang disiapkan oleh Management Analysis Corporation merupakan langkah yang harus ditempuh dalam proses mencari kelompok manajer umum yang mempunyai potensi berhasil baik? Jelaskan
    Yakin karena penelitian variabel lingkungan dan profil gaya kepemimpinan yang dimiliki Joe Morris cukup memenuh tuntutan situasional perusahaan. Manajer dengan gaya kepemimpinannya berpengaruh dalam menentukan Strategi Perusahaan baik jangka panjang maupun jangka pendek. Menurut saya, MAC telah melakukan prroses rekruitmen yang tepat. Dengan pencarian intern, calon manajer umum telah mengetahui situasi dan kondisi perusahaan sehingga mereka dapat mengatasi permasalahan perusahaan sesuai gaya kepemimpinan yang mereka miliki.
    Situasi dan kondisi lingkungan selalu berubah-ubah dapat mengakibatkan atau mempengaruhi perusahaan dalam mengambil keputusan, baik itu kesempatan yang menguntungkan, ancaman atau resiko yang merugikan. Perusahaan dituntut untuk selalu bersikap tanggap dan mampu mengikuti serta menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara yang sistematis untuk menilai situasi dan kondisi di sekitar perusahaan. Dari kebutuhan inilah lahir konsep analisis SWOT yang memiliki peranan penting dalam menetapkan strategi yang digunakan perusahaan, dengan memanfaatkan kesempatan yang berlandaskan pada kekuatan yang dimiliki perusahaan, mengatasi ancaman yang datang dari luar, serta memperbaiki kelemahan yang ada.
    Dengan demikian, manajer umum dapat menentukan ke mana arah perusahaan itu berjalan. Gaya kepemimpinan merupakan faktor utama dalam menentukan keberlangsungan suatu perusahaan. Pemimpin yang dianggap handal atau efektif adalah penggerak utama dalam memotivasi setiap elemen perusahaan dalam menuju pencapaian target bisnisnya. Pada prinsipnya seorang pemimpin yang efektif mampu menerapkan berbagai macam gaya kepempinan sesuai dengan konteks dan kebutuhan bisnis dalam mengantisipasi lingkungan yang dinamis dan berubah dengan cepat.

    2. Alternatif-alternatif apakah yang tersedia untuk memodifikasi efektivitas potensial dari Joe Morris dalam posisi manajer umum yang baru itu?
    Para manajer adalah pelaku utama dalam proses penyusunan strategi. Manajer secara individu harus mengambil tanggungjawab untuk menformulasikan strategi untuk mencapai keunggulan kompetitif dan menerapkan strategi tersebut, untuk memodifikasi efektivitas potensial Joe Morris harus memimpin proses penyusunan strategi.
    Sifat kompleks dan dinamis organisasi serta lingkungan saat ini memerlukan kecakapan kepemimpinan yang signifikan. Mendominasi fokus dalam pengembangan Sumber Daya Manusia menghasilkan pemimpin efektif yang nantinya membuat perbedaan dalam banyak organisasi. Namun, agar organisasi sepenuhnya mengembangkan kemampuan kepemimpinan, diharapkan calon manajer umum dapat memelihara aktif elemen modal sosial seperti membangun hubungan, mendorong kepercayaan, niat baik, dan timbal balik.
    Dengan kesiapan sikap dan perilaku, Manajer harus mampu menembus ketidakpastian menjadi peluang, oleh karena itu membangun kebiasaan yang produktif merupakan kunci menuju sukses dalam menembus masalah yang ditimbulkan oleh faktor internal dan faktor eksternal, disinilah dituntut kemampuan pemimpin mengelola dari dampak konflik dalam menanggapi kepentingan stakeholders.
    Faktor Sumber Daya Manusia, faktor manajerial dan leadership merupakan faktor yang krusial dalam pengembangan organisasi. Penempatan personal yang tepat menjadi kunci keberhasilan eksekusi suatu rencana. Rencana sebagus apapun dapat gagal dalam implementasi karena faktor manusia. Dalam prosesnya, SDM sangat perlu dilakukan pengembangan untuk kelangsungan suatu organisasi dan menjamin kualitas dari organisasi.

    3. Mengapa sukar bagi Joe Morris untuk memodifikasi gaya kepemimpinannya?
    Karena terdapat hubungan yang jelas antara level kematangan orang-orang atau kelompok dengan jenis sumber kuasa yang memiliki kemungkinan paling tinggi untuk menimbulkan kepatuhan pada orang-orang tersebut. Kepemimpinan situational memandang kematangan sebagai kemampuan dan kemauan orang-orang atau kelompok untuk memikul tanggungjawab mengarahkan perilaku mereka sendiri dalam situasi tertentu. Maka, perlu ditekankan kembali bahwa kematangan merupakan konsep yang berkaitan dengan tugas tertentu dan bergantung pada hal-hal yang ingin dicapai pemimpin.
    Menurut Paul Hersey dan Ken. Blanchard, seorang pemimpin harus memahami kematangan bawahannya sehingga tidak salah dalam menerapkan gaya kepemimpinan. Tingkat kematangan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
    1.Tingkat kematangan M1 (Tidak mampu dan tidak ingin) maka gaya kepemimpinan yang diterapkan pemimpin untuk memimpin bawahan seperti ini adalah Gaya Telling (G1), yaitu dengan memberitahukan, menunjukkan, mengistruksikan secara spesifik.
    2.Tingkat kematangan M2 (tidak mampu tetapi mau), untuk menghadapi bawahan seperti ini maka gaya yang diterapkan adalah Gaya Selling/Coaching, yaitu dengan Menjual, Menjelaskan, Memperjelas, Membujuk.
    3.Tingkat kematangan M3 (mampu tetapi tidak mau/ragu-ragu) maka gaya pemimpin yang tepat untuk bawahan seperti ini adalah Gaya Partisipatif, yaitu Saling bertukar Ide & beri kesempatan untuk mengambil keputusan.
    4.Tingkat kematangan M4 (Mampu dan Mau) maka gaya kepemimpinan yang tepat adalah Delegating, mendelegasikan tugas dan wewenang dengan menerapkan system control yang baik.
    Pemimpin tidak akan pernah ada tanpa bawahan dan bawahan juga tidak akan ada tanpa pemimpin. Kedua komponen dalam organisasi ini merupakan sinergi dalam perusahaan dalam rangka mencapai tujuan. Dengan demikian seorang manajer harus mengenal dan mengetahui tipe bawahannya (kematangan dan kesediaan) agar tidak sukar dalam memakai gaya kepemimpinan yang sesuai.

     
  5. Abdiel Remlaya

    September 24, 2014 at 5:33 pm

    Kepemimpinan..
    Adalah jiwa besar yang dimiliki oleh seorang individu dalam menaungi dan mengayomi bawahan maupun atasannya dengan penuh dedikasi dan integritas..
    Pemimpin adalah mereka yang mau melewati semua proses yang ada dalam dirinya dan pemimpin tersebut belajar taat dan setia dalam menghadapinya proses tersebut, tidak mengeluh, mengutamakan kepentingan orang lain, menolak sesuatu yang instan meskipun hal tersebut sangant terlihat menjanjikan..
    Pemimpin juga adalah sosok yang rendah hati, tidak mau tebawa dan ikut dengan arus yang kebanyakan ditempuh oleh orang, jujur, apa adanya..
    Jiwa yang ada dalam diri seorang pemimpin adalah sosok yang penuh kepercayaan diri yang tinggi dalam dirinya, tidak berlebihan, dan tidak minder dalam menanggapi setiap kekurangan yang dia miliki..
    Dia memiliki visi yang jelas untuk kepentingan dan kebaikan orang lain, bukan hanya keegoisan diri semata. Karakternya sudah terbentuk dalam suka dan duka, dia tahu bagaimana memperlakukan hal yang baik dan mengamalkannya dengan sepenuh hati kepada orang lain tanpa ada unsur pamrih sedikitpun yang pemimpin ini harapkan..
    Pemimpin adalah mereka yang tahu tanggung jawabnya dan melakukannya dengan sukacita, meskipun hal tersebut dalam hal-hal yang sederhana dan banyak diremehkan oleh orang lain. Tentu dengan idealisme yang sudah terbentuk dalam nuranimya dan idealisme terbebut menjadi penolong baginya untuk melaksanakan dan menyelesaikan setiap tanggung jawabnya dengan baik dan setia..
    Dan yang tidak bisa dilupakan, pemimpin adalah sosok yang tahu kapan dia harus tertawa dengan orang yang berbahagia, dan tetap menjaga kebahagiaan itu utuh sepenuhnya ditangan orang yang dipimpinannya. Serta dia tahu kapan harus menangis dengan orang yang bersedih dan pemimpin ini segera mencari pelibur lara agar orang lain yang berada disekitarnya bisa selalu berbahagia dan tertawa bersama..
    Penutup dari saya..
    Pemimpin adalah sosok yang mau mengorbankan segala miliknya tanpa memperdulikan diri sendiri dan mempunyai hati yang bijaksana dalam menghadapi keterpurukan sekaligus..

    Abdiel Remalya S
    125030800111033
    Bisnis Pariwisata B
    “Kepemimpinan”

     
  6. susi karyani

    September 24, 2014 at 7:16 pm

    Susi karyani
    125030807111010
    Bisnis pariwisata B (kepemimpina )

    Kepemimpinan yaitu bukan hanya dinilai dari luar oleh orang lain tetapi kepemimpinan ialah sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari diri seseorang. Adapun bentuk kepemimpinan ada 2 macam yaitu kompensional dan sejati. Menurut yang saya baca,kepemimpinan kompensional seperti jika ada seseorang yang menjadi pemimpin dalam suatu kelompok, semakin dia dipuji maka pemimpin tsb semakin tinggi hati. Sedangkan kepemimpinan sejati adalah jika ada seorang pemimpin yang memimpin suatu kelompok, jika dia dipuji maka dia akan rendah hati dan tidak menunjukkan kelebihan yang ia miliki kepada orang lain atau tidak pamer istilahnya. Dan kepemimpinan sejati jika dia menghadapi suatu masalah, ia akan menghadapinya dengan baik,sehingga semua masalahnya cepat terselesaikan.

     
  7. IRNA HANDAYANINGRUM 125030200111064

    September 27, 2014 at 5:12 pm

    Nama: Irna Hanadayaningrum. Hubungan Industrial Kelas A
    1. Latar belakang munculnya pemikiran karl marx adalah karena situasi yang menurutnya terjadi kesenjangan antara pemilik modal dengan kaum pekerja dimana kesenjangan tersebut mengakibatkan ketidakadilan yang dialami oleh pekerja terhadap pemilik modal dimana pemilik modal mengeksploitasi pekerjanya untuk bekerja dan melanggar hak sebagai pekerja. Menurut karl marx keadaan ini harus dihentikan dengan adanya penyetaraan kelas dimana penyetaraan ini dapat dilakukan oleh kaum pekerja untuk menggulingkan kaum pemolik modal dan melahirkan revolusi untuk menhilangkan kelas-kelas pada masa itu.
    2. hubungan industrial adalah hubungan antara semua pihak yang berkepentingan tersebut. Dalam pengertian sempit, hubungan industrial diartikan sebagai hubungan antara manajemen dan pekerja atau Management-Employees Relationship.
    Hubungan Industrial adalah hubungan antara semua pihak yang tersangkut atau berkepentingan atas proses produksi atau pelayanan jasa di suatu perusahaan. Pihak yang paling berkepentingan atas keberhasilan perusahaan dan berhubungan langsung sehari-hari adalah pengusaha atau manajemen dan pekerja.
    Hubungan kerja pada dasarnya berbeda dengan hubungan industrial. Pada hubungan kerja terdapat konteks hubungan hukum privat/perdata yang mengatur hubungan antar orang perorangan, sedangkan hubungan industrial menyangkut hubungan yang lebih luas karena tidak hanya mengatur hubungan antar orang perorangan, tetapi sudah menyangkut hukum public yang dapat menyertakan unsur Pemerintah dalam usaha perlindungan hukum bagi pekerja.
    3. Sarana Hubungan Industria
    1. Serikat pekerja/serikat buruh
    Serikat pekerja/serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.
    2. Organisasi pengusaha
    Sama halnya dengan pekerja, para pengusaha juga mempunyai hak dan kebebasan untuk membentuk atau menjadi anggota organisasi atau asosiasi pengusaha. Asosiasi pengusaha sebagai organisasi atau perhimpunan wakil pimpinan perusahaan-perusahaan merupakan mitra kerja serikat pekerja dan Pemerintah dalam penanganan masalah-masalah ketenagakerjaan dan hubungan industrial. Asosiasi pengusaha dapat dibentuk menurut sektor industri atau jenis usaha, mulai dari tingkat lokal sampai ke tingkat kabupaten, propinsi hingga tingkat pusat atau tingkat nasional.
    3. Lembaga kerja sama bipartit
    Lembaga kerja sama bipartit adalah forum komunikasi dan konsultasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial di satu perusahaan yang anggotanya terdiri dari pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh yang sudah tercatat instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan atau unsur pekerja/buruh. Setiap perusahaan yang mempekerjakan 50 (lima puluh) orang pekerja/buruh atau lebih wajib membentuk lembaga kerja sama bipartit.
    4. Lembaga kerja sama tripartit
    Lembaga kerja sama tripartit adalah forum komunikasi, konsultasi dan musyawarah tentang masalah ketenagakerjaan yang anggotanya terdiri dari unsur organisasi pengusaha, serikat pekerja/serikat buruh dan pemerintah. Lembaga Kerja sama Tripartit terdiri dari:
    1. Lembaga Kerja sama Tripartit Nasional, Provinsi dan Kabupataen/Kota; dan
    2. Lembaga Kerja sama Tripartit Sektoral Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.
    3. Peraturan perusahaan;
    Peraturan perusahaan adalah peraturan yang dibuat secara tertulis oleh pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja dan tata tertib perusahaan. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orang wajib membuat peraturan perusahaan yang mulai berlaku setelah disahkan oleh Menteri atau Pejabat yang ditunjuk.
    5. Perjanjian kerja bersama
    Perjanjian kerja bersama adalah perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban kedua belah pihak.
    6. Peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan
    Peraturan-perundangan ketenagakerjaan pada dasarnya mencakup ketentuan sebelum bekerja, selama bekerja dan sesudah bekerja. Peraturan selama bekerja mencakup ketentuan jam kerja dan istirahat, pengupahan, perlindungan, penyelesaian perselisihan industrial dan lain-lain.
    7. Lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial
    Perselisihan hubungan industrial diharapkan dapat diselesaikan melalui perundingan bipartit, Dalam hal perundingan bipartit gagal, maka penyelesaian dilakukan melalui mekanisme mediasi atau konsiliasi. Bila mediasi dan konsiliasi gagal, maka perselisihan hubungan industrial dapat dimintakan untuk diselesaikan di Pengadilan Hubungan Industrial.
    syarat dan prosedur pendirian SP adalah:
    1. Ada setidaknya 10 orang anggota;
    2. Pembuatan AD/ART;
    3. Pencatatan di Dinas Tenaga Kerja dari pemerintah Kabupaten atau walikotamadya setempat;
    4. Pemberitahuan ke pihak perusahaan mengenai keberadaan SP.

     
  8. Agnes Yosephine Saragih

    September 28, 2014 at 7:32 am

    Latar Belakang Munculnya Hubungan Industrial

    Pengertian Hubungan Industrial
    Hubungan industrial adalah hubungan antara semua pihak yang tersangkut atau berkepentingan atas proses produksi atau pelayanan jasa di suatu perusahaan. Pihak yang paling berkepentingan atas keberhasilan perusahaan dan berhubungan langsung sehari-hari adalah pengusaha atau manajemen dan pekerja. Disamping itu masyarakat juga mempunyai kepentingan, baik sebagai pemasok faktor produksi yaitu barang dan jasa kebutuhan perusahaan, maupun sebagai masyarakat konsumen atau pengguna hasil-hasil perusahaan tersebut. Pemerintah juga mempunyai kepentingan langsung dan tidak langsung atas pertumbuhan perusahaan, antara lain sebagai sumber penerimaan pajak. Jadi hubungan industrial adalah hubungan antara semua pihak yang berkepentingan tersebut. Dalam pengertian sempit, hubungan industrial diartikan sebagai hubungan antara manajemen dan pekerja atau Management-Employees Relationship.

    Prinsip Hubungan Industrial
    Prinsip hubungan industrial didasarkan pada persamaan kepentingan semua unsur atas keberhasilan dan kelangsungan perusahaan. Hubungan industrial mengandung prinsip-prinsip berikut ini:
    1. Pengusaha dan pekerja, demikian Pemerintah dan masyarakat pada umumnya, sama-sama mempunyai kepentingan atas keberhasilan dan kelangsungan perusahaan.
    2. Perusahaan merupakan sumber penghasilan bagi banyak orang.
    3. Pengusaha dan pekerja mempunyai hubungan fungsional dan masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda dalam pembagian kerja atau pembagian tugas
    4. Pengusaha dan pekerja merupakan anggota keluarga perusahaan.
    5. Tujuan pembinaan hubungan industrial adalah menciptakan ketenangan berusahan dan ketentraman bekerja supaya dengan demikian dapat meningkatkan produktivitas perusahaan.
    6. Peningkatan produktivitas perusahaan harus dapat meningkatkan kesejahteraan bersama, yaitu kesejahteraan pengusaha dan kesejahteraan pekerja.

    Tokoh dalam Sosiologi Industri
    Ada tiga tokoh sosiologi industri yaitu; Karl Marx sebagai inspirasi dominan dibalik “fungsionalisme struktural”. Durkheim sebagai akar dari pandangan varian-varian modern dari fenomenologi. Dan Max Weber yang walau tidak secara eksplisit menyebut “hubungan-hubungan industrial”, ia menyangkal assumsi para ekonom para ekonom yang berargumen bahwa: kondisi karakteristik produksi kapitalisme dapat diatributkan pada segala tipe ekonomi. Premis-premis pertukaran ekonomis (pengejaran profit) yang dianggap sebagai karakteristik natural manusia.

    Teori Dialektika Karl Marx
    Formasi pertukaran ekonomis adalah hasil dari sebuah proses historis, sehinggga Kapitalisme merupakan bentuk sistem produksi yang khas dalam sejarah manusia (karena masih ada sistem produksi lain tertentu dari sistem produksi). Obyek-obyek fisik membentuk elemen-elemen di dalam suatu rangkaian yang pasti dari modal, komoditi, harga hubungan-hubungan sosial. Aktivitas produksi merupakan hubungan dialektis antara kekuatan produksi (produktive forces) dan hubungan-hubungan produksi sebagai basis atau substruktur. Superstrukturnya adalah: ideologi, hukum, religi, institusi-institusi politik, dan budaya. Yang dimaksud dengan kekuatan produksi adalah cara-cara material maupun tenaga manusia dalam produksi. Sehingga kondisi kekuatan produksi akan membawa kepada modus produksi tertentu. Hubungan-hubungan produksi tidak hanya eksis antara manusia dengan alam, tetapi juga antara manusia dengan manusia lainnya.
    Hubungan produksi terbentuk dari kepemilikan ekonomis atas kekuatan produktif. Kapitalis memiliki alat produksi, buruh hanya memiliki tenaga kerja. Artinya; buruh bergantung pada para kapitalis yang mengakibatkan modus kapitalis dalam produksi berakibat pada pembagian kelas antara kelas pekerja atau proletariat dengan kelas kapitalis atau borjuis. Hubungan kelas ini menjadi konfliktual karena para buruh dipaksa menjalin hubungan yang tidak sederajat.

    Teori Pembagian Kerja Durkheim
    Durkheim tidak secara langsung berbicara mengenai fenomena yang berhubungan dengan ruang produksi industri manufaktur, tetapi berkaitan dengan perkembangan umum masyarakat industrial modern. Konsep Durkheim tentang “pembagian kerja” (division of labour) sebenarnya adalah konsep dari pemikir terdahulu dalam studinya tentang proses produksi industrial. Masyarakat memiliki properti spesifik yang dapat dipisahkan dari milik anggota individualnya. Masyarakat terikat menjadi suatu kesatuan bukan karena hubungan material, tetapi karena pertalian ide-ide, perasaan, kepercayaan moral tradisional, dan cita-cita membentuk warisan budaya para anggota masyarakat tersebut.
    Perubahan sosial dapat dideskripsikan dengan membedakan menjadi 2 (dua) tipe solidaritas sosial; solidaritas mekanis dan solidaritas organis.
    o Solidaritas mekanis didasarkan pada homogenitas moral dan sosial, sehingga berciri; tradisional, non individualistik/komunal, keadilan kolektif, properti bersifat komunal, kehendak komunitas mendominai kehendak individu, kekerabatan, lokalisme, sakral.
    o Solidaritas organis, masyarakat didasarkan pada individu-individu dengan fungsi yang berbeda yang dipersatukan oleh peran-peran komplementer. Sehingga berciri; personal, kesamaan kesempatan serta kesederajatan, regulasi kooperasi serta pertukaran, keseimbangan tugas dan kewajiban dan, otonomi berserikat.
    Durkheim memandang pabrik dalam kerangka kerjanya dengan analogi organis. Organisasi industrial adalah bagian dari sistem sosial atau sosio-teknis (dari suatu pabrik).

    Teori Birokrasi Max Webber
    Rasionalisasi sebagai dasar terjadinya perubahan sosial. Hubungan-hubungan sosial mempengaruhi serta dipengaruhi oleh pertumbuhan rasionalisasi. selanjutnya menentukan arah/bentuk pada hubungan sosial dengan (institusi). Tingkah laku kapitalis rasional menimbulkan konsekuensi dalam wilayah organisasi sosial yang kemudian menyuburkan persebaran birokrasi. Pembagian kerja yang terdiferensiasi mengkarakterisasikan kapitalisme. Sistem kelas yang muncul sebagai akibat dari pembagian kerja ditandai oleh birokrasi sebagai nuansa kapitalisme modern yang paling integral. Setiap bentuk organisasi yang memiliki hierarki serta otoritas dapat menjadi subjek sebuah proses expropriation (pengambil alihan/penggantian) “alat produksi” dimana dalam istilah Marx, disebut dengan “alat administrasi”. Kemajuan birokratisasi menunjukkan “tekanan” antara tuntutan efisiensi teknologi administrasi vs nilai-nilai manusia mengenai spontanitas serta otonomi. Pada akhirnya birokrasi akan membentuk “sangkar besi” (iron cage) yang membatasi kebebasan dalam kapitalisme modern.

     
  9. Agnes Yosephine Saragih

    September 28, 2014 at 7:34 am

    Nama : Agnes Yosephine SAragih
    Nim : 125030207111004
    Mata kulih : Hubungan Industrial (A)
    Jurusan : Administrasi Bisnis

    Latar Belakang Munculnya Hubungan Industrial

    Pengertian Hubungan Industrial
    Hubungan industrial adalah hubungan antara semua pihak yang tersangkut atau berkepentingan atas proses produksi atau pelayanan jasa di suatu perusahaan. Pihak yang paling berkepentingan atas keberhasilan perusahaan dan berhubungan langsung sehari-hari adalah pengusaha atau manajemen dan pekerja. Disamping itu masyarakat juga mempunyai kepentingan, baik sebagai pemasok faktor produksi yaitu barang dan jasa kebutuhan perusahaan, maupun sebagai masyarakat konsumen atau pengguna hasil-hasil perusahaan tersebut. Pemerintah juga mempunyai kepentingan langsung dan tidak langsung atas pertumbuhan perusahaan, antara lain sebagai sumber penerimaan pajak. Jadi hubungan industrial adalah hubungan antara semua pihak yang berkepentingan tersebut. Dalam pengertian sempit, hubungan industrial diartikan sebagai hubungan antara manajemen dan pekerja atau Management-Employees Relationship.

    Prinsip Hubungan Industrial
    Prinsip hubungan industrial didasarkan pada persamaan kepentingan semua unsur atas keberhasilan dan kelangsungan perusahaan. Hubungan industrial mengandung prinsip-prinsip berikut ini:
    1. Pengusaha dan pekerja, demikian Pemerintah dan masyarakat pada umumnya, sama-sama mempunyai kepentingan atas keberhasilan dan kelangsungan perusahaan.
    2. Perusahaan merupakan sumber penghasilan bagi banyak orang.
    3. Pengusaha dan pekerja mempunyai hubungan fungsional dan masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda dalam pembagian kerja atau pembagian tugas
    4. Pengusaha dan pekerja merupakan anggota keluarga perusahaan.
    5. Tujuan pembinaan hubungan industrial adalah menciptakan ketenangan berusahan dan ketentraman bekerja supaya dengan demikian dapat meningkatkan produktivitas perusahaan.
    6. Peningkatan produktivitas perusahaan harus dapat meningkatkan kesejahteraan bersama, yaitu kesejahteraan pengusaha dan kesejahteraan pekerja.

    Tokoh dalam Sosiologi Industri
    Ada tiga tokoh sosiologi industri yaitu; Karl Marx sebagai inspirasi dominan dibalik “fungsionalisme struktural”. Durkheim sebagai akar dari pandangan varian-varian modern dari fenomenologi. Dan Max Weber yang walau tidak secara eksplisit menyebut “hubungan-hubungan industrial”, ia menyangkal assumsi para ekonom para ekonom yang berargumen bahwa: kondisi karakteristik produksi kapitalisme dapat diatributkan pada segala tipe ekonomi. Premis-premis pertukaran ekonomis (pengejaran profit) yang dianggap sebagai karakteristik natural manusia.

    Teori Dialektika Karl Marx
    Formasi pertukaran ekonomis adalah hasil dari sebuah proses historis, sehinggga Kapitalisme merupakan bentuk sistem produksi yang khas dalam sejarah manusia (karena masih ada sistem produksi lain tertentu dari sistem produksi). Obyek-obyek fisik membentuk elemen-elemen di dalam suatu rangkaian yang pasti dari modal, komoditi, harga hubungan-hubungan sosial. Aktivitas produksi merupakan hubungan dialektis antara kekuatan produksi (produktive forces) dan hubungan-hubungan produksi sebagai basis atau substruktur. Superstrukturnya adalah: ideologi, hukum, religi, institusi-institusi politik, dan budaya. Yang dimaksud dengan kekuatan produksi adalah cara-cara material maupun tenaga manusia dalam produksi. Sehingga kondisi kekuatan produksi akan membawa kepada modus produksi tertentu. Hubungan-hubungan produksi tidak hanya eksis antara manusia dengan alam, tetapi juga antara manusia dengan manusia lainnya.
    Hubungan produksi terbentuk dari kepemilikan ekonomis atas kekuatan produktif. Kapitalis memiliki alat produksi, buruh hanya memiliki tenaga kerja. Artinya; buruh bergantung pada para kapitalis yang mengakibatkan modus kapitalis dalam produksi berakibat pada pembagian kelas antara kelas pekerja atau proletariat dengan kelas kapitalis atau borjuis. Hubungan kelas ini menjadi konfliktual karena para buruh dipaksa menjalin hubungan yang tidak sederajat.

    Teori Pembagian Kerja Durkheim
    Durkheim tidak secara langsung berbicara mengenai fenomena yang berhubungan dengan ruang produksi industri manufaktur, tetapi berkaitan dengan perkembangan umum masyarakat industrial modern. Konsep Durkheim tentang “pembagian kerja” (division of labour) sebenarnya adalah konsep dari pemikir terdahulu dalam studinya tentang proses produksi industrial. Masyarakat memiliki properti spesifik yang dapat dipisahkan dari milik anggota individualnya. Masyarakat terikat menjadi suatu kesatuan bukan karena hubungan material, tetapi karena pertalian ide-ide, perasaan, kepercayaan moral tradisional, dan cita-cita membentuk warisan budaya para anggota masyarakat tersebut.
    Perubahan sosial dapat dideskripsikan dengan membedakan menjadi 2 (dua) tipe solidaritas sosial; solidaritas mekanis dan solidaritas organis.
    o Solidaritas mekanis didasarkan pada homogenitas moral dan sosial, sehingga berciri; tradisional, non individualistik/komunal, keadilan kolektif, properti bersifat komunal, kehendak komunitas mendominai kehendak individu, kekerabatan, lokalisme, sakral.
    o Solidaritas organis, masyarakat didasarkan pada individu-individu dengan fungsi yang berbeda yang dipersatukan oleh peran-peran komplementer. Sehingga berciri; personal, kesamaan kesempatan serta kesederajatan, regulasi kooperasi serta pertukaran, keseimbangan tugas dan kewajiban dan, otonomi berserikat.
    Durkheim memandang pabrik dalam kerangka kerjanya dengan analogi organis. Organisasi industrial adalah bagian dari sistem sosial atau sosio-teknis (dari suatu pabrik).

    Teori Birokrasi Max Webber
    Rasionalisasi sebagai dasar terjadinya perubahan sosial. Hubungan-hubungan sosial mempengaruhi serta dipengaruhi oleh pertumbuhan rasionalisasi. selanjutnya menentukan arah/bentuk pada hubungan sosial dengan (institusi). Tingkah laku kapitalis rasional menimbulkan konsekuensi dalam wilayah organisasi sosial yang kemudian menyuburkan persebaran birokrasi. Pembagian kerja yang terdiferensiasi mengkarakterisasikan kapitalisme. Sistem kelas yang muncul sebagai akibat dari pembagian kerja ditandai oleh birokrasi sebagai nuansa kapitalisme modern yang paling integral. Setiap bentuk organisasi yang memiliki hierarki serta otoritas dapat menjadi subjek sebuah proses expropriation (pengambil alihan/penggantian) “alat produksi” dimana dalam istilah Marx, disebut dengan “alat administrasi”. Kemajuan birokratisasi menunjukkan “tekanan” antara tuntutan efisiensi teknologi administrasi vs nilai-nilai manusia mengenai spontanitas serta otonomi. Pada akhirnya birokrasi akan membentuk “sangkar besi” (iron cage) yang membatasi kebebasan dalam kapitalisme modern.

     
  10. Agnes Yosephine Saragih

    September 28, 2014 at 7:35 am

    Nama : Agnes Yosephine Saragih
    Nim : 125030207111004
    Mata kulih : Hubungan Industrial (A)
    Jurusan : Administrasi Bisnis

    Hubungan Perburuhan

    Hubungan industrial secara sempit memiliki pengertian adalah suatu hubungan forma antara kelompok manajemen dan kelompok pekerja didalam suatu organisasi. Istilah hubungan industrial merupakan terjemahan dari “labour relation” atau hubungan perburuhan. Istilah ini pada awalnya menganggap bahwa hubungan perburuhan hanya membahas masalah-masalah hubungan antara pekerja/buruh dan pengusaha. Seiring dengan perkembangan dan kenyataan yang terjadi di lapangan bahwa masalah hubungan kerja antara pekerja/buruh dan pengusaha ternyata juga menyangkut aspek-aspek lain yang luas. Dengan demikian, Abdul Khakim (2009) menyatakan hubungan perburuhan tidaklah terbatas hanya pada hubungan antara pekerja/buruh dan pengusaha, tetapi perlu adanya campur tangan pemerintah. Umumnya para pekerja berada dalam posisi lemah dalam memperjuangkan haknya sebagai pekerja. Maka dari itu muncullah sebuah gerakan serikat pekerja.
    Dimana Serikat pekerja/buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh dan untuk pekerja/buruh baik didalam organisasi maupun diluar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggungjawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak-hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.

    Latar belakang munculnya serikat pekerja adalah sebagai berikut:
    1) Revolusi Industri
    Berawal pada abad ke 18 di Negara Inggris kemudian merambah ke seluruh Eropa, Amerika Utara, dan akhirnya dunia. Dimana terjadinya perubahan besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi memiliki dampak yang mendalam dari sisi sosial, ekonomi dan budaya di dunia. Sebagai akibat banyaknya penemuan baru (mesin uap, lokomotif, dll), jumlah produksi dan cara mentransportasikan komoditas berubah tajam. Dengan berbagai mesin mekanis, banyak pabrik bisa berdiri dan mereka bisa memproduksi banyak komoditas yang sebelumnya belum pernah terjadi saat menggunakan tenaga kerja manusia.
    2) Perubahan sistem feodalisme yang statis menjadi hubungan yang dinamis
    Feodalisme adalah struktur pendelegasian kekuasaan sosiopolitik yang dijalankan kalangan bangsawan/monarki untuk mengendalikan berbagai wilayah yang diklaimnya melalui kerja sama dengan pemimpin-pemimpin lokal sebagai mitra. Istilah feodalisme sendiri dipakai sejak abad ke-17 dan oleh pelakunya sendiri tidak pernah dipakai. Semenjak tahun 1960-an, para sejarawan memperluas penggunaan istilah ini dengan memasukkan pula aspek kehidupan sosial para pekerja lahan di lahan yang dikuasai oleh tuan tanah, sehingga muncul istilah “masyarakat feodal”.
    3) Adanya gerakan pengembangan kemanusiaan (human movement)
    Raymond Miles menyatakan bahwa pendekatan hubungan kemanusiaan secara sederhana menempatkan karyawan sebagai manusia, tidak sebagai mesin yang dipergunakan dalam berproduksi; memahami kebutuhan-kebutuhan manusia yang ingin dianggap ada dan merasa diperhatikan dengan cara didengarkan dan diperhatikan keluhan-keluhannya jika memungkinkan, dan melibatkan mereka dalam penambilan-pengambilan keputusan tertentu baik mengenai kondisi pekerjaannya atau masalah-masalah lainnya. Kesemuanya ini yang kemudian akan meningkatkan semangat kerja karyawan dalam bekerja sama untuk mencapai produksi yang lebih baik. Pada sejarah hubungan kemanusiaan ini terdapat tiga kejadian yang memberikan kontribusinya dalam penelaahan ilmu perilaku organisasi. Tiga kejadian itu antara lain: masa depresi, gerakan serikat pekerja, dan teori penemuan Hawthorne.
    4) Perubahan produksi barang dan jasa beralihtangan dari perseorangan menjadi industri

    Tujuan didirikannya serikat buruh ialah untuk memberikan perlindungan, pembelaan hak dan kepentingan, serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja/buruh dan keluarganya. Untuk mencapai tujuan serikat buruh sebagaimana yang dimaksutkan diatas, maka serikat buruh/ pekerja mempunyai fungsi sebagai berikut:
    1. sebagai pihak dalam pembuatan perjanjian kerja bersama dan penyelesaian perselisihan industrial.
    2. sebagai wakil pekerja/buruh dalam lembaha kerja sama dibidang ketenagakerjaan sesuai dengan tingkatannya;
    3. sebagai sarana menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan sesuai dengan peraaturan perundang-undangan yang berlaku;
    4. sebagai sarana penyalur aspirasi dalam memperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya;
    5. sebagai perencana, pelaksana, dan penanggung jawab pemogokan pekerja/buruh sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
    6. sebagai wakil pekerja/buruh dalam memperjuangkan kepemilikan saham dalam perusahaan.
    Sedangkan fungsi serikat pekerja adalah mewakili kebutuhan-kebutuhan pekerja untuk memenuhi hal-hal substansial yaitu hak untuk ikut mengembangkan organisasi, menjalankan pekerjaan sesuai dengan kewajibannya, menjaga ketertiban demi kelangsungan produksi, menyalurkan aspirasi secara demokratis, mengembangkan ketrampilan, dan keahliannya serta ikut memajukan perusahaan dan memperjuangkan kesejahteraan anggota beserta keluarganya.