RSS
 

Artikel dan Penelitian

jendela jauhari

Leave a Reply

 
CAPTCHA Image
*

 
  1. Agnes Yosephine Saragih

    September 28, 2014 at 7:36 am

    Nama : Agnes Yosephine Saragih
    Nim : 125030207111004
    Mata kulih : Hubungan Industrial (A)
    Jurusan : Administrasi Bisnis

    Sarana Hubungan Industrial

    Agar tertibnya kelangsungan dan suasana bekerja dalam hubungan industrial, maka perlu adanya peraturan‐peraturan yang mengatur hubungan kerja yang harmonis dan kondusif. Peraturan tersebut diharapkan mempunyai fungsi untuk mempercepat pembudayaan sikap mental dan sikap sosial Hubungan Industrial. Oleh karena itu setiap peraturan dalam hubungan kerja tersebut harus mencerminkan dan dijiwai oleh nilai‐nilai budaya dalam perusahaan, terutama dengan nilai‐nilai yang terdapat dalam Hubungan Industrial.
    Dengan demikian maka kehidupan dalam hubungan industrial berjalan sesuai dengan nilai‐nilai budaya perusahaan tersebut. Dengan adanya pengaturan mengenai hal‐hal yang harus dilaksanakan oleh pekerja dan pengusaha dalam melaksanakan hubungan industrial, maka diharapkan terjadi hubungan yang harmonis dan kondusif. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan sarana sebagaimana dimaksud dalam pasal 103 UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 bahwa hubungan industrial dilaksanakan melalui sarana sebagai berikut :
    1. Lembaga kerja sama Bipartit
    Lembaga kerja sama bipartit adalah forum komunikasi dan konsultasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial di satu perusahaan yang anggotanya terdiri dari pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh yang sudah tercatat instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan atau unsur pekerja/buruh. Setiap perusahaan yang mempekerjakan 50 (lima puluh) orang pekerja/buruh atau lebih wajib membentuk lembaga kerja sama bipartit.

    2. Lembaga kerja sama Tripartit
    Lembaga kerja sama tripartit adalah forum komunikasi, konsultasi dan musyawarah tentang masalah ketenagakerjaan yang anggotanya terdiri dari unsur organisasi pengusaha, serikat pekerja/serikat buruh dan pemerintah. Lembaga Kerja sama Tripartit terdiri dari:
    1. Lembaga Kerja sama Tripartit Nasional, Provinsi dan Kabupataen/Kota; dan
    2. Lembaga Kerja sama Tripartit Sektoral Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.
    3. Peraturan perusahaan;
    Peraturan perusahaan adalah peraturan yang dibuat secara tertulis oleh pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja dan tata tertib perusahaan. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orang wajib membuat peraturan perusahaan yang mulai berlaku setelah disahkan oleh Menteri atau Pejabat yang ditunjuk.

    3. Organisasi Pekerja atau Serikat Pekerja/Buruh
    Serikat pekerja/serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.

    4. Organisasi Pengusaha
    Sama halnya dengan pekerja, para pengusaha juga mempunyai hak dan kebebasan untuk membentuk atau menjadi anggota organisasi atau asosiasi pengusaha. Asosiasi pengusaha sebagai organisasi atau perhimpunan wakil pimpinan perusahaan-perusahaan merupakan mitra kerja serikat pekerja dan Pemerintah dalam penanganan masalah-masalah ketenagakerjaan dan hubungan industrial. Asosiasi pengusaha dapat dibentuk menurut sektor industri atau jenis usaha, mulai dari tingkat lokal sampai ke tingkat kabupaten, propinsi hingga tingkat pusat atau tingkat nasional.

    5. Lembaga keluh kesah & penyelesaian perselisihan hubungan industrial
    Perselisihan hubungan industrial diharapkan dapat diselesaikan melalui perundingan bipartit, Dalam hal perundingan bipartit gagal, maka penyelesaian dilakukan melalui mekanisme mediasi atau konsiliasi. Bila mediasi dan konsiliasi gagal, maka perselisihan hubungan industrial dapat dimintakan untuk diselesaikan di Pengadilan Hubungan Industrial.

    6. Perjanjian Kerja Bersama
    Perjanjian kerja bersama adalah perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban kedua belah pihak.

    7. Perjanjian Kerja Khusus
    Peraturan-perundangan ketenagakerjaan pada dasarnya mencakup ketentuan sebelum bekerja, selama bekerja dan sesudah bekerja. Peraturan selama bekerja mencakup ketentuan jam kerja dan istirahat, pengupahan, perlindungan, penyelesaian perselisihan industrial dan lain-lain.

     
  2. Agnes Yosephine Saragih

    October 6, 2014 at 10:21 pm

    Nama : Agnes Yosephine Saragih
    Nim : 125030207111004
    Mata kulih : Hubungan Industrial (A)
    Jurusan : Administrasi Bisnis

    Teori Hubungan Industrial
    Menurut Schneider teori adalah sekelompok konsep-konsep yang saling berkaitan, yang dirancang untuk menganalisi operasi dari suatu irisan realitas. Teorikus hubungan industrial menjelaskan tiga perspektif teori besar dalam memahami dan menganalisis hubungan-hubungan di tempat bekerja yaitu unitarism, pluralist, dan radical.
    • Unitarism : menganggap organisasi sebagai sesuatu yang terintegrasi harmoni sebagai satu keluarga, dimana manajemen dan karyawan memiliki satu tujuan yang sama, menekankan kerjasama yang saling menguntungkan.
    • Pluralist : teori ini mengatakan bahwa organisasi terdiri dari sub-sub kelompok dengan kepentingan yang kuat dan berbeda. Sub kelompok adalah manajemen dan kelompok pekerja.
    • Radical : memandang bahwa hubungan industrial sebagai konflik struktural yang sifatnya abadi antara pekerja dan pengusaha. Konflik terjadi karena perbedaan fungsi pekerja dan pengusaha juga karena ketimpangan ekonomi.

    Pendekatan hubungan industrial
    Pendekatan dalam sistem hubungan industrial antara negara yang satu dengan negara yang lain berbeda-beda sesuai dengan sejumlah pengaruh yang ditimbulkan oleh keadaan masing-masing negara. Sundono mengatakan pendekatan hubungan industrial terbagi menjadi:
    1. Pendekatan kegunaan (utility approach)
    Yaitu sistem hubungan industrial yang didasarkan pada nilai kegunaan tenaga kerja. Tenaga kerja akan bekerja dengan maksimal dan efisien apabila pihak pengusaha mau membayar upah yang tinggi dan memberikan jaminan sosial yang memadai. Tenaga kerja yang dibutuhkan pun harus sesuai dengan job description perusahaan inginkan agar mampu bekerja seefisien mungkin. Maka masing-masing pekerja bekerja sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
    2. Pendekatan demokrasi (democratic approach)
    Yaitu sistem hubungan industrial yang mengutamakan adanya konsultasi dan musyawarah antara pengusaha dan pekerja. Pekerja dipandang sebagai mitra produksi dan dilibatkan dalam menetepkan kebijakan melalui musyawarah.
    3. Pendekatan kemanusiaan (humantarian approach)
    Yaitu sistem hubungan industrial yang memandang pekerja sebagai manusia seutuhnya. Pekerja diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai perasaan, keinginan dan cita-cita yang beragam.
    4. Pendekatan komitmen seumur hidup (life long commitment approach)
    Yaitu sistem hubungan industrial yang didasarkan pada keharmonisan hubungan antara pengusaha dan pekerja. Pekerja akan selalu loyal pada perusahaan sepanjang hidupnya. Contoh: bekerja di kerajaan atau kesultanan seperti di Kesultanan Yogyakarta, Indonesia.
    5. Pendekatan sistem perjuangan kelas (class-struggle system approach)
    Yaitu sistem hubungan industrial yang didasarkan pada teori Karl Marx. Dimana ada kapitalis yang berkuasa atas faktor-faktor produksi dan kelas buruh yang miskin yang hanya memiliki tenaga semata sebagai pihak yang lemah. Dalam pendekatan ini pemerintah ditempatkan bukan sebagai jembatan antara kaum kapitalis dan kaum buruh/miskin tetapi sebagai kepentingan politik.

     
  3. abdiel remalya s

    October 18, 2014 at 7:51 pm

    Pendekatan Situasional terhadap Perilaku Pemimpin

    Pemimpin dan Kepemimpinan

    Penulis : Nomi Br Sinulingga

    Kepemimpinan dimulai dengan hati bukan dengan kepala.

    Pilkada, sebuah kata yang dekat sekali dengan bangsa ini pada hari-hari ini. Semua media massa memberikan infomasi terbaru tentang pilkada dari semua daerah untuk pelaksaan pemilihan kepala daerah. Tanah Karo, juga sedang mempersiapkan segala sesuatunya agar pelaksanaan pilkada bisa berlangsung dengan sukses. Milis tercinta Takasima ini juga sangat seru dan panas-panasnya dalam pembahasan pilkada dan terlebih membahas calon bupati yang akan dipilih pada pilkada nanti.
    Saya sangat tertarik dengan pembahasan pilkada di milis ini. Saya hanya sekedar mengamati dan bingung dengan beberapa posting email yang mengajak saya berfikir pemimpin seperti apakah yang terbaik untuk masyarakat Karo, yang segelintir ada dimilis ini dan menggambarkan siapa dirinya. Apakah anggota milis ini, mewakili gambaran masyarakat Karo, atau kebanyakan mewakili golongan elite intelektual dari masyarakat Karo itu sendiri, menjadi pertanyaan bagi saya. Pemimpin seperti apakah yang tepat untuk memimpin Karo, yang sebagian karakter masyarakatnya nyata di milis ini? Pemimpin seperti apakah yang akan mengubah wajah Tanah Karo, sehingga Tanah Karo yang sudah mulai panas bisa menjadi Tanah Karo Simalem lagi?
    Jeffry Wofford mengatakan, banyak pemimpin yang duduk diposisi pemimpin tapi tidak tahu bagaimana harus memimpin.
    Ada pemimpin tapi tidak ada kepemimpinan demikian kata Eka Darmaputra
    Berada dipuncak pimpinan, mungkin terlihat suatu yang membanggakan dan sangat menggiurkan untuk menjadi orang nomor satu. Tapi apakah sesuatu yang membanggakan seperti itu harus dikejar dengan semua usaha yang menggunakan otak untuk membangun proses dan menciptakan €œkesempatan€œ untuk membawa diri kepuncak pimpinan? Kepemimpinan yang dimulai dengan kepala menurut saya hanyalah seorang pemimpin gadungan. Ketika kekuasaan dan kekuatan uang memasuki pikiran, kedua hal itulah yang diandalkan untuk membawa diri menjadi seorang pemimpin. Dan akhirnya memimpin karena posisinya bukan karena kemampuan dirinya untuk memimpin.
    Kepemimpinan sangat erat dengan pengaruh. Pengaruh yang positif sehingga anak buah (masyarakat) mengikuti dan mau dipimpin. Tapi seorang pemimpin gadungan akan mengandalkan uang dan membayar orang supaya mengikutinya. Pemimpin gadungan menggunakan kekuasaannya untuk menekan orang lain supaya mengikutinya. Semua orang yang berada dibawah pemimpin seperti ini akan tertekan dan hilang kreatifitasnya
    Pemimpin harus memiliki integritas. Integritas adalah suatu prinsip yang didasarkan atas karakter, etika, agama, moral yang baik yang menyatakan siapa dia. Karena dia akan menyelaraskan itu melalui cara berpikir, berbicara, bersikap, bertindak dan mengambil keputusan (konsisten). Seseorang yang punya integritas memiliki kehidupan yang terintegrasi.
    Seorang pemimpin perlu diperhatikan kehidupannya. Apakah dia mampu memimpin keluarganya, karena itu akan menunjukkan kemampuannya memimpin komunitas yang lebih besar. Kita sudah memiliki pemimpin sebelumnya untuk dievaluasi, bagaimana dia memimpin keluarga. Pertanyaan yang bisa kita pikirkan berhasilkah kepemimpinannya akan tanah Karo?
    Selain mampu memimpin keluarga, pemimpin juga harus mampu memimpin diri sendiri. Mampu memimpin diri sendiri dalam memberi pendapat dengan sopan dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Kalau diri sendiri tidak bisa dikendalikan, bagaimanakah orang tersebut bisa memimpin satu daerah? Kaisar Nero membakar kota Roma adalah contoh yang diakibatkan pemimpin yang tidak mampu menguasai diri. Hutan di Tanah Karo semakin gundul dan tanah pertanian semakin gersang akan terjadi apabila kita memiliki pemimpin yang tidak mampu memimpin diri sendiri.
    Pemimpin yang berintegritas sangat diperlukan karena dia merupakan pribadi yang bisa dipercaya. Sehingga Visinya untuk tanah Karo bukan sesuatu mimpi saja, tetapi menjadi visi semua masyarakat Karo dan bersama-sama kita akan meraih visi itu dibawah kepemimpinannya. Kualitas penting yang perlu diperhatikan pada setiap calon pemimpin adalah, pengaruh, karakter, keahliannya tentang manusia khususnya orang Karo, semangatnya untuk tanah karo, dan kecerdasan. Kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan mental yang diperlukan untuk memproses banyak informasi, menyaringnya, mempertimbangkan semua pilihan, dan membuat keputusan yang benar.
    Kalau seorang pemimpin hanya menggunakan otaknya untuk menjadi pemimpin di tanah Karo, maka masih banyak yang perlu dibenahi dan di proses untuk membentuk pribadi yang mampu menjadi pemimpin di tanah Karo.
    Sebagai manusia, seharusnya kita tidak boleh cuek dengan situasi yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Kita harus mengambil sikap dan sekalipun seakan kita tidak memiliki pengaruh dalam pemilihan kepala daerah. Kita memiliki keluarga, mama, mami, bibi, bengkila di tanah Karo, yang mungkin tidak mengerti dengan semua pemilihan kepala daerah. Mereka hanya tahu bahwa akan dipilih kepala daerah, dan mengharapkan sesuatu yang lebih baik akan terjadi. Keluarga kita yang di kampung, mungkin tidak bisa memahami dan mengkaji calon pemimpin yang ada yang bisa mereka pilih. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk kebaikan tanah Karo. Kita perlu mengenali calon pemimpin dan memberi penilaian apakah dia mampu memimpin tanah Karo atau tidak. Kalau kemampuan calon pemimpin dalam memimpin tanah Karo perlu dipertanyakan, sebagai masyarakat Karo kita perlu mengambil sikap supaya hal yang lebih buruk dari sebelumnya tidak terjadi lagi atas tanah Karo.
    Saya tidak tahu apa yang bisa dilakukan mencegah semua hal-hal yang akan semakin memperburuk keadaan tanah Karo selain munculnya seorang pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan. Kita masih memiliki waktu untuk mencegah semua yang buruk yang bisa dihasilkan karena pemimpin gadungan yang akan menuju puncak pimpinan. Seseorang yang memimpin karena posisinya, bukan karena kepribadian dan kemampuannya untuk memimpin.
    Saya pikir dipuncak itu tidak menyenangkan, karena sendirian.
    Kepemimpinan yang dimulai dengan hati untuk kebaikan dan kemajuan tanah Karo akan lebih berpengaruh. Karena segala sesuatu yang dilakukan dengan hati yang tulus akan menyentuh hati.

    Abdiel Remalya S
    125030800111033
    Bisnis Pariwisata B, Kepemimpinan

    http://artikel.sabda.org/pemimpin_dan_kepemimpinan

     
  4. abdiel remalya s

    October 18, 2014 at 8:02 pm

    Konsep Kepimpinan

    untuk…..

    Indonesia Minim Jiwa Kepemimpinan

    Kurangnya jiwa kepemimpinan menyebabkan krisis ekonomi masih terasa di Indonesia. Selama enam tahun ini, Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia, Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan negara lain di kawasan Asia. Negara-negara tersebut sudah mampu keluar dari krisis dan menata ekonominya untuk menyambut permainan globalisasi dan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Penyebab kemajuan mereka, menurut Charlo Mamora, Managing Partner Transforma, karena adanya dukungan dari perusahaan-perusahaan yang dapat menyikapi krisis tersebut dengan arif. Demikian dilaporkan harian Media Indonesia.
    “Mereka melakukan penyelarasan pola pikir individu dan pembenahan kepemimpinan top team untuk organisasi. Kedua hal ini adalah yang paling menentukan dan membedakan suatu organisasi akan menjadi pemenang, biasa-biasa saja, atau bahkan punah,” katanya di seminar Top Team Leadership di Jakarta baru-baru ini.
    Lebih lanjut Charlo mengungkapkan, Jepang berhasil mengejar ketertinggalannya dengan Barat melalui gerakan kualitas, dan Korea mampu bersaing di pasaran internasional dengan program survival atau kuantum.
    “Indonesia sebenarnya dapat mengikuti jejak kedua bangsa itu, mengejar ketertinggalan melalui gerakan penyelarasan mindset (mindset alignment movement). Tetapi, selama pejabat pemerintah melihat dirinya sebagai penguasa bukan pelayan masyarakat, selama itu pula perubahan berarti tidak akan terjadi. Selama mentalitas guru melihat dirinya sebagai pengajar, bukan sebagai pendidik, selama itu pula kualitas sumber daya manusia kita tidak akan mengalami perubahan besar,” ucapnya.
    Begitu juga dalam dunia bisnis. Menurut Charlo, perusahaan sebagai pelaku utama harus meninjau pola pikir yang dianut. Perusahaan harus berani mengubah pola pikir yang merugikan.
    Untuk itu, ada lima hal yang harus diperhatikan.
    Pertama, adanya visi yang menantang secara bisnis dan memiliki daya pikat bagi karyawan melalui transformasi komunikasi dari pimpinan. Visi perusahaan tersebut harus melekat di semua jajaran karyawan.
    Kedua, adanya program kuantum, atau lompatan dari perusahaan untuk mencapai nilai ekonomis yang tinggi.
    Ketiga, adanya budaya dan praktik pengembangan talenta. Itu berarti, semua orang diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuannya.
    Keempat, adanya proses plan-do-check-action (PDCA) yang berjalan pada setiap organ perusahaan dan terintegrasi secara keseluruhan. Kelima, adanya bahasa persatuan kerja dan interaksi dengan pelanggan atau pihak luar organisasi yang dijalani oleh keseluruhan orang dalam organisasi.
    Kelima hal itu menurut Charlo membutuhkan tenaga yang luar biasa, tidak cukup lagi hanya dengan seorang CEO yang kuat seperti masa lalu.

    Abdiel Remalya S
    125030800111033
    Bisnis Pariwisata B, Kepemimpinan

    http://artikel.sabda.org/indonesia_minim_jiwa_kepemimpinan

     
  5. abdiel remalya s

    October 23, 2014 at 3:24 pm

    Mental Kaca atau Mental Baja

    Pada….

    Pendekatan dalam Studi Kepemimpinan

    Oleh: Ev. Sudiana

    Palu menghancurkan Kaca, tapi Palu membentuk Baja

    - Jika jiwa kita rapuh seperti Kaca, maka ketika Palu masalah menghantam kita, maka dengan mudah kita putus asa, frustasi, kecewa, marah dan jadi remuk redam.

    - Jika kita adalah Kaca, maka kita juga rentan terhadap benturan. Kita mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kita berhubungan dengan orang lain. Sedikit benturan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan kita.

    - Jangan pernah jadi Kaca, tapi jadilah Baja.

    Mental Baja adalah mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan yang benar2 sulit tengah menghimpitnya.

    - Orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik.

    - Sepotong besi Baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu diproses dan dibentuk dengan Palu.

    - Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mental Baja selalu menyadari bahwa itu baik untuk dirinya.

    - Jika hari ini kita sedang ditindas oleh masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru.

    - Jika kita adalah “Baja” kita akan selalu melihat Palu yang menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita.

    - Sebaliknya jika kita “Kaca” maka kita akan selalu melihat Palu sebagai musuh yang akan menghancurkan kita.

    Abdiel Remalya S
    125030800111033
    Bisnis Pariwisata B, Kepemimpinan

    http://artikel.sabda.org/mental_kaca_atau_mental_baja

     
  6. abdiel+remalya+s

    October 23, 2014 at 3:48 pm

    Kekuasaan dan Pengaruh

    Pengaruh Rakyat yang Berjiwa Pemimpin

    Pohon yang Subur di Pemilukada Malut

    Oleh: Sefnat A. Hontong

    Tahun 2013 termasuk salah tahun yang akan menentukan model kehidupan politik masyarakat di Maluku Utara (Malut) untuk masa waktu lima tahun ke depan (2013-2018). Tentu masing-masing orang di Malut sudah mempunyai calon yang diandalkan sesuai penilaian dan kesadarannya sebagai warga masyarakat yang mempunyai hak untuk itu. Siapakah di antara para pasangan calon Gubernur yang akan kita pilih besok, bukanlah urusan saya untuk membicarakannya. Karena hal itu murni adalah hak dan pilihan setiap orang secara pribadi berdasarkan pertimbangan yang rasional dan sadar.

    Di tengah-tengah realitas politik yang sama-sama kita rasakan atau alami hingga hari-hari belakangan ini, rasanya tidak salah jika saya mengajak kita untuk berbicara tentang apa itu ‘kedewasaan berpolitik’. Memang ada banyak elemen yang harus kita singgung jika hendak bicara tentang ‘kedewasaan berpolitik’. Apakah itu berkaitan dengan kebijakkan politik, regulasi dan penjabaran kewenangan dan kekuasaan politik, kondisi politik dan konsekuensi-konsekuensi yang diakibatkannya, bahkan juga termasuk moral dan kepribadian para penyelenggara politik itu sendiri.

    Namun oleh karena konteks kita sekarang adalah Pemilukada Malut, maka pokok yang hendak saya bicarakan ini adalah ‘kedewasaan berpolitik’ dalam kaitan dengan Pemilukada. Menurut pendapat saya, Pemilukada adalah ruang (space) bagi kita untuk menunjukkan pilihan politik kita sebagai warga yang dewasa dan berharkat martabat. Maksud saya adalah keikut-sertaan kita dalam proses Pemilukada kali ini harus benar-benar mempunyai pengaruh dan akibat yang signifikan bagi proses perubahan dan perbaikkan struktur sosial dan politik. Keterlibatan kita dalam proses Pemilukada bukan sekedar sesuatu yang rutin setiap lima tahun dilaksanakan, apalagi kalau sempat menjadi kesempatan di tengah kesempitan untuk mencari duit di tengah fenomena money politik yang sangat kuat pengaruhnya sekarang ini. Karena jika Pemilukada hanyalah sebuah rutinitas belaka dan dimanfaatkan sebagai kesempatan di tengah kesempitan karena adanya budaya dan fenomena money politic, sebaiknya tidak perlu ada Pemilukada dan sebagai warga kita tidak perlu terlibat, sebab ternyata hal-hal semacam itu adalah perbuatan yang sia-sia dan tanpa arti sama sekali.

    Saya ingin memperjelas pokok pikiran itu dengan mengibaratkannya pada symbol pohon yang subur dan sekam yang diterbangkan angin. Ada dua (2) macam karakter atau gaya hidup manusia dalam setiap sikon, termasuk dalam sikon politik, jika merujuk pada 2 (dua) symbol tersebut. Karakter yang baik adalah ibarat pohon yang subur, yang akan berbuah pada musimnya, dan tidak pernah layu, sedangkan karakter yang buruk diibaratkan seperti sekam yang ditiup angin. Pohon yang subur, berbuah pada musimnya, dan tidak pernah layu adalah gambaran dari suatu eksistensi kehidupan yang berdaya dan memberi pengaruh atau manfaat bagi yang lain. Sedangkan sekam yang kering, kosong, dan tak berisi adalah gambaran dari sebuah eksistensi hidup yang tidak berdaya, tanpa manfaat, dan tanpa pengaruh sama sekali. Ketika datang angin ia diterbangkan begitu saja, tanpa meninggalkan bekas atau tanda sedikitpun. Sangat sia-sia dan buruknya kehidupan kita jika seperti sekam yang kering, kosong, dan tak berisi. Tetapi alangkah bahagianya kita, jika kehidupan kita seperti pohon yang subur, berbuah pada musimnya, dan tak pernah layu.

    Bagi saya, gambaran tentang pohon yang subur dan sekam yang ditiup angin ini bisa menjadi peringatan tegas bagi kita dalam rangka mewujudkan hak dan kewajiban politik kita dalam proses Pemilukada pada tahun ini. Jika keikutserttaan kita sebagai warga dalam proses Pemilukada ini hanya dilihat sebagai sebuah rutinitas dan memanfaatkannya sebagai kesempatan di tengah kesempitan karena adanya budaya money politik, maka identitas kita tidak akan beda dengan sekam yang ditiupkan angin. Tetapi, jika kita sungguh-sungguh menggunakan proses Pemilukada kali ini sebagai ruang (space) bagi kita untuk menunjukkan pilihan politik kita sebagai warga yang dewasa dan berharkat martabat, maka eksistensi kita ibarat pohon yang subur, yang berbuah pada musimnya, dan tidak akan pernah layu. Mengapa? Karena pilihan dan keterlibatan kita berdampak luas bagi perubahan dan perbaikkan struktur social dan politik di daerah Maluku Utara. Karena itu, marilah kita persiapkan diri secara baik untuk memasuki proses Pemilukada di tahun ini, demi perwujudan eksistensi kita seperti pohon yang subur.

    Abdiel Remalya S
    125030800111033
    Bisnis Pariwisata B, Kepemimpinan
    http://artikel.sabda.org/pohon_yang_subur_di_pemilukada_malut

     
  7. Dimas

    September 23, 2015 at 8:33 am

    Dimas januar p.
    125030207111140
    E
    BAGAIMANA KEPEMIMPINAN SEHARUSNYA
    Dalam hakikatnya kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang mampu mempengaruhi orang dalam suatu organinsasi untuk mewujudkan visi dan misi yang sama. Namun pada dasarnya sifat pemimpin telah dimiliki oleh semua manusia yaitu memipin dirinya sendiri. Tapi banyak orang tidak mampu membaca sifat tersebut dalam dirinya.
    Terkadang dalam kenyataannya seseorang diberi amanat untuk memimpin suatu kelas atau kita bisa bilang ketua kelas itu saja masih tidak ada yang berani. Inilah yang harus dimiliki semua pemimpin yang ada dimuka bumi ini. Berani dalam membela kepentingan rakyat atau anggota, berani untuk berkorban demi kepentingan bersama, berani menolak ketidak benar yang terjadi
    Selain juga sifat berani, pemimpin juga harus mempunyai sifat yang jujur. Mungkin hal ini terlihat sepele namun apabila ini dilakukan sangat berdampak sekali bagi kehidupan, banyangkan apabila para pemimpin dinegara kita ini jujur mungkin tidak ada tikus-tikus di dalam penjara (koruptor), tidak ada anak yang putus sekolah karena masalah biaya, tidak ada ceritanya rakyat kurang mampu tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari pihak rumah sakit. Tapi apa yang terjadi sekarang sulit untuk kita sama kan dengan harapan yang kita inginkan, kita bisa lihat bagaimana calon-calon pemimpin mengorasikan janjinya saat kampanye mereka seolah-olah sudah mampu berperilaku seperti apa yang mereka janjikan. Tapi dalam banyak kejadian mereka terkena kasus penggelapan, suap, dll. Dan sekarang kita menyadari bahwa sangat sulit mencari pemipin yang benar-benar jujur. Namun harapan terus tumbuh akan hadirnya pemimpin yang jujur.
    Selain jujur pemimpin harus bisa amanah, mampu memegang atau menjalankan kepercayaan yang diberikan kepada seorang pemimpin. Hal ini juga tidak kalah penting dimiliki oleh seorang pemimpin.
    Pemimpin juga harus mempunyai rasa humble, seperti orang yang kita pimpin tidak merasa kita atasi atau kita rendahkan hal ini jarang disadari oleh setiap pemimpin, mereka seperti ada jarak dengan yang lain dan dilihat dari sinilah pemimpin dapat dikatakan berhasil atau tidak, pemimpin tersebut dapat membuat orang yang ia pimpin mau melakukan apa yang seorang pimpinan mau, dengan sukarela atau dapat dikatakan loyalitas yang tinggi. Hal ini terkadang jarang sekali pemimpin mempunyai sifat dalam gaya kepemimpinnya.
    Mempunyai pemahaman rohani yang cukup besar juga harus dimilki oleh pemimpin. Karena disemua agama tidak ada ceritannya mengajarkan hal-hal yang buruk dalam kehidupan. Sehingga pemimpin yang mempunyai kekuatan iman yang kuat yang dapat menjaga nafsu-nafsu jeleknya untuk melakukan sesuatau yang dapat merugikan orang lain dan bahkan dirinya sendiri.
    Kita tahu sangat sulit untuk menjadi pemimpin dan membuat gaya kepemimpinan yang berani, jujur, amanah, dan memiliki pemahaman rohani yang cukup besar. Tapi kita harus tanamkan bahwa pemimpin bukan sekedar pangkat ataupun jabatan, namun adalah suatu hal yang mulia atau anugrah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk dapat kita gunakan dan manfaatkan dalam kaitannya kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

     
  8. Dimas Januar Pratama/ 125030207111140

    December 16, 2015 at 5:03 am

    Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi

    Kecerdasan emosional mencerminkan bagaimana pengetahuan diaplikasikan dan dikembangkan sepanjang hidup seseorang. Pemimpin yang baik adalah yang mempunyai kecerdasan emosional, yang mampu memahami dampak perilaku personal mereka terhadap orang-orang yang ada di dalam organisasinya. Kecerdasan emosional sangat berpengaruh terhadap kepemimpinan seseorang, karena kepemimpinan yang efektif adalah yang mempunyai empat elemen kecerdasan emosional yaitu: Kesadaran diri; Manajemen diri; Kesadaran sosial dan Manajemen hubungan.
    Pemimpin besar yang mampu menggerakkan orang-orang disekitarnya, memberikan semangat dan menginspirasi, adalah mereka yang bekerja dengan melibatkan emosinya. kecerdasan emosional adalah kepastian untuk mengawali perasaan sendiri, untuk mengelola emosi dengan baik dalam diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Pemahaman akan peran kuat emosi di tempat kerjalah yang membedakan pemimpin hebat dari pemimpin-pemimpin lainnya. Ini bukan saja dilihat dari hasil nyata seperti hasil bisnis dan bertahannya orang-orang yang berbakat, tetapi juga dalam hal yang tidak nyata namun sama pentingnya, seperti moral, motivasi, dan komitmen yang lebih tinggi.
    Di dalam sejarah dan budaya mana pun, pemimpin kelompok manusia adalah seseorang yang menjadi tumpuan dalam mencari kepastian dan kejelasan ketika ketidakpastian atau ancaman, atau ketika ada tugas yang harus dilakukan. Pemimpin bertindang sebagai pembimbing emosi kelompok. Dalam organisasi modern, tugas emosi yang primordial tetap merupaka tugas terdepan di antara banyak tugas kepemimpinan lainnya. Agar primal leadership dapat bekerja demi kebaikan dan keuntungan semua ornag terletak pada kompetensi kecerdasan emosi sang pemimpin. Bagaimana pemimpin menangani dirinya sendiri dan relasi-relasinya.
    Siapa pun orang yang menjadi pemimpin emosi ia cenderung berbakat untuk bertindak sebagai penarik limbik, menarik keluar suatu daya palpabel pada otak emosi orang-orang di sekitarnya. Kecemasan ringan seorang pemimpin dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu lebih diperhatikan dan dipikirkan dengan cermat. Menurut penemuan baru tentang kepuasaan kerja, emosi yang dirasakan orang ketika mereka bekerja akan secara langsung mencerminkan kualitas yang sesungguhnya dari kehidupan kerjanya. Di bawah bimbingan pemimpin yang cerdas secara emosi, orang-orang merasakan tingkat kenyamanan yang saling menguntungkan. Mereka saling membagi ide dan saling belajar satu sama lain, membuat keputusan bersama, dan saling menyelesaikan tugas bersama.
    Keempat inti kecerdasan emosi yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, dan pengelolaan relasi. Kesadaran diri yang seringkali diabaikan di situasi bisnis, adalah landasan bagi ketiga inti lainnya. Tanpa mengenali emosi kita sendiri, kita tidak akan bisa mengelolanya, dan kurang mampu memahami emosi orang lain. Kesadaran sosial terutama empati, mendukung langkah selanjutnya dari tugas utama pemimpin, yaitu mendorong terjadinya resonansi. Dengan mengenali dan menyelaraskan diri dengan perasaan orang lain saat diperlukan, penyelarasan ini juga memungkinkan seorang pemimpin untuk merasakan nilai dan prioritas bersama yang bisa membimbing kelompok.