RSS
 

Tugas Adm. Pendidikan dan Teknologi Pendidikan

31 Oct

Tugas Mata kuliah Adm.Pendidikan dan Teknologi Pendidikan D4 Reguler dan Progsus 2014 dapat diposting di comments berikut

 

Leave a Reply

 
CAPTCHA Image
*

 
  1. titin solekah

    November 2, 2014 at 3:01 pm

    KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN

    MATA KULIAH
    ADMINISTRASI PENDIDIKAN
    DIKERJAKAN OLEH
    MAHASISWA
    TITIN SOLEKAH
    DINA KARTIKASARI

    UNIVERSITAS TRIBHUAWANA TUNGGADEWI
    PROGRAM STUDI D-4 BIDAN PENDIDIK
    TAHUN 2014-2015

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1.1 LATAR BELAKANG

    Setiap orang adalah pemimpin. Setiap pemimpin tentu memiliki pribadi dan
    kepemimpinan. Inti dari kepemimpinan adalah pengmbilan keputusan. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang ragu ragu di dalam mengambil keputusannya pun akan ragu ragu pula.
    Demikian pula dalam organisasi dan management pendidikan, baik di tingkat atas, menengah maupun bawah senantiasa dihadapkan pada masalah pengambilan
    keputusan yang harus ditetapkan secara profesional dan proporsional.
    Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan secara ilmiah mulai berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manajemen ilmiah yang lebih dikenal dengan ilmu tentang memimpin. Hal ini terlihat dari banyaknya literatur yang mengkaji tentang leadership dengan berbagai sudut pandang atau perspektifnya. Leadership tidak hanya dilihat dari bak saja, akan tetapi dapat dilihat dari penyiapan sesuatu secara berencana dan dapat melatih calon-calon pemimpin.
    Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002). Ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
    Masalah kepemimpinan pendidikan saat ini menunjukan kompleksitas, baik dari segi komponen manajemen pendidikan, maupun lingkungan yang mempengaruhi keberlangungan suatu pendidikan. Persoalan yang muncul bisa spontan, bisa berulang-ulang, makanya diperlukan interaksi yang kreatif dan dinamis antar kepala sekolah , guru dan siswa.
    Kepemimpinan merupakan bagian penting dari manajemen yaitu merencanakan dan mengorganisasi, tetapi peran utama kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini merupakan bukti bahwa pemimpin boleh jadi manajer yang lemah apabila perencanaannya jelek yang menyebabkan kelompok berjalan ke arah yang salah. Akibatnya walaupun dapat menggerakkan tim kerja, namun mereka tidak berjalan kearah pencapaian tujuan organisasi. Guna menyikapi tantangan globalisasi yang ditandai dengan adanya kompetisi global yang sangat ketat dan tajam.

    1.2. PEMBAHASAN
    a. Apa Pengertian Kepemimpinan
    b. Dimensi Kepemimpinan
    c. Pendekatan dan model kepemimpinan

    1.3. TUJUAN PENULISAN
    Menambah pengetahuan dan wawasan tentang kepemimpinan pendidikan, agar dapat menjadi jika suatu saat mendapat kesempatan menjadi seorang pemimpin pendidikan.

    BAB II
    PEMBAHASAN
    2.1 PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
    Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
    Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
    Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
    Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpnan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

    2.2 DIMENSI KEPEMIMPINAN
    Dalam bukunya “8 Dimensions of Leadership: DiSC Strategies for Becoming a Better Leader”, Jeffrey memetakan 8 dimensi perilaku kepemimpinan berdasarkan profile DiSC yaitu:
    1. Pioneering – Perintis ciri-cirinya petualang, dinamis dan berkarisma
    2. Energizing – Pembangkit energi ciri-cirinya spontan, mudah bergaul dan membangkitkan semangat
    3. Affirming – Menegaskan ciri-cirinya bersahabat, terbuka dan positif
    4. Inclusive – Inklusif ciri-cirinya diplomatis, menerima dan sabar
    5. Humble – Rendah hati ciri-cirinya tutur kata lemah lembut, santun dan akurat
    6. Deliberate – Hati-hati ciri-cirinya sistematis, hati-hati dan analitis
    7. Resolute – Teguh ciri-cirinya menantang, teguh pendirian dan rasional
    8. Commanding – Memerintah cirinya kompetitif, memaksa dan tegas

    Penasaran ingin mengetahui dimana letak dimensi kepemimpinan Anda yang paling dominan?
    Ikuti assessmentnya di sini
    Sekilas tentang DiSC
    DiSC memetakan orang berdasarkan perilakunya dalam kaitannya dengan orang, tugas, keterbukaan dan kehati-hatian. DiSC telah menjadi alat pengukur (assessment) untuk mengetahui kecenderungan berperilaku seseorang. Manfaatnya adalah dengan mengetahui kecenderungan dan pola perilaku kita sendiri serta mampu memahami kecenderungan dan pola perilaku orang lain yang berbeda akan menambah ketrampilan kita dalam berkomunikasi, bergaul dan bekerja sama.
    Dengan mengenal dimensi diri sendiri dan dimensi orang lain, kita menjadi lebih paham orang lain dan mampu memahami kenapa orang lain berbeda dengan kita.

    - See more at: http://munksiji.com/8-dimensi-kepemimpinan/#sthash.zrrCeJDw.dpuf

    2.3 PENDEKATAN DAN MODEL KEPEMIMPINAN
    Yang dimaksud pendekatan kepemimpinan disini adalah sudut pandang terhadap kepemimpinan, yang mana pendekatan kepemimpinan ini ada 3 yaitu: Pertama, yaitu pendekatan sifat yang menfokuskan pada karakteristik pribadi pemimpin. Kedua, yaitu pendekatan perilaku dalam hubungannya dengan bawahannya. Ketiga, Pendekatan situasional, perilaku seorang pemimpin dengan karakteristik situasional.
    1. Pendekatan Sifat.
    Keberhasilan seseorang pemimpin banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi si pemimpin. Jadi, menurut pendekatan ini, seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya
    Ada empat sifat umum yang mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, yaitu :
    1. Kecerdasan; pada umumnya pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin,
    2. Kedewasaan, pemimpin cenderung menjadi matang dan mempunyai emosi yang stabil serta perhatian yang luas terhadap aktivitas-aktivitas sosial,
    3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi; pemimpin cenderung mempunyai motivasi yang kuat untuk berprestasi,
    4. Sikap hubungan kemanusiaan, pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan bawahan.
    2. Pendekatan perilaku
    Pendekatan perilaku berlandaskan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh gaya bersikap dan bertindak pemimpin yang bersangkutan. Gaya bersikap dan bertindak akan nampak dari cara melakukan sesuatu pekerjaan, antara lain akan nampak dari cara memberikan perintah, cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara membuat keputusan, cara mendorong semangat bawahannya, cara memberikan bimbingan, cara menegakkan disiplin, cara mengawasi pekerjaan bawahannya, cara meminta laporan dari bawahannya, cara memimpin rapat, cara menegur kesalahan bawahannya, dan lain sebagainya.
    Apabila dalam melakukan kegiatan tersebut pemimpin menempuh dengan cara tegas, keras, sepihak, yang penting tugas selesai dengan baik, yang bersalah langsung dihukum, maka gaya kepemimpinan seperti itu cenderung dinamakan gaya kepemimpinan otoriter. Sebaliknya apabila dalam melakukan kegiatan tersebut pemimpin melakukannya dengan cara halus, simpatik, interaksi timbal balik, melakukan ajakan, menghargai pendapat, memperhatikan perasaan, membina hubungan serasi, maka gaya kepemimpinan ini cenderung dinamakan gaya kepemimpinan demokratis.
    Pandangan klasik menganggap setiap pegawai itu pasif, malas, enggan bekerja, takut memikul tanggung jawab, tiada keberanian membuat keputusan, tiada bersemangat untuk menemukan berbagai cara kerja baru, bekerja berdasarkan perintah atasan semata-mata, melakukan pekerjaan dengan mengutamakan imbalan materi, sering mangkir dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal, sering memberikan laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan, suka memfitnah, suka menipu diri sendiri.
    Sebaliknya pandangan modern menganggap para pegawai itu sebagai manusia yang memiliki perasaan, emosi jiwa, kehendak yang patut dihargai, memerlukan hubungan serasi, perlu diperhatikan kebutuhannya, pada umumnya gemar bekerja, aktif, besar rasa tanggung jawabnya, rajin, disiplin, tinggi tingkat pengabdiannya, banyak gagasan baru, lebih menitikberatkan pada hal yang positif dalam hubungan dengan pihak lain.
    Dua macam pandangan tersebut menimbulkan adanya gaya kepemimpinan yang berbeda. Pandangan klasik lebih mengutamakan gaya otoriter, sedang pandangan modern lebih mengutamakan gaya demokratis.
    3. Pendekatan situasional
    Pendekatan atau teori kepemimpinan ini dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard berdasarkan teori-teori kepemimpinan sebelumnya. Pada pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi tidak hanya dipengaruhi oleh perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja, karena tiap-tiap organisasi itu memiliki ciri-ciri khusus dan unik. Bahkan organisasi yang sejenispun akan menghadapi masalah yang berbeda karena adanya lingkungan yang berbeda, semangat dan watak bawahan yang berbeda.
    Situasi yang berbeda-beda ini harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula. Karena banyaknya kemungkinan yang dapat dipakai dalam menerapkan perilaku kepemimpinan sesuai dengan situasi organisasi, maka pendekatan situasional ini disebut juga dengan pendekatan kontingensi; yang dapat berarti kemungkinan.
    Pendekatan situasional atau kontingensi didasarkan pada asumsi bahwa keberhasilan seorang pemimpin selain ditentukan oleh sifat-sifat dan perilaku pemimpin juga dipengaruhi oleh situasi yang ada dalam organisasi.

    Model Kepemimpinan
    1. Model Kontigensi Fiedler
    Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya.
    Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin.
    Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku.
    Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat (demotions).

    2. Model Kepemimpinan Vroom – Jago
    Model kepemimpinan ini menetapkan prosedur pengambilan keputusan yang paling efektif dalam situasi tertentu. Dua gaya kepemimpinan yang disarankan adalah autokratis dan gaya konsultatif, dan satu gaya berorientasi keputusan bersama. Dalam pengembangan model ini, Vroom dan Yetton membuat beberapa asumsi yaitu :
    a) Model ini harus dapat memberikan kepada para pemimpin, gaya yang harus dipakai dalam berbagai situasi
    b) Tidak ada satu gaya yang dapat dipakai dalam segala situasi
    c) Fokus utama harus dilakukan pada masalah yang akan dihadapi dan situasi dimana masalah ini terjadi
    d) Gaya kepemimpinan yang digunakan dalam satu situasi tidak boleh membatasi gaya yang dipakai dalam situasi yang lain
    e) Beberapa proses social berpengaruh pada tingkat partisipasi dari bawahan dalam pemecahan masalah.

    3. Model Kepemimpinan Jalur Tujuan
    Model kepemimpinan jalur tujuan (path goal) menyatakan pentingnya pengaruh pemimpin terhadap persepsi bawahan mengenai tujuan kerja, tujuan pengembangan diri, dan jalur pencapaian tujuan. Dasar dari model ini adalah teori motivasi eksperimental. Model kepemimpinan ini dipopulerkan oleh Robert House yang berusaha memprediksi ke-efektifan kepemimpinan dalam berbagai situasi.
    Menurut Path-Goal Theory, dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan model-model sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variabel situasional.
    4. Model Kepemimpinan Situasional Hersey-Blanchard
    Pendekatan situasional menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan dan mencoba untuk mengukur atau memperkirakan ciri-ciri pribadi ini, dan membantu pimpinan dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan kepada kombinasi dari kemungkinan yang bersifat kepribadian dan situasional.
    Pendekatan situasional atau pendekatan kontingensi merupakan suatu teori yang berusaha mencari jalan tengah antara pandangan yang mengatakan adanya asas-asas organisasi dan manajemen yang bersifat universal, dan pandangan yang berpendapat bahwa tiap organisasi adalah unik dan memiliki situasi yang berbeda-beda sehingga harus dihadapi dengan gaya kepemimpinan tertentu.
    Lebih lanjut Yukl menjelaskan bahwa pendekatan situasional menekankan pada pentingnya faktor-faktor kontekstual seperti sifat pekerjaan yang dilaksanakan oleh unit pimpinan, sifat lingkungan eksternal, dan karakteristik para pengikut.
    Robbins dan Judge (2007) menyatakan bahwa pada dasarnya pendekatan kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard mengidentifikasi empat perilaku kepemimpinan yang khusus dari sangat direktif, partisipatif, supportif sampai laissez-faire. Perilaku mana yang paling efektif tergantung pada kemampuan dan kesiapan pengikut. Sedangkan kesiapan dalam konteks ini adalah merujuk pada sampai dimana pengikut memiliki kemampuan dan kesediaan untuk menyelesaikan tugas tertentu. Namun, pendekatan situasional dari Hersey dan Blanchard ini menurut Kreitner dan Kinicki (2005) tidak didukung secara kuat oleh penelitian ilmiah, dan inkonsistensi hasil penelitian mengenai kepemimpinan situasional ini dinyatakan oleh Kreitner dan Kinicki (2005) dalam berbagai penelitian sehingga pendekatan ini tidaklah akurat dan sebaiknya hanya digunakan dengan catatan-catatan khusus.

    PENUTUP

    3.1. Kesimpulan
    Dari pembahasan di atas maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah Sebagai satu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir dan menggerakan orang-orang lain yang ada hubungan dengan pengembanga ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, supaya kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat lebih efektif dan efisien di dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan.
    Sedangkan sifat dan konsep kepemimpinan itu ada tiga tipe pokok kepemimpinan yaitu: tipe otoriter, tipe laissez faire dan tipe demokrasi. Adapun faktor yang mempengaruhi perilaku pemimpin, diantaranya keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya, jenis pekerjaan atau lembaga yang dipimpinnya, sifat-sifat dan kepribadiannya, sifat-sifat dan kepribadian pengikutnya, serta kekuatan-kekuatan yang dimilikinya. Secara internal, seorang pemimpin dapat melakukan hal-hal yang dapat mengembangkan kemampuannya.

    3.2 Saran
    Berdasarkan pada uraian tersebut di atas, maka penulis mengemukakan saran-saran sebagai berikut :
    1. Dalam membuat suatu rencana atau manajemen pendidikan hendaknya para pemimpin memahami keadaan atau kemampuan yang dimiliki oleh para bawahannya, dan dalam pembagian pemberian tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
    2. Pemimpin hendaknya memahami betul akan tugasnya sebagai seorang pemimpin.
    3. Dalam melaksanakan akvititasnya baik pemimpin ataupun yang dipimpin menjalin suatu hubungan kerjsama yang saling mendukung untuk tercapainya tujuan organisasi atau instnasi.

     
  2. wahyusuci

    November 5, 2014 at 11:51 pm

    1.1.1 LATAR BELAKANG

    Setiap orang adalah pemimpin. Setiap pemimpin tentu memiliki pribadi dan
    kepemimpinan. Inti dari kepemimpinan adalah pengmbilan keputusan. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang ragu ragu di dalam mengambil keputusannya pun akan ragu ragu pula.
    Demikian pula dalam organisasi dan management pendidikan, baik di tingkat atas, menengah maupun bawah senantiasa dihadapkan pada masalah pengambilan
    keputusan yang harus ditetapkan secara profesional dan proporsional.
    Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan secara ilmiah mulai berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manajemen ilmiah yang lebih dikenal dengan ilmu tentang memimpin. Hal ini terlihat dari banyaknya literatur yang mengkaji tentang leadership dengan berbagai sudut pandang atau perspektifnya. Leadership tidak hanya dilihat dari bak saja, akan tetapi dapat dilihat dari penyiapan sesuatu secara berencana dan dapat melatih calon-calon pemimpin.
    Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002). Ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
    Masalah kepemimpinan pendidikan saat ini menunjukan kompleksitas, baik dari segi komponen manajemen pendidikan, maupun lingkungan yang mempengaruhi keberlangungan suatu pendidikan. Persoalan yang muncul bisa spontan, bisa berulang-ulang, makanya diperlukan interaksi yang kreatif dan dinamis antar kepala sekolah , guru dan siswa.
    Kepemimpinan merupakan bagian penting dari manajemen yaitu merencanakan dan mengorganisasi, tetapi peran utama kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini merupakan bukti bahwa pemimpin boleh jadi manajer yang lemah apabila perencanaannya jelek yang menyebabkan kelompok berjalan ke arah yang salah. Akibatnya walaupun dapat menggerakkan tim kerja, namun mereka tidak berjalan kearah pencapaian tujuan organisasi. Guna menyikapi tantangan globalisasi yang ditandai dengan adanya kompetisi global yang sangat ketat dan tajam.

    1.2. PEMBAHASAN
    a. Apa Pengertian Kepemimpinan
    b. Dimensi Kepemimpinan
    c. Pendekatan dan model kepemimpinan

    1.3. TUJUAN PENULISAN
    Menambah pengetahuan dan wawasan tentang kepemimpinan pendidikan, agar dapat menjadi jika suatu saat mendapat kesempatan menjadi seorang pemimpin pendidikan.

    BAB II
    PEMBAHASAN
    2.1 PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
    Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
    Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
    Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
    Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpnan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

    2.2 DIMENSI KEPEMIMPINAN
    Dalam bukunya “8 Dimensions of Leadership: DiSC Strategies for Becoming a Better Leader”, Jeffrey memetakan 8 dimensi perilaku kepemimpinan berdasarkan profile DiSC yaitu:
    1. Pioneering – Perintis ciri-cirinya petualang, dinamis dan berkarisma
    2. Energizing – Pembangkit energi ciri-cirinya spontan, mudah bergaul dan membangkitkan semangat
    3. Affirming – Menegaskan ciri-cirinya bersahabat, terbuka dan positif
    4. Inclusive – Inklusif ciri-cirinya diplomatis, menerima dan sabar
    5. Humble – Rendah hati ciri-cirinya tutur kata lemah lembut, santun dan akurat
    6. Deliberate – Hati-hati ciri-cirinya sistematis, hati-hati dan analitis
    7. Resolute – Teguh ciri-cirinya menantang, teguh pendirian dan rasional
    8. Commanding – Memerintah cirinya kompetitif, memaksa dan tegas

    Penasaran ingin mengetahui dimana letak dimensi kepemimpinan Anda yang paling dominan?
    Ikuti assessmentnya di sini
    Sekilas tentang DiSC
    DiSC memetakan orang berdasarkan perilakunya dalam kaitannya dengan orang, tugas, keterbukaan dan kehati-hatian. DiSC telah menjadi alat pengukur (assessment) untuk mengetahui kecenderungan berperilaku seseorang. Manfaatnya adalah dengan mengetahui kecenderungan dan pola perilaku kita sendiri serta mampu memahami kecenderungan dan pola perilaku orang lain yang berbeda akan menambah ketrampilan kita dalam berkomunikasi, bergaul dan bekerja sama.
    Dengan mengenal dimensi diri sendiri dan dimensi orang lain, kita menjadi lebih paham orang lain dan mampu memahami kenapa orang lain berbeda dengan kita.

    - See more at: http://munksiji.com/8-dimensi-kepemimpinan/#sthash.zrrCeJDw.dpuf

    2.3 PENDEKATAN DAN MODEL KEPEMIMPINAN
    Yang dimaksud pendekatan kepemimpinan disini adalah sudut pandang terhadap kepemimpinan, yang mana pendekatan kepemimpinan ini ada 3 yaitu: Pertama, yaitu pendekatan sifat yang menfokuskan pada karakteristik pribadi pemimpin. Kedua, yaitu pendekatan perilaku dalam hubungannya dengan bawahannya. Ketiga, Pendekatan situasional, perilaku seorang pemimpin dengan karakteristik situasional.
    1. Pendekatan Sifat.
    Keberhasilan seseorang pemimpin banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi si pemimpin. Jadi, menurut pendekatan ini, seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya
    Ada empat sifat umum yang mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, yaitu :
    1. Kecerdasan; pada umumnya pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin,
    2. Kedewasaan, pemimpin cenderung menjadi matang dan mempunyai emosi yang stabil serta perhatian yang luas terhadap aktivitas-aktivitas sosial,
    3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi; pemimpin cenderung mempunyai motivasi yang kuat untuk berprestasi,
    4. Sikap hubungan kemanusiaan, pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan bawahan.
    2. Pendekatan perilaku
    Pendekatan perilaku berlandaskan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh gaya bersikap dan bertindak pemimpin yang bersangkutan. Gaya bersikap dan bertindak akan nampak dari cara melakukan sesuatu pekerjaan, antara lain akan nampak dari cara memberikan perintah, cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara membuat keputusan, cara mendorong semangat bawahannya, cara memberikan bimbingan, cara menegakkan disiplin, cara mengawasi pekerjaan bawahannya, cara meminta laporan dari bawahannya, cara memimpin rapat, cara menegur kesalahan bawahannya, dan lain sebagainya.
    Apabila dalam melakukan kegiatan tersebut pemimpin menempuh dengan cara tegas, keras, sepihak, yang penting tugas selesai dengan baik, yang bersalah langsung dihukum, maka gaya kepemimpinan seperti itu cenderung dinamakan gaya kepemimpinan otoriter. Sebaliknya apabila dalam melakukan kegiatan tersebut pemimpin melakukannya dengan cara halus, simpatik, interaksi timbal balik, melakukan ajakan, menghargai pendapat, memperhatikan perasaan, membina hubungan serasi, maka gaya kepemimpinan ini cenderung dinamakan gaya kepemimpinan demokratis.
    Pandangan klasik menganggap setiap pegawai itu pasif, malas, enggan bekerja, takut memikul tanggung jawab, tiada keberanian membuat keputusan, tiada bersemangat untuk menemukan berbagai cara kerja baru, bekerja berdasarkan perintah atasan semata-mata, melakukan pekerjaan dengan mengutamakan imbalan materi, sering mangkir dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal, sering memberikan laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan, suka memfitnah, suka menipu diri sendiri.
    Sebaliknya pandangan modern menganggap para pegawai itu sebagai manusia yang memiliki perasaan, emosi jiwa, kehendak yang patut dihargai, memerlukan hubungan serasi, perlu diperhatikan kebutuhannya, pada umumnya gemar bekerja, aktif, besar rasa tanggung jawabnya, rajin, disiplin, tinggi tingkat pengabdiannya, banyak gagasan baru, lebih menitikberatkan pada hal yang positif dalam hubungan dengan pihak lain.
    Dua macam pandangan tersebut menimbulkan adanya gaya kepemimpinan yang berbeda. Pandangan klasik lebih mengutamakan gaya otoriter, sedang pandangan modern lebih mengutamakan gaya demokratis.
    3. Pendekatan situasional
    Pendekatan atau teori kepemimpinan ini dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard berdasarkan teori-teori kepemimpinan sebelumnya. Pada pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi tidak hanya dipengaruhi oleh perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja, karena tiap-tiap organisasi itu memiliki ciri-ciri khusus dan unik. Bahkan organisasi yang sejenispun akan menghadapi masalah yang berbeda karena adanya lingkungan yang berbeda, semangat dan watak bawahan yang berbeda.
    Situasi yang berbeda-beda ini harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula. Karena banyaknya kemungkinan yang dapat dipakai dalam menerapkan perilaku kepemimpinan sesuai dengan situasi organisasi, maka pendekatan situasional ini disebut juga dengan pendekatan kontingensi; yang dapat berarti kemungkinan.
    Pendekatan situasional atau kontingensi didasarkan pada asumsi bahwa keberhasilan seorang pemimpin selain ditentukan oleh sifat-sifat dan perilaku pemimpin juga dipengaruhi oleh situasi yang ada dalam organisasi.

    Model Kepemimpinan
    1. Model Kontigensi Fiedler
    Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya.
    Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin.
    Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku.
    Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat (demotions).

    2. Model Kepemimpinan Vroom – Jago
    Model kepemimpinan ini menetapkan prosedur pengambilan keputusan yang paling efektif dalam situasi tertentu. Dua gaya kepemimpinan yang disarankan adalah autokratis dan gaya konsultatif, dan satu gaya berorientasi keputusan bersama. Dalam pengembangan model ini, Vroom dan Yetton membuat beberapa asumsi yaitu :
    a) Model ini harus dapat memberikan kepada para pemimpin, gaya yang harus dipakai dalam berbagai situasi
    b) Tidak ada satu gaya yang dapat dipakai dalam segala situasi
    c) Fokus utama harus dilakukan pada masalah yang akan dihadapi dan situasi dimana masalah ini terjadi
    d) Gaya kepemimpinan yang digunakan dalam satu situasi tidak boleh membatasi gaya yang dipakai dalam situasi yang lain
    e) Beberapa proses social berpengaruh pada tingkat partisipasi dari bawahan dalam pemecahan masalah.

    3. Model Kepemimpinan Jalur Tujuan
    Model kepemimpinan jalur tujuan (path goal) menyatakan pentingnya pengaruh pemimpin terhadap persepsi bawahan mengenai tujuan kerja, tujuan pengembangan diri, dan jalur pencapaian tujuan. Dasar dari model ini adalah teori motivasi eksperimental. Model kepemimpinan ini dipopulerkan oleh Robert House yang berusaha memprediksi ke-efektifan kepemimpinan dalam berbagai situasi.
    Menurut Path-Goal Theory, dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan model-model sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variabel situasional.
    4. Model Kepemimpinan Situasional Hersey-Blanchard
    Pendekatan situasional menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan dan mencoba untuk mengukur atau memperkirakan ciri-ciri pribadi ini, dan membantu pimpinan dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan kepada kombinasi dari kemungkinan yang bersifat kepribadian dan situasional.
    Pendekatan situasional atau pendekatan kontingensi merupakan suatu teori yang berusaha mencari jalan tengah antara pandangan yang mengatakan adanya asas-asas organisasi dan manajemen yang bersifat universal, dan pandangan yang berpendapat bahwa tiap organisasi adalah unik dan memiliki situasi yang berbeda-beda sehingga harus dihadapi dengan gaya kepemimpinan tertentu.
    Lebih lanjut Yukl menjelaskan bahwa pendekatan situasional menekankan pada pentingnya faktor-faktor kontekstual seperti sifat pekerjaan yang dilaksanakan oleh unit pimpinan, sifat lingkungan eksternal, dan karakteristik para pengikut.
    Robbins dan Judge (2007) menyatakan bahwa pada dasarnya pendekatan kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard mengidentifikasi empat perilaku kepemimpinan yang khusus dari sangat direktif, partisipatif, supportif sampai laissez-faire. Perilaku mana yang paling efektif tergantung pada kemampuan dan kesiapan pengikut. Sedangkan kesiapan dalam konteks ini adalah merujuk pada sampai dimana pengikut memiliki kemampuan dan kesediaan untuk menyelesaikan tugas tertentu. Namun, pendekatan situasional dari Hersey dan Blanchard ini menurut Kreitner dan Kinicki (2005) tidak didukung secara kuat oleh penelitian ilmiah, dan inkonsistensi hasil penelitian mengenai kepemimpinan situasional ini dinyatakan oleh Kreitner dan Kinicki (2005) dalam berbagai penelitian sehingga pendekatan ini tidaklah akurat dan sebaiknya hanya digunakan dengan catatan-catatan khusus.

    PENUTUP

    3.1. Kesimpulan
    Dari pembahasan di atas maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah Sebagai satu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir dan menggerakan orang-orang lain yang ada hubungan dengan pengembanga ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, supaya kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat lebih efektif dan efisien di dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan.
    Sedangkan sifat dan konsep kepemimpinan itu ada tiga tipe pokok kepemimpinan yaitu: tipe otoriter, tipe laissez faire dan tipe demokrasi. Adapun faktor yang mempengaruhi perilaku pemimpin, diantaranya keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya, jenis pekerjaan atau lembaga yang dipimpinnya, sifat-sifat dan kepribadiannya, sifat-sifat dan kepribadian pengikutnya, serta kekuatan-kekuatan yang dimilikinya. Secara internal, seorang pemimpin dapat melakukan hal-hal yang dapat mengembangkan kemampuannya.

    3.2 Saran
    Berdasarkan pada uraian tersebut di atas, maka penulis mengemukakan saran-saran sebagai berikut :
    1. Dalam membuat suatu rencana atau manajemen pendidikan hendaknya para pemimpin memahami keadaan atau kemampuan yang dimiliki oleh para bawahannya, dan dalam pembagian pemberian tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
    2. Pemimpin hendaknya memahami betul akan tugasnya sebagai seorang pemimpin.
    3. Dalam melaksanakan akvititasnya baik pemimpin ataupun yang dipimpin menjalin suatu hubungan kerjsama yang saling mendukung untuk tercapainya tujuan organisasi atau instnasi.

     
  3. wahyu+suci+lestari

    November 6, 2014 at 12:14 am

    BAB I
    PENDAHULUAN
    A. Latar belakang
    Manajemen pendidikan adalah proses keseluruhan kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan pembiayaan, dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personil, materil, maupun spirituil untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Dari beberapa pengertian di atas dapat dilihat betapa manajemen pendidikan merupakan faktor utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Karena manajemen pendidikan merupakan suatu usaha bersama yang dilakukan untuk mendayagunakan semua sumber daya baik manusia, uang, bahan dan peralatan serta metode untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Maka ruang lingkup anajemen sekolah dapat dikelompokkan dalam 2 kelompok, yaitu :
    1. Manajemen administratif, meliputi proses manajemen yang pada dasarnya terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan. Ruang lingkup manajemen seperti ini juga sering disebut sebagai proses manajemen atau fungsi manajemen.
    2. Manajemen operatif, meliputi unit-unit kegiatan dalam sebuah organisasi yang diantaranya terdiri dari manajemen kesiswaan, manajemen pengajaran, manajemen personil, manajemen persuratan dan kearsipan, manajemen keuangan, manajemen perlengkapan, manajemen hubungan masyarakat, serta manajemen perpustakaan.
    Dari segi operasional atau bidang garapan, maka manajemen pendidikan atau manajemen sekolah meliputi bidang-bidang :
    1. Manajemen Kesiswaan.
    2. Manajemen Pengajaran
    3. Manajemen Personil
    4. Manajemen Persuratan dan Kearsipan
    5. Manajemen Keuangan
    6. Manajemen Perlengkapan
    7. Manajemen Hubungan Masyarakat

     
  4. wahyu+suci+lestari

    November 6, 2014 at 12:15 am

    BAB II
    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Konsep Bidang Garapan Manajamen Pendidikan / Manajemen Operatif
    2.1.1 Pengertian bidang garapan / manajemen operatif.
    Manajemen operatif, meliputi unit-unit kegiatan dalam sebuah organisasi yang diantaranya terdiri dari manajemen kesiswaan, manajemen pengajaran, manajemen personil, manajemen persuratan dan kearsipan, manajemen keuangan, manajemen perlengkapan, serta manajemen hubungan masyarakat. Manajemen operatif atau manajemen dalam unit-unit kegiatan tertentu memiliki karakteristik kegiatan yang berbeda-beda. Namun semuanya itu memiliki kesamaan dalam prinsip pengelolaan, yaitu :
    1. Ketertiban
    Jadi harus teratur, sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau urutan tertentu.
    2. Kejelasan
    Harus mudah dipahami oleh semua pihak yang terlibat atau menggunakan.
    3. Efektif
    Harus dapat digunakan sesuai peruntukannya.
    4. Efisien
    Harus dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat dan biaya relatif murah.
    Dari segi operasional atau bidang garapan, maka Manajemen pendidikan atau Manajemen sekolah meliputi bidang-bidang :
    1. Manajemen Kesiswaan.
    2. Manajemen Pengajaran
    3. Manajemen Personil
    4. Manajemen Persuratan dan Kearsipan
    5. Manajemen Keuangan
    6. Manajemen Perlengkapan
    7. Manajemen Hubungan Masyarakat
    2.1.2 Manajemen Kesiswaan
    Ada tiga masalah utama yang perlu mendapat perhatian dalam bidang kesiswaan yaitu :
    1. Masalah penerimaan siswa baru
    2. Masalah kemajuan belajar dan evaluasi belajar
    3. Masalah bimbingan

    Untuk masalah yang pertama setiap tahun dibentuk panitia penerimaan siswa baru. Panitia ini diserahi tugas untuk mengmanajemenkan dan mengorganisasikan seluruh kegiatan penerimaan siswa baru. Pimpinan sekolah harus mampu memberi pedoman yang jelas kepada panitia agar penerimaan siswa baru ini berjalan dengan lancar. Di samping itu sekolah mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap usaha mengembangkan kemajuan belajar siswa-siswanya. Kemajuan belajar ini secara periodik harus dilaporkan terutama kepada orang tua siswa. Ini semua merupakan tanggung jawab pimpinan sekolah. Oleh karena itu pimpinan harus tahu benar-benar kemajuan belajar anak-anak di sekolahnya, ia harus mengenal anak-anak beserta latar belakang masalahnya.
    Laporan hasil kemajuan belajar hendaknya tidak dianggap sebagai kegiatan rutin saja, tetapi mempunyai maksud agar orang tua siswa juga ikut berpartisipasi secara aktif dalam membina belajar anak-anaknya. Masalah yang juga erat hubungannya dengan kemajuan belajar ini ialah masalah bimbingan, tugas sekolah bukan hanya sekedar memberi pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi sekolah harus mendidik anak-anak menjadi manusia seutuhnya. Oleh karena itu tugas sekolah bukan saja memberikan pelbagai ilmu pengetahuan tetapi juga membimbing anak-anak menuju ke arah kedewasaan. Dalam rangka ini maka tugas pimpinan sekolah ialah menyelenggarakan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. Dengan kegiatan bimbingan ini maka anak-anak akan ditolong untuk mampu mengenal dirinya, kekuatan kekuatan dan kelemahan-kelemahannya. Anak-anak akan ditolong agar mampu
    mengatasi masalah-masalahnya yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. Dengan demikian diharapkan anak-anak akan dapat bertumbuh secara sehat baik jasmani dan rohaninya serta dapat merealisasikan kemampuannya secara maksimal. Manajemen yang berhubungan dengan kesiswaan antara lain :
    1. Statistik presensi siswa
    2. Buku laporan keadaan siswa
    3. Buku induk
    4. Klapper
    5. Buku daftar kelas
    6. Buku laporan pendidikan (raport) catatan pribadi
    7. Daftar presensi, dsb.
    2.1.3 Manajemen Pengajaran/Kurikulum
    Pimpinan sekolah harus sadar bahwa kurikulum yang ada perlu dipahami benar-benar oleh guru-guru, sehingga mereka dapat menjabarkannya secara lebih luas dan dapat mengembangkan secara kreatif. Kurikulum ini kemudian perlu dijabarkan dalam kegiatan pengajaran di sekolah seperti perencanaan kegiatan pengajaran/pembuatan kalender pendidikan, penjadwalan, program pengajaran catur wulan/semester/tahunan hingga persiapan mengajar serta evaluasinya.
    Kegiatan dalam Manajemen pengajaran/kurikulum diantaranya meliputi :
    1. Pengadaan buku kurikulum termasuk pedoman-pedomannya.
    2. Penjabaran tujuan-tujuan pendidikan, tujuan umum, tujuan instruksional, tujuan kurikuler dan tujuan-tujuan khusus.
    3. Penyusunan program-program kurikuler dan kegiatan-kegiatan tambahannya, termasuk dalam hal ini program tahunan.
    4. Pengembangan alat-alat pelajaran.
    5. Penyusunan jadwal dan pembagian tugas mengajar.
    6. Pengembangan sistem evaluasi belajar.
    7. Pengawasan terhadap proses belajar mengajar.
    8. Penyusunan norma kenaikan kelas.
    Masalah-masalah yang cukup sukar yang dihadapi pimpinan sekolah dalam bidang kurikuler ini antara lain : pembagian tugas yang sesuai dengan kemampuan dan minat, pengembangan/pembinaan kemampuan guru dalam mengajar serta meningkatkan mutu pengajaran. Manajemen yang berhubungan dengan pengajaran/pembinaan kurikulum antara lain:
    1. Buku pedoman kerja tahunan.
    2. Statistik kemajuan belajar
    3. Jadwal tahunan/kalender pendidikan.
    4. Jadwal pelajaran.
    5. Daftar buku siswa.
    6. Daftar buku pegangan guru.
    7. Buku observasi kelas, dsb.

    2.1.4 Manajemen Personil
    Tugas utama pimpinan sekolah ialah membina dan mengembangkan sekolahnya agar pendidikan dan pengajaran makin menjadi efektif dan efisien. Hal ini hanya dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar apabila ada kerja sama yang harmonis dengan seluruh staf sekolah. Oleh karena itu yang harus dilakukan ialah membina kerja sama dengan seluruh staf sehingga terjadi hubungan yang harmonis. Jadi inilah esensi dari tugas pimpinan sekolah yang utama dalam bidang personalia. Dalam hubungannya dengan masalah Manajemen personalia ini, ada beberapa tugas yang perlu dilaksanakan oleh pimpinan sekolah yaitu sebagai berikut :
    1. Perencanaan Kebutuhan
    Pimpinan sekolah harus dapat merencanakan kebutuhan pegawainya, berapa jumlah guru atau staf lain yang dibutuhkan untuk menutupi kebutuhan karena adanya pegawai yang berhenti/pensiun atau karena adanya pengembangan/penambahan beban tugas.
    2. Penerimaan dan Penempatan Tenaga
    Pada sekolah-sekolah negeri biasanya pimpinan sekolah hanya menerima “droping” penambahan staf dari atasan tanpa wewenang untuk ikut memilih dan menetapkan atau mengambil keputusan. Tetapi pada sekolah swasta dimana organisasinya jauh lebih kecil daripada pemerintah, pimpinan sekolah biasanya mendapat kesempatan untuk memilih stafnya yang baru, hal ini tentu saja lebih baik.
    Pimpinan sekolah hendaknya memperoleh wewenang untuk memilih dan mengusulkan pengangkatan stafnya yang baru, mengingat bahwa pimpinan sekolah tahu tentang staf yang dibutuhkan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolahnya. Tentu dalam hal ini perlu ada pedoman-pedoman tertentu yang harus digunakan agar tidak terjadi penyelewengan.
    3. Penyelenggaraan Program Orientasi
    Anggota staf yang baru sebelum menunaikan tugasnya perlu mengenal dan memahami baik-baik seluruh lingkungan dimana ia akan bekerja. Ia harus mengenal seluruh anggota staf yang lama, mengenal keadaan siswa-siswa secara umum, lingkungan fisik maupun lingkungan masyarakat sekitar. Untuk kegiatan semacam ini, Pimpinan sekolah dapat menyelenggarakan suatu program orientasi. Gunanya agar anggota staf yang baru merasa diterima dan krasan, serta tahu akan masalah-masalah yang mungkin dihadapi dalam tugas-tugasnya.
    4. Pembinaan dan Pengembangan Staf
    Pembinaan terhadap staf tidak hanya pada anggota yang baru saja, tetapi juga kepada seluruh staf. Pembinaan harus dilakukan secara terus menerus dan secara sistematis/programatis. Pembinaan ini sangat penting karena perkembangan baik perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi, maupun perkembangan masyarakat dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang baru. Banyak cara yang dapat dilakukan pimpinan sekolah dalam program pembinaan ini, diantaranya melalui :

    a. Penilaian kinerja
    b. Penugasan dan rotasi tugas
    c. Pelatihan
    d. Pemberian kompensasi atau peningkatan kesejahteraan
    e. Perencanaan karier
    f. Observasi kelas
    g. Percakapan individu, diskusi, seminar, lokarkarya, rapat staf, dll
    Guru-guru dan seluruh staf akan bekerja dengan efektif dan penuh semangat apabila merasa memperoleh kepuasan dalam memenuhi keinginan dan cita-cita hidupnya. Oleh karena itu seorang pimpinan sekolah harus berusaha memahami keinginan atau cita-cita hidup anggota stafnya serta berusaha memenuhinya. Setiap orang tentu mempunyai pandangan dan sikap tertentu terhadap pekerjaannya. Ada yang merasa puas dan cocok dengan pekerjaannya, tetpai ada pula yang selalu mengeluh dan tidak senang. Sikap dan reaksi demikian ini disebut “Moral”. ‘Moral” adalah reaksi mental dan emosional dari seseorang terhadap pekerjaannya.
    Seorang anggota staf dapat kita katakan memiliki moral kerja yang tinggi apabila merasa puas terhadap pekerjaannya, memiliki semangat, rasa tanggung jawab dan antusiasme. Sebaliknya tingginya absensi, datang sering terlambat, suka menghindari tanggung jawab, menunjukkan moral kerja yang rendah. Banyak faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya moral kerja ini. Salah satu diantaranya ialah tidak adanya perasaan sejahtera di antara anggota staf. Hal ini berarti apabila pimpinan sekolah ingin meningkatkan moral kerja maka ia perlu memperhatikan kesejahteraan anggota stafnya. Ada dua macam kesejahteraan yang perlu diperhatikan dan diusahakan oleh pimpinan sekolah, yaitu yang menyangkut kesejahteraan material dan kesejahteraan batin. Kesejahteraan material menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup: gaji yang cukup, fasiltias perumahan, dana, kesehatan, pensiun dsb. Kesejahteraan batin meliputi perasaan aman, perasaan diakui/diterima, perasaan diperlakukan adil, perasaan berprestasi, perasaan dianggap penting, perasaan berpartisipasi, perasaan memperoleh harga diri (dari pekerjaannya) dsb.
    5. Pemberhentian dan pemensiunan
    Pemberhentian seorang pegawai dapat karena pelanggaran disiplin, pengunduran diri, pengurangan tenaga atau pensiun. Aturan tentang pemberhentian pegawai harus jelas karena menyangkut nasib seseorang, terutama tentang pemberhentian karena pelanggaran disiplin dan pengurangan tenaga karena dapat memicu ketidakpuasan seseorang yang dikenai tindakan ini. Untuk pemberhentian karena pengunduran diri harus dilihat apakah pegawai yang bersangkutan memiliki ikatan atau perjanjian tertentu dengan sekolah atau tidak. Sedangkan pemberhentian karena memasuki usia pensiun sebaiknya didahului oleh program persiapan pensiun. Adminstrasi yang berhubungan dengan personalia meliputi antara lain :
    1. Statistik/datar presensi pegawai
    2. Organisasi dan daftar pembagian tugas
    3. Masalah kepegawaian/guru dan kesejahteraannya
    4. Daftar riwayat hidup
    5. Daftar riwayat pekerjaan
    6. Catatan pribadi pegawai
    7. Daftar induk pegawai, dll.
    6. Manajemen Persuratan dan Kearsipan
    Kegiatan persuratan dan kearsipan merupakan salah satu aspek kegiatan Manajemen yang berfungsi sebagia dokumentasi dan perwujudan dari berbagai kegiatan penyelenggaraan sekolah yang menjadi tanggung jawab pimpinan sekolah. Karena terdapat berbagai macam kegiatan sekolah maka banyak pula bentuk Manajemen persuratan dan kearsipan yang harus dikerjakan sekolah. Manajemen persuratan dan kearsipan antara lain :
    1. Korespondensi/surat-menyurat, dsb.
    2. Penyimpanan arsip/dokumentasi.
    3. Laporan bulanan/tahunan
    4. Daftar statistik, grafik dll.
    7. Manajemen Keuangan
    Masalah keuangan adalah masalah yang peka. Oleh karena itu dalam mengelola
    bidang ini pimpinan sekolah harus berhati-hati, jujur dan terbuka agar tidak timbul kecurigaan baik dari staf maupun dari masyarakat atau orang tua siswa. Banyak keperluan sekolah yang harus dibiayai, dan semakin banyak program yang direncanakan maka semakin banyak pula biaya yang diperlukan. Dalam hal ini pimpinan sekolah harus memiliki daya kreasi yang tinggi untuk mampu menggali dana dari berbagai sumber. Ada beberapa sumber dana yang dapat diperoleh misalnya dari siswa/orang tua, masyarakat, pemerintah/yayasan, para dermawan dsb. Sumber-sumber ini hanya bersedia memberi sumbangan apabila nampak pada mereka adanya program-program yang jelas, penggunaan yang efektif dan pertanggung jawaban yang baik.
    Orang tua dan masyarakat adalah sumber dana yang sangat penting, oleh karena itu hendaknya sekolah terbuka bagi kontrol masyarakat, agar masyarakat menaruh kepercayaan bahwa uang mereka benar-benar digunakan secara baik sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Manajemen yang berhubungan dengan keuangan antara lain :
    1. Buku kas
    2. Buku tabelaris
    3. Daftar gaji
    4. Daftar honorium
    5. Surat Pertanggungjawaban (SPJ), dsb.
    8. Manajemen Perlengkapan
    Gedung sekolah dapat memberi gambaran yang jelas bagi masyarakat tentang baik buruknya pelayanan pendidikan yang ada didalamnya. Gedung sekolah yang terawat dengan baik akan memberi gambaran pada masyarakat tentang pelayanan pendidikan yang tertib dan teratur. Sebaliknya gedung sekolah yang tidak terawat, rusak, halaman penuh rumput yang tidak teratur akanmemberi kesan bahwa mutu pendidikan yang ada di dalamnya tidak baik. Di samping itu pembinaan/perawatan gedung sekolah merupakan suatu hal yang sangat penting mengingat bahwa hampur seluruh waktu belajar siswa berlangsung di sekolah. Mereka hanya dapat belajar dengan baik apabila merasa krasan. Dan mereka hanya krasan apabila kondisi tempat belajarnya menyenangkan. Dengan gedung sekolah yang terawat baik, anak-anak akan merasa senang dan mempunyai kebanggaan terhadap sekolahnya.
    Perlengkapan dan peralatan sekolah juga merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan efisiensi belajar dan mengajar. Guru tidak mungkin dapat mengajar dengan senang dan bersemangat dengan perlengkapan kuno dan rusak, peralatan yang kurang lengkap dsb. Oleh karena itu Pimpinan sekolah harus menaruh perhatian yang serius terhadap perlengkapan serta peralatan sekolah. Ia harus mampu mendorong guru-guru untuk bersama-sama memperhatikan masalah ini. Dalam hal ini yang tidak boleh dilupakan oleh pimpinan sekolah ialah usaha-usaha pengadaan dana antara lain untuk keperluan :
    1. Penambahan ruang kelas atau ruang yang lain
    2. Rehabilitasi bagian-bagian yang rusak
    3. Perbaikan perlengkapan dan peralatan
    4. Penambahan perlengkapan dan peralatan
    5. Memodernisasikan perlengkapan dan peralatan , dll.
    Manajemen yang berhubungan dengan pemeliharaan gedung, perlengkapan, peralatan, antara lain :
    • Buku laporan (tahunan, caturwulan/semesteran) tentang keadaan bangunan sekolah, denah dan situasi bangunan, kebun sekolah, dsb.
    • Buku inventaris
    • Buku penerimaan alat-alat dan perlengkapan, dsb.
    9. Manajemen Hubungan Masyarakat
    Sekolah adalah didalam, oleh dan untuk masyarakat. Program sekolah hanya dapat berjalan lancar apabila mendapat dukungan masyarakat. Oleh karena itu Pimpinan sekolah perlu terus menerus membina hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat. Sekolah perlu banyak memberi informasi kepada masyarakat tentang program-prgoram dan problem-problem yang dihadapi, agar masyarkat mengetahui dan memahami masalah-masalah yang dihadapi sekolah. Dari pemahaman dan pengertian ini dapat dihadapkan adanya umpan balik yang sangat berguna bagi pengembangan program sekolah lebih lanjut. Tambahan lagi diharapkan pula tumbuhnya rasa simpati masyarakat terhadap program-program sekolah, yang dapat mengundang partisipasi yang aktif masyarkat.
    Untuk membina komunikasi sekolah dan masyarakat pimpinan sekolah dapat menggunakan media rapat-rapat, surat, buletin, radio dsb. Ada beberapa hal yang dapat merusak hubungan sekolah dan masyarakat itu antara lain sikap guru maupun pimpinan sekolah yang kurang baik di dalam masyarakat serta mutu sekolah yang rendah.
    Manajemen yang berhubungan dengan humas antara lain :
    1. Buku catatan kunjungan orang tua siswa/buku tamu
    2. Buku agenda
    3. Buku ekspedisi
    4. Daftar orang tua siswa
    5. Daftar perusahaan/industri terkait, dsb.

     
  5. wahyu+suci+lestari

    November 6, 2014 at 12:17 am

    BAB III
    PENUTUP
    3.1 Kesimpulan
    Bidang garapan manajemen pendidikan meliputi:
    1. Manajemen Kesiswaan.
    2. Manajemen Pengajaran
    3. Manajemen Personil
    4. Manajemen Persuratan dan Kearsipan
    5. Manajemen Keuangan
    6. Manajemen Perlengkapan
    7. Manajemen Hubungan Masyarakat
    Ada tiga masalah utama yang perlu mendapat perhatian dalam bidang kesiswaan yaitu:
    • Masalah penerimaan siswa baru
    • Masalah kemajuan belajar dan evaluasi belajar
    • Masalah bimbingan

    1. Manajemen Kurikulum
    Kurikulum ini kemudian perlu dijabarkan dalam kegiatan pengajaran di sekolah seperti perencanaan kegiatan pengajaran/pembuatan kalender pendidikan, penjadwalan, program pengajaran catur wulan/semester/tahunan hingga persiapan mengajar serta evaluasinya.
    a. Manajemen persuratan dan kearsipan antara lain :
    • Korespondensi/surat-menyurat, dsb.
    • Penyimpanan arsip/dokumentasi.
    • Laporan bulanan/tahunan
    • Daftar statistik, grafik dll.
    b. Manajemen yang berhubungan dengan keuangan antara lain :
    • Buku kas
    • Buku tabelaris
    • Daftar gaji
    • Daftar honorium
    • Surat Pertanggungjawaban (SPJ), dsb.
    c. Manajemen perlengkapan meliputi:
    • Penambahan ruang kelas atau ruang yang lai
    • Rehabilitasi bagian-bagian yang rusak
    • Perbaikan perlengkapan dan peralatan
    • Penambahan perlengkapan dan peralatan
    • Memodernisasikan perlengkapan dan peralatan , dll
    d. Manjemen yang berhubungan dengan hubungan masyarakat:
    • Buku catatan kunjungan orang tua siswa/buku tamu
    • Buku agenda
    • Buku ekspedisi
    • Daftar orang tua siswa
    • Daftar perusahaan/industri terkait, dsb.
    2. Manajemen personil merupakan pengelolaan yang berhubungan dengan para staf-staf guru ataupun karyawan dalam memenuhi kebutuhan sekolah yang meliputi:
    • Perencanaan Kebutuhan
    • Penerimaan dan Penempatan Tenaga
    • Penyelenggaraan Program Orientasi.
    • Pembinaan dan Pengembangan Staf

     
  6. Ni Kadek Neza Dwiyanti

    November 6, 2014 at 10:49 pm

    TUGAS ADMINISTRASI PENDIDIKAN DIV BIDAN PENDIDIK (PROGSUS)
    PERANAN PEMIMPIN DALAM PENDIDIKAN
    OLEH :
    NI KADEK NEZA DWIYANTI
    OKTAVIA GALI PERMATASARI

    AKADEMI KEBIDANAN WIRA HUSADA NUSANTARA(WHN) TAHUN AJARAN 2014/2015

    Bab I PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang
    Era globalisasi sebagai era tanpa batas, salah satunya ditandai dengan persaingan dunia usaha yang semakin ketat. Setiap perusahaan atau di suatu organisasi tertentu berusaha memenangkan persaingan dengan mendayagunakan segenap sumber daya yang dimiliki. Salah satu sumber daya itu adalah Sumber Daya Manusia (SDM). SDM merupakan sumber daya yang memegang peran sentral di suatu perusahaan maupun di dalam suatu organisasi tertentu. Hal ini tidak di dukung dengan adanya peralatan yang secanggih apapun juga, namun akan lebih berarti jika adanya SDM yang mampu dimanfaatkan demi mendukung pencapaian tujuan dari suatu perusahaan maupun organisasi tertentu. Mengingat pentingnya peran SDM, maka merupakan harapan setiap perusahaan maupun organisasi memiliki manusia-manusia berkualitas yang akan memudahkan mereka dalam mencapai tujuannya.
    Namun, kualitas tinggi (kemampuan) saja belum cukup untuk melahirkan kinerja yang baik, karena kinerja merupakan fungsi dari kemampuan dan motivasi karyawan. Dengan anggapan bahwa kemampuan karyawan telah memadai, maka perusahaan maupun suatu organisasi harus lebih memperhatikan motivasi dari karyawan nya.
    Berdasarkan uraian diatas, kami akan menjelaskan mengenai bagaimana penting nya seorang pemimpin dalam mengkoordinasi bawahan nya ,yang meliputi : peran dari pemimpin di dalam suatu organisasi tertentu, tipe-tipe kepemimpinan ,sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, syarat menjadi seorang pemimpin, faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seorang pemimnpin, dan pengambilan keputusan yang pada akhirnya akan diambil oleh seorang pemimpin.
    1.2 Rumusan Masalah
    Rumusan masalah dalam makalah ini adalah “Apakah peranan pemimpin dalam pendidikan, tipe-tipe kepemimpinan, sifat-sifat kepemimpinan, syarat-syarat kepemimpinan, faktor-faktor yang mempengaruhi serta pengambilan keputusan ?”
    1.3 Tujuan
    a. Memahami peranan pemimpin dalam pendidikan
    b. Memahami tipe-tipe kepemimpinan
    c. Memahami sifat-sifat kepemimpinan
    d. Memahami syarat-syarat kepemimpinan
    e. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi
    f. Memahami pengambilan keputusan

    Bab II TINJAUAN PUSTAKA
    2.1 Peranan Pemimpin dalam Pendidikan

    Definisi peranan pemimpin adalah seperangkat perilaku yang diharapkan dilakukan oleh seseorang sesuai kedudukannya sebagai seorang pemimpin.

    Kepemiminan dalam pendidikan Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kepemimpinan dapat berperan dengan baik, antara lain:
    • Dasar utama dalam efektivitas kepemimpinan bukan pengangkatan atau penunjukannya, melainkan penerimaan orang lain terhadap kepemimpinan yang bersangkutan
    • Efektivitas kepemimpinan tercermin dari kemampuannya untuk tumbuh dan berkembang
    • Efektivitas kepemimpinan menuntut kemahiran untuk “membaca” situasi
    • Skill dan Kemampuan tidak tumbuh begitu saja melainkan melalui pertumbuhan dan perkembangan
    • Kehidupan organisasi yang dinamis dan serasi dapat tercipta bila setiap anggota mau menyesuaikan cara berfikir dan bertindaknya untuk mencapai tujuan organisasi.
    Peranan pemimpin dalam pendidikan :
    • Membantu menciptakan iklim sosial yang baik
    • Membantu kelompok untuk mengorganisasikan diri
    • Membantu kelompok dalam menetapkan prosedur kerja
    • Mengambil tanggungjawab untuk menetapkan keputusan bersama dengan kelompok
    • Memberi kesempatan pada kelompok untuk belajar dari pengalaman
    1. Tipe – Tipe Kepemimpinan

    Tipe – Tipe Kepemimpinan terdiri dari 6 yaitu :
    1.Tipe Otokratis
    Ciri-cirinya antara lain:
    a. Mengandalkan kepada kekuatan / kekuasaan
    b. Menganggap dirinya paling berkuasa
    c. Keras dalam mempertahankan prinsip
    d. Jauh dari para bawahan
    e. Perintah diberikan secara paksa
    2. Tipe Laissez Faire
    Ciri-cirinya antara lain :
    a. Memberi kebebasan kepada para bawahan
    b. Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan
    c. Semua pekerjaab dan tanggung jawab dilimpahkan kepada bawahan
    d. Tidak mempunyai wibawa
    e. Tidak ada koordinasi dan pengawasan yang baik
    3. Tipe Paternalistik
    Ciri-cirinya antara lain :
    a. Pemimpin bertindak sebagai bapak
    b. Memperlakukan bawahan sebagai orang yang belum dewasa
    c. Selalu memberikan perlindungan
    d. Keputusan ada ditangan pemimpin
    4. Tipe Kepemimpinan
    Ciri-cirinya antara lain :
    a. Dalam komunikasi menggunakan saluran formal
    b. Menggunakan sistem komanda/perintah
    c. Segala sesuatu bersifat formal
    d. Disiplin yang tinggi, kadang bersifat kaku

    5. Tipe Demokratis
    Ciri- cirinya antara lain :
    a. Berpatisipasi aktif dalam kegiatan organisasi
    b. Bersifat terbuka
    c. Bawahan diberi kesempatan untuk member saran dan ide – ide baru
    d. Dalam pengambilan keputusan utamakan musyawarah untuk mufakat
    e. Menghargai potensi individu
    6. Tipe Open Leadership
    Tipe ini hampir sama dengan tipe demokratis. Perbedaannya terletak dalam hal pengambilan keputusan. Dalam tipe ini keputusan ada ditangan pemimpin.
    2.2 Sifat – Sifat Kepemimpinan
    Dalam amanatnya mengenai masalah kepemimpinan berdasarkan falsafah Pancasila, Jenderal Soeharto menyimpulkan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu :
    1. Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu kesadaran beragama dan beriman teguh
    2. Hing ngarsa sung tulada, yaitu memberi suri-tauladan yang baik di hadapan anak buah.
    3. Hing madya mangun karsa, yaitu bergiat dan menggugah semangat di tengah-tengah masyarakat (anak buah).
    4. Tut Wuri handayani, yaitu memberi pengaruh baik dan mendorong dari belakang kepada anak buah.
    5. Waspada purba wisesa, yaitu mengawasi dan berani mengoreksi anak buah.
    6. Ambeg parama arta, yaitu memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan.
    7. Prasaja, yaitu bertingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan
    8. Satya, yaitu sikap loyal timbal balik dari atasan terhadap bawahan, dari bawahan terhadap atasan dan juga ke samping.
    9. Hemat, yaitu kesadaran dan kemampuan membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu untuk keperluan yang benar-benar penting.
    10. Sifat terbuka, yaitu kemauan, kerelaan, keikhlasan, dan keberanian untuk mempertanggung jawabkan tindakan-tindakannya.
    11. Penerusan, yaitu kemauan, kerelaan, dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tugas dan tanggung jawab serta kedudukan kepada generasi muda guna diteruskannya.

    Ada beberapa syarat-syarat kepemimpinan yang harus ada dalam seorang pemimpin. Syarat-syarat tersebut merupakan hal yang pokok yang harus dimiliki seorang pemimpin agar dalam memimpin ia mempunyai kekuasaan dan wibawa sebagai seorang pemimpin. Abdul Sani dalam bukunya “ Manajemen Organisasi” mengemukakan adanya beberapa syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam memimpin bawahannya agar lebih efektif
    2.3 Faktor – faktor yang Mempengaruhi
    faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan di bagi menjadi dua faktor besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang muncul dari dalam diri pemimpin, sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang terkait dengan karakteristik bawahan dan situasi. Termasuk didalamnya situasi organisasi dan sosial.
    2.4 Pengambilan Keputusan

    Peran Pemimpin Dalam Pengambilan Keputusan, dalam tinjauan perilaku mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Untuk mengetahui baik tidaknya keputusan yang diambil bukan hanya dinilai dari konsekuensi yang ditimbulkannya, melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya.
    Gaya pengambilan keputusan, Gaya adalah lear habit atau kebiasaan yang dipelajari. Gaya pengambilan keputusan merupakan kuadran yang dibatasi oleh dimensi. Cara berpikir, terdiri dari:
    • Logis dan rasional; mengolah informasi secara serial
    • Intuitif dan kreatif; memahami sesuatu secara keseluruhan.
    • Toleransi terhadap ambiguitas
    • Kebutuhan yang tinggi untuk menstruktur informasi dengan cara meminimalkan ambiguitas
    • Kebutuhan yang rendah untuk menstruktur informasi, sehingga dapat memproses banyak pemikiran pada saat yang sama.
    BAB III PENUTUP
    KESIMPULAN

    Dari uraian di atas bahwa untuk menjadi seorang pemimpin harus mempunyai kecerdasan, tanggungjawab, serta mempunyai kedudukan sosial yang tinggi di dalam suatu masyarakat dan seorang pemimpin harus mempunyai sifat kepemimpinan di dalam dirinya. Serta untuk menjadi seorang pemimpin diperlukan kemampuan untuk melihat organisasi secara keseluruhan, bisa mendelegasikan wewenang, bisa membuat pengikutnya setia serta dapat membuat kepetusan.
    Faktor keberhasilan sorang pemimpin dalam memimpin organisasinya tidak hanya dia mampu mengerahkan bawahannya tetapi pemimpin tersebut harus lebih mempunyai sikap bijaksana, mahir dalam manajemen, mempunyai jiwa sosial yang tinggi serta mempunyai kecakapan, dengan demikian pemimpin akan berhasil membawa kemajuan untuk organisasinya. Tanpa itu semua pemimpin tidak akan dapat membuat kemajuan untuk organisasinya.

     
  7. SINTA RESKY MUSTIKASARI

    November 12, 2014 at 12:47 pm

    MAKALAH
    ADMINISTRASI PENDIDIKAN
    PRINSIP BELAJAR TUNTAS

    Disusun Oleh:
    Kelompok IX
    Anggota Kelompok :
    1. Ifa Nurhasanah
    2. Yusdiana
    3. Sinta Resky M

    PROGRAM STUDI D4 PROGSUS
    UNIVERSITAS TRIBUANA TUNGGA DEWI MALANG
    2014

    Kata pengantar
    Assalamualaikum. Wr.Wb

    Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang mana atas berkat dan rahmat-NYA lah kami dapat menyelesaikan penulisan makalah bertopik pengertian belajar tuntas dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti.
    Kami sangat berterima kasih kepada bapak “Drs. Heru Susilo, MA “ selaku dosen pengajar, yang mana selama ini telah membimbing kami dalam mempelajari materi Administrasi Pendidikan, dan secara tidak langsung telah memberikan kontribusi dalam penyelesaian penulisan makalah ini.
    Dan akhirnya, kami berharap makalah ini dapat membantu para pembaca untuk mempelajari dan memahami apa itu Pengertian Belajar Tuntas. Mungkin makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu kami sebagai penyusun makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran bagi seluruh pembaca demi perbaikan makalah ini untuk tahun berikutnya.

    Wassalamualaikum. Wr. Wb

    28-10-2014

    Penulis

    BAB 1
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Salah satu di antara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar, khususnya peserta didik. Masalah lain adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis, belum memanfaatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual. Demikian juga proses pendidikan dalam sistem persekolahan kita, umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai peserta didik menguasai materi pembelajaran secara tuntas. Akibatnya, banyak peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolah. Tidak heran kalau mutu pendidikan secara nasional masih rendah.
    Pada dasarnya bakat merupakan indeks kemampuan seseorang, melainkan sebagai ukuran kecepatan belajar (measures of learning rate) artinya seorang yang memiliki bakat tinggi memerlukan waktu relatif sedikit untuk mencapai taraf penguasaan bahan dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki bakat rendah. Dengan demikian peserta didik dapat mencapai penguasaan penuh terhadap bahan yang disajikan, bila kualitas pembelajaran dan kesempatan waktu belajar dibuat tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
    Proses pendidikan dalam sistem persekolahan selama ini umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai peserta didik menguasai materi pembelajaran secara tuntas. Akibatnya tidak aneh bila banyak peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolah. Tidak heran pula kalau mutu pendidikan secara nasional masih rendah. Pembelajaran bukan hanya terbatas pada peristiwa yang dilakukan oleh guru saja melainkan mencakup semua peristiwa yang mempunyai pengaruh langsung pada proses belajar manusia. Menempatkan peserta didik sebagai subjek didik yakni lebih banyak mengikutsertakan peserta didik dalam proses pembelajaran.

    1.2 Rumusan Masalah
    1.2.1 Apa Pengertian Belajar Tuntas?
    1.2.2 Apa Prinsip Belajar Tuntas?
    1.2.3 Apa Tujuan Belajar Tuntas?
    1.2.4 Bagaimana Model Belajar Tuntas?
    1.2.5 Bagaimana Peran Pendidik dalam Pembelajaran Tuntas?

    1.3 Tujuan
    1.3.1 Mengetahui Pengertian Belajar Tuntas
    1.3.2 Mengetahui Prinsip Belajar Tuntas
    1.3.3 Mengetahui Tujuan Belajar Tuntas
    1.3.4 Mengetahui Model Belajar tuntas

    BAB II
    PEMBAHASAN
    2.1 Pengertian Belajar Tuntas
    Pembelajaran tuntas adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan secara individual. Dalam hal pemberian kebebasan belajar, serta untuk mengurangi kegagalan peserta didik dalam belajar. Pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Belajar tuntas (mastery learning) adalah filosofi pembelajaran yang berdasar pada anggapan bahwa semua peserta didik dapat belajar bila diberi waktu yang cukup dan kesempatan belajar yang memadai. Selain itu, dipercayai bahwa peserta didik dapat mencapai penguasaan akan suatu materi bila standar kurikulum dirumuskan dan dinyatakan dengan jelas, penilaian mengukur dengan tepat kemajuan peserta didik dalam suatu materi dan pembelajaran berlangsung sesuai dengan kurikulum.
    Dalam metode belajar tuntas, peserta didik tidak berpindah ke tujuan belajar selanjutnya bila ia belum menunjukkan kecakapan dalam materi sebelumnya. Dengan menempatkan pembelajaran tuntas (mastery learning) sebagai salah satu prinsip utama dalam mendukung pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, berarti pembelajaran tuntas merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh warga sekolah. Dalam pembelajaran tuntas metode pembelajaran yang sangat ditekankan adalah pembelajaran individual, pembelajaran dengan teman atau sejawat (peer instruction) dan bekerja dalam kelompok kecil. Berbagai jenis metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk kelas atau kelompok.
    Pembelajaran tuntas lebih efektif menggunakan pendekatan tutorial dengan sesion-sesion kelompok kecil, tutorial orang perorang, pembelajaran terprogram, buku-buku kerja, permainan dan pembelajaran berbasis komputer. Kurikulum belajar tuntas biasanya terdiri dari beberapa topik berbeda yang mulai dipelajari oleh para peserta didik secara bersamaan. Peserta didik yang tidak menyelesaikan suatu topik dengan memuaskan diberi pembelajaran tambahan sampai mereka berhasil. Peserta didik yang menguasai topik tersebut lebih cepat akan dilibatkan dalam kegiatan pengayaan sampai semua peserta didik dalam kelas tersebut bisa melanjutkan ke topik lainnya secara bersama-sama. Dalam lingkungan belajar tuntas, guru melakukan berbagai teknik pembelajaran, dengan pemberian umpan balik yang banyak dan spesifik menggunakan tes diagnostik, tes formatif, dan pengoreksian kesalahan selama belajar. Tes yang digunakan di dalam metode ini adalah tes berdasarkan acuan kriteria dan bukan atas acuan norma

    2.2 Prinsip Belajar Tuntas
    Kualitas pengajaran adalah tingkat pengajaran , penjelasan, dan pengaturan dari unsur-unsur tugas pealajaranyang telah di capai secara optimum untuk kepentingan setiap peserta didik. Kualitas pengajaran ditentukan oleh kualitas penyajian, penjelasan, pengaturan unsur-unsur tugas belajar yang mendekati tahap optimum untuk peserta didik tertentu. Inti persoalan dalam hubungan kualitas pengajaran ini adalah pengembangan metode-metode mengajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta secara individual sehingga dapat menghasilkan tingkat penguasaan bahan yang hampir sama pada semua peserta didik yang berbeda beda bakatnya. Dengan demikian proses yang berorientasi pada prinsip belajar tuntas harus dimulai dengan penguasaan bagian terkecil untuk kemudian dapat melanjutkan ke dalam satuan atau unit berikutnya. Dengan kata lain ditentukan bahwa seorang peserta didik yang mempelajari unit satuan pembelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan pembelajaran berikutnyajika peserta didik yang bersangkutan telah menguasai sekurang-kurangnya 75% dari kompetensi dasar yang ditetapkan. Dengan tercapainya tingkat penguasaan hasil belajar yang tinggi maka akan menunjukkan sikap mental yang sehat pada peserta didik yang bersangkutan.
    Adapun prinsip-prinsip pembelajaran tuntas adalah sebagai berikut:
    1. Kompetensi yang harus dicapai peserta didik dirumuskan dengan urutan yang hirarkis
    2. Penilaian acuan patokan, dan setiap kompetensi harus diberikan feedback
    3. Pemberian pembelajaran remedial serta bimbingan yang diperlukan
    4. Pemberian program pengayaan bagi peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar lebih awal

    2.3 Tujuan Belajar tuntas
    Tujuan belajar tuntas adalah meningkatkan pencapaian suatu pembelajaran. Pencapaian tujuan khusus yang berkaitan dengan pola tersebut berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta pengembangan sikap melalui proses pembelajaran. Efektivitas merupakan suatu konsep yang sangat penting, karena mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan seseorang dalam mencapai sasarannya atau suatu tingkatan terhadap makna tujuan – tujuan dicapai atau tingkat pencapaian tujuan. Sementara itu belajar dapat pula dikatakan sebagai komunikasi terencana yang menghasilkan perubahan atas sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam hubungan dengan sasaran berperilaku yang diperlukan individu untuk mewujudkan secara lengkap tugas atau pekerjaan tertentu.

    2.5 Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran
    a. Kelebihan Belajar Tuntas
    1 Memungkinkan siswa belajar lebih aktif, karena memberikan kesempatan mengembangakn diri, dan memecahkan masalah sendiri dengan menemukan dan bekerja sendiri.
    2 Berorientasi pada peningkatan produktivitas hasil belajar, yakni menguasai bahan ajar secara tuntas.
    3 Guru dan siswa bekerjasama secara partisipatif dan persuasive.
    4 Penilaian yang dilakukan mengandung nilai obyektifitas yang tinggi karena penilaian dilakukan oleh guru, teman dan diri sendiri.
    5 Strategi ini tidak mengenal kegagalan siswa, karena siswa yang kurang mampu dibantu oleh guru dan temannya.
    6 Menyediakan waktu berdasarkan kebutuhan masing-masing individu.
    7 Mengaktifkan para guru sebagai regu yang harus bekerjasama secara efektif sehingga proses belajar mengajar dapat dilaksanakan secara optimal.

    b. Kekurangan Belajar Tuntas
    1. Sulit dalam pelaksanaan karena melibatkan berbagai kegiatan.
    2. Guru-guru masih kesulitan membuat perencanaan karena dibuat dalam satu semester.
    3. Guru-guru yang sudah terlanjur menggunakan teknik lama sulit beradaptasi.
    4. Memerlukan berbagai fasilitas, dan dana yang cukup besar.
    5. Menuntut para guru untuk lebih menguasai materi lebih luas lagi dari standar yang ditetapkan.
    6. Diberlakukannya sistem ujian (EBTA atau EBTANAS) yang menuntut penyelenggaraan program bidang studi pada waktu yang telah ditetapkan dan usaha persiapan siswa untuk menempuh ujian.

    2.6 Tahap Pembelajaran

    a. Pembangkitan Minat
    Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dan keingintahuan (curiosity) siswa tentang topik yang diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan dengan proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang berhubungan dengan topik pembahasan).
    b. Eksplorasi
    Pada tahap eksoplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil atara 2-4 siswa, kemudian diberikan kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil anpa pembelajaran langsung dari guru. Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilisator dan motivator.
    c. Penjelasan
    Pada tahap penjelasan, guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kalimat atau pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar sacara kritis penjelasan antar siswa atau guru.
    d. Elaborasi
    Pada tahap ini siswa menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian, siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan atau mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru.
    e. Evaluasi
    Pada tahap ini guru dapat mengamati pengetahuan dan pemahaman siswa dalam penerapan konsep baru. Hasil evaluasi dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi tentang proses penerapan metode siklus belajar yang sedang diterapkan, apakah sudah berjalan dengan sangat baik, cukup baik, atau masih kurang. Demikian pula melalui evaluasi diri, siswa akan dapat mengetahui kekurangan atau kemajuan dalam proses pembelajaran yang sudah dilakukan.

    2.7 Model Belajar Tuntas
    Model pelajaran merupakan konsep yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang dan para pendidik dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar. Hal ini berlaku baik bagi guru (dalam pemilihan metode mengajar) maupun bagi peserta didik. Dengan demikian makin baik metode, akan makin efektif pula pencapaian tujuan. Langkah metode pembelajaran yang dipilih memainkan peranan utama yang berakhir pada semakin meningkatnya prestasi belajar peserta didik. Pembelajaran tuntas (mastery learning) dalam proses pembelajaran berbasis kompetensi dimaksudkan adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. Dalam model yang paling sederhana, dikemukakan bahwa jika setiap peserta didik diberikan waktu sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat penguasaan, dan jika dia menghabiskan waktu yang diperlukan, maka besar kemungkinan peserta didik akan mencapai tingkat penguasaan kompetensi. Tetapi jika peserta didik tidak diberi cukup waktu atau dia tidak dapat menggunakan waktu yang diperlukan secara penuh, maka tingkat penguasaan kompetensi peserta didik tersebut belum optimal. Tingkat penguasaan kompetensi peserta didik merupakan model yang menggambarkan bahwa tingkat penguasaan kompetensi (degree of learning) ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang benar-benar digunakan (time actually spent) untuk belajar dibagi dengan waktu yang diperlukan (time needed) untuk menguasai kompetensi tertentu. Dalam pembelajaran konvensional, bakat (aptitude) peserta didik tersebar secara normal. Jika kepada mereka diberikan pembelajaran yang sama dalam jumlah pembelajaran dan waktu yang tersedia untuk belajar, maka hasil belajar yang dicapai akan tersebar secara normal pula. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hubungan antara bakat dan tingkat penguasaan adalah tinggi.

    2.8 Peran Pendidik dalam pembelajaran tuntas
    Peran Guru Pada Pembelajaran Tuntas adalah
    a. Menjabarkan KD (Kompetensi Dasar) ke dalam satuan-satuan (unit-unit) yang lebih kecil dengan memperhatikan pengetahuan prasyarat.
    b. Menata indikator berdasarkan cakupan serta urutan unit.
    c. Menyajikan materi dengan metode dan media yang sesuai.
    d. Memonitor seluruh pekerjaan peserta didik.
    e. Menilai perkembangan peserta didik dalam pencapaian kompetensi (kognitif, psikomotor, dan afektif).
    f. Menggunakan teknik diagnostik.
    g. Menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi peserta didik yang mengalami kesulitan.

    BAB III
    PENUTUP
    3.1 Kesimpulan
    Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Dengan menempatkan pembelajaran tuntas (mastery learning) sebagai salah satu prinsip utama dalam mendukung pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, berarti pembelajaran tuntas merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Selain itu dalam proses pembelajaran yang berbasis kompetensi dimaksudkan agar peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu.
    3.2 Saran
    Dengan penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca untuk lebih mengetahui tentang PRINSIP BELAJAR TUNTAS, dan harapan kami makalah ini dapat dijadikan rujukan bagi penulis lain untuk menambah referensinya.

    BAB IV
    DAFTAR PUSTAKA

    1 Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.PT.Remaja
    Rosdakarya: Jakarta.
    2 Ahmadi, Abu, dkk. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CVPustaka Setia
    3 Http://andeieirfan.multiply.com/journal/item/5/model_mastery_learning.

     
  8. Ciptasari Y dan Nurul Halimatus S

    November 13, 2014 at 11:43 pm

    TEKNIK SUPERVISI

    MAKALAH

    Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas Mata Kuliah Administrasi Pendidikan
    Dosen Pembimbing : Drs. Heru Susilo, MA

    Oleh
    Ciptasari Yunarko
    Nurul Halimatus Sa’diah

    `DIV BIDAN PENDIDIK
    UNIVERSITAS TRIBHUANA TUNGGADEWI
    MALANG
    2014

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya, sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. kami bersyukur kepada Ilahi Rabbi yang telah memberikan Hidayah dan Taufik-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Teknik Supervisi” terselesaikan dengan baik. Makalah ini berisikan tentang fungsi teknik supervisi, kunjungan kelas, pertemuan pribadi, rapat staff, dan teknik meningkat.
    Dengan tersusunnya makalah ini, kami berharap dapat lebih memahami secara mendalam tentang Teknik Supervisi. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah atau penyusunan makalah berikutnya menjadi lebih baik.
    Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada Dosen Pembimbing kami, Bapak Drs. Heru Susilo, MA. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kami. Amiin.

    Malang, 25 Oktober 2014

    Penyusun

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Jika kita melihat kondisi pendidikan kita saat ini, maka kita dapat merasakan kurangnya pendidikan kita dalam segi mutu. Ini bisa direfleksikan dengan banyaknya pengangguran di Indonesia, baik itu pengangguran yang usia produktif atau tidak, baik itu pengangguran dengan ketergantungan atau tidak. Banyaknya pengangguran ini merupakan dampak langsung dan sistemik dari kualitas hasil dari pendidikan yang rendah sehingga mereka yang telah lulus menempuh pendidikan sukar bersaing dengan orang lain demi mendapatkan pekerjaan yang layak karena tidak terpenuhinya kualifikasi pasar pegawai. Hal ini berimbas dengan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia yang rendah. Tak ayal, kualitas mutu pendidikan selalu dikaitkan dengan tingkat ekonomi suatu negara.
    Sangat sulit bagi kita untuk menetapkan satu penyebab utama dari fenomena miris tersebut. Karena fenomena ini sudah sangat sistematis dan layaknya kita mengurai benang kusut yang sulit diketemukan ujungnya. Namun demikian , sebuah pendidikan memiliki jantung kehidupannya, yaitu sekolah, sehingga penelusuran kita akan penyebab dari rendahnya mutu pendidikan adalah sekolah itu sendiri. Maka dalam hal ini penyelenggaraan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru harus diperhatikan.
    Masalah penyelenggaraan belajar mengajar ini adalah menyangkut tentang kualitas guru itu sendiri, diantaranya yang terkait adalah masalah kualitas mengajar dari guru tersebut. Untuk itu, perlu adanya proses pengawasan dan pembinaan terus menerus dan kontinu. Masalah ini berhubungan erat dengan supervisi pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah selalu pemimpin kepada guru-gurunya. Dengan adanya aktivitas ini, diharapkan langsung dapat memperbaiki situasi belajar mengajar dari yang sebelumnya. Dari uraian tersebut, maka penulis mencoba menuangkan permasalahan tersebut dalam makalah ini yang berjudul “Teknik Supervisi”.
    1.2 Rumusan Masalah
    Adapun rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut :
    1.2.1 Fungsi teknik supervisi
    1.2.2 Kunjungan kelas
    1.2.3 Pertemuan pribadi
    1.2.4 Rapat staff
    1.2.5 Teknik meningkat
    1.3 Tujuan penulisan
    Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
    1.3.1 Untuk mengetahui fungsi teknik supervisi
    1.3.2 Untuk memahami tujuan dari kunjungan kelas
    1.3.3 Untuk memahami proses pertemuan pribadi
    1.3.4 Untuk mengetahui tujuan rapat staff
    1.3.5 Untuk mempelajari teknik meningkat dalam supervisi

    BAB II
    PEMBAHASAN
    2.1 Fungsi Teknik Supervisi
    Wilem Mantja (2007) mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan supervisor (jabatan resmi) yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan. Willem Mantja memandang supervisi sebagai kegiatan untuk perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan.
    Mulyasa (2006) supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor, tetapi dalam sistem organisasi modern diperlukan supervisor khusus yang lebih independent, dan dapat meningkatkan obyektivitas dalam pembinaan dan pelaksanaan tugas.
    Teknik supervisi Pendidikan adalah alat yang digunakan oleh supervisor untuk mencapai tujuan supervisi itu sendiri yang pada akhirnya dapat melakukan perbaikan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Dalam pelaksanaan supervisi pendidikan, sebagai supervisor harus mengetahui dan memahami serta melaksanakan teknik – teknik dalam supervisi. Berbagai macam teknik dapat digunakan oleh supervisor dalam membantu guru meningkatkan situasi belajar mengajar, baik secara kelompok maupun secara perorangan ataupun dengan cara langsung bertatap muka dan cara tak langsung bertatap muka atau melalui media komunikasi (Sagala 2010 : 210).
    Adapun fungsi dari teknik supervisi yaitu:
    2.1.1 Fungsi meningkatkan mutu pembelajaran ruang lingkupnya sempit, hanya tertuju pada aspek akademik, khususnya yang terjadi di ruang kelas ketika guru sedang memberikan bantuan dan arahan kepada siswa.
    2.1.2 Fungsi memicu unsur yang terkait dengan pembelajaran lebih dikenal dengan nama supervisi administrasi
    2.1.3 Fungsi membina dan memimpin
    2.2 Kunjungan Kelas
    2.2.1 Pengertian
    Kepala sekolah atau supervisor datang ke kelas untuk melihat cara guru mengajar dikelas.
    2.2.2 Tujuan
    Kunjungan kelas bertujuan memperoleh data mengenai keadaan sebenarnya selama guru mengajar. Dengan data itu supervisor dapat berbincang-bincang dengan guru tentang kesulitan yang dihadapi guru-guru. Pada kesempatan itu guru-guru dapat mengemukakan pengalaman-pengalaman yang berhasil dan hambatan-hambatan yang dihadapi serta meminta bantuan, dorongan, dan mengikutsertakan. Oleh karena sifatnya mengadakan peninjauan dan mempelajari sesuatu yang dilihat sementara guru mengajar, maka sering disebut observasi kelas.
    2.2.3 Fungsinya
    Kunjungan kelas ini berfungsi sebagai alat untuk mendorong guru agar meningkatkan cara mengajar guru dan cara belajar siswa. Kunjungan ini dapat memberi kesempatan guru-guru untuk mengungkap pengalamanya sekaligus sebagai usaha untuk memberikan rasa mampu pada guru-guru. Karena guru dapat belajar dan memperoleh pengertian secara moral bagi pertumbuhan kariernya.
    2.2.4 Teknis Pelaksanaan Kunjungan Kelas
    Dalam teknis pelaksanaan kunjungan kelas tersebut dapat dibedakan antara kunjungan lengkap dengan kunjungan spesifik. Kunjungan lengkap ialah kunjungan yang dilakukan untuk mengobservasi seluruh aspek belajar-mengajar, misalnya persiapan belajar guru, sarana atau alat pelajaran, keterlibatan siswa, tujuan yang dicapai, materi, metode, dan sebagainya. Sedangkan kunjungan spesifik ialah kunjungan yang dilakukan untuk mengobservasi suatu aspek tertentu; misalnya mengobservasi metode pengajaran saja, atau penilaian guru terhadap hasil belajar siswa saja dan seterusnya.
    2.2.5 Jenis-Jenis Kunjungan
    a. Kunjungan tanpa diberi tahu (unannounced visitation). Supervisor tiba-tiba datang kesekolah tanpa diberitahu dahulu.
    Segi positifnya: Ia dapat melihat keadaan yang sebenarnya, tanpa dibuat-buat. Hal seperti ini dapat membiasakan guru agar selalu mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
    Segi negatifnya: Guru menjadi gugup, karena tiba-tiba didatangi supervisor. Tentu timbul prasangka bahwa ia dinilai dan pasti hasilnya tidak memuaskan. Ada sebagian guru-guru yang tidak senang bila tiba-tiba dikunjungi tanpa diberitahu lebih dahulu.

    b. Kunjungan dengan cara memberitahu lebih dahulu (announced visitation). Biasanya supervisor telah memberikan jadwal kunjungan sehingga guru-guru tahu hari dan jam berpa ia akan dikunjungi supervisior.
    Segi positifnya: Bagi supervisor perkunjungan direncanakan ini sangat tepat dan ia punya konsep pengembangan yang kontinu dan terencana. Guru-guru dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya karena ia sadar bahwa kunjungan tersebut akan membantu dia untuk dinilai. Tentu saja penilaian baik yang diharapakan.
    Segi negatifnya: Guru dengan sengaja mempersiapkan diri sehingga ada kemungkinan timbul hal-hal yang dibuat-buat dan serba berlebihan.
    c. Kunjungan atas undangan guru (visit upon invitaiton). Kunjungan ini akan lebih baik. Oleh karena itu guru punya usaha dan motivasi untuk mempersiapkan diri dan membuka diri agar dia dapat memperoleh pengalaman baru dari pertemuannya dengan supervisior. Pada sisi lain sifat keterbukaan dan merasa memiliki otonomi dalam jabatannya. Aktualisasi kemampuan terwujud sehingga ia selalu belajar untuk mengembangkan dirinya. Sikap dan dorongan untuk mengembangkan diri ini merupakan alat untuk mencapai tingkat profesional.
    Segi postifnya: bagi supervisor, ia sendiri dapat belajar berbagai pengalaman dalam berdialog dengan guru sedangkan guru akan lebih mudah untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuannya, karena motivasi untuk belajar dari pengalaman dan bimbingan dari supervisor tumbuh dari dalam dirinya sendiri.
    Segi negatifnya: ada kemungkinan timbul sikap manipulasi, yaitu dengan dibuat-buat untuk menonjolkan diri, padahal waktu-waktu biasa ia tidak berbuat seperti itu.
    2.3 Pertemuan Pribadi (Individual Conference)
    2.3.1 Pengertian
    Individual conference atau pertemuan pribadi antara seorang supervisor dengan seorang guru. Dalam percakapan itu kedua-duanya berusaha berjumpa dengan pengertian tentang mengajar yang baik. Yang dipercayakan adalah usaha-usaha untuk memecahkan problema yang dihadapi oleh guru.
    2.3.2 Tujuan
    a. Untuk memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan-pemecahan kesulitan yang dihadapi.
    b. Meningkatkan dan mengembangkan hal mengajar yang lebih baik lagi.
    c. Memperbaiki kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang sering dialami oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya disekolah. Misalnya: malas membuat persiapan, kurang membaca buku-buku yang terbaru, malas mengoreksi, dan mengembalikan kertas ulangan murid dan lain-lainya.
    d. Menghilangkan dan menghindari prasangka yang bukan-bukan.
    2.3.3 Jenis – jenis Pertemuan Pribadi
    a. Pertemuan pribadi setelah kunjungan kelas (Formal)
    b. Pertemuan pribadi melalui percakapan biasa sehari – hari (Informal)
    2.4 Rapat Staff
    2.4.1 Pengertian
    Rapat staff (guru) adalah teknik supervisi kelompok melalui rapat yang dilakukan untuk membicarakan proses pembelajaan, dan upaya atau cara meningkatkan profesi guru. (Pidarta 2009 : 71).
    2.4.2 Tujuan
    • Menyatukan pandangan – pandangan guru tentang masalah – masalah dalam mencapai makna dan tujuan pendidikan.
    • Memberikan motivasi kepada guru untuk menerima dan melaksanakan tugas – tugasnya dengan baik serta dapat mengembangkan diri dan jabatan mereka secara maksimal.
    • Menyatukan pendapat tentang metode kerja yang baik guna pencapaian pengajaran yang maksimal.
    • Membicarakan sesuatu melalui rapat guru yang bertalian dengan proses pembelajaran.
    • Menyampaikan informasi baru seputar belajar dan pembelajaran, kesulitan – kesulitan mengajar, dan cara mengatasi kesulitan mengajar secara bersama dengan semua guru disekolah.
    2.4.3 Macam-macam Rapat Staff (guru)
    a. Menurut Tingkatannya
    1) Staff-meeting yaitu rapat guru-guru dalam satu sekolah yang dihadiri oleh seluruh atau sebagian guru di sekolah tersebut.
    2) Rapat guru bersama orang tua murid atau murid-murid/ wakilnya.
    3) Rapat guru sekota, sewilayah, serayon, dari sekolah-sekolah yang sejenis dan setingkat.
    b. Menurut Waktunya
    1) Rapat permulaan dan akhir tahun
    2) Rapat periodik
    3) Rapat- rapat yang bersifat incidental
    c. Menurut Bentuknya
    1) Individual Conference
    2) Diskusi
    3) Seminar dan simposium
    4) Up-grading selama satu atau beberapa hari
    5) Workshop
    2.5 Teknik Meningkat (Intervisitation)
    Dalam melaksanakan supervisi, seorang supervisor menganjurkan guru untuk mengadakan intervisitation. Alangkah baiknya jika mereka itu saling mengunjugi satu sama lain. Tujuan diadakannya intervisitation ialah supaya di antara guru yang mengajarkan mata pelajaran yang sama dapat mengetahui apakah masalah yang dihadapinya dalam mengajarkan mata pelajaran itu sama dengan masalah yang dihadapi dengan rekannya. Dengan demikian, mereka akan membicarakannya bersama dan berusaha memecahkanya.
    Intervisitation dapat dilaksanakan pada sekolah itu atau pada sekolah lain dalam kota atau di kota lain pada sekolah sejenis. Dengan adanya saling mengunjungi di antara guru-guru itu, seseorang dapat belajar dari yang lain. Mereka dapat bertukar pikiran, pengalaman dan berusaha supaya mereka dapat mengembangkan jabatannya.
    Ada beberapa kebaikan-kebaikan intervisitation.
    a. Memberi kesempatan mengamati rekan lain yang sedang memberi pelajaran.
    b. Membantu guru-guru yang ingin memperoleh pengalaman atau keterampilan tentang teknik dan metode mengajar serta berguna bagi guru-guru yang mengahadapi kesulitan tertentu dalam mengajar.
    c. Memberi motivasi yang terarah terhadap aktivitas mengajar. Rekan guru mudah belajar dari temennya sendiri karena keakraban hubungan atas dasar saling mengenal.
    d. Sifat bawahan terhadap pimpinan seperti halnya supervisor dan guru tidak ada sama sekali, sehingga diskusi dapat berlangsung secara wajar dan mudah mencari penyelesaian suatu persoalan yang bersifat musyawarah.
    Jenis-jenis intervisitation
    a. Ada kalanya seorang guru yang mengalami kesulitan dalam hal ini, seorang supervisor akan mengarahkan dan menyarankan kepada guru tersebut untuk melihat rekan-rekan guru yang lain mengajar. Sudah tentu guru yang ditunjuk adalah seseorang yang memiliki keahlian dan keterampilan yang cukup dalam menggunakan tekhnik-tekhnik mengajar.
    b. Jenis-jenis yang lain ialah pada kebanyakan sekolah, Kepala sekolah menganjurkan agar guru-guru saling mengunjungi rekan-rekan di kelas atau sekolah lain. Untuk cara yang kedua ini diperlukan perencanaan dan musyawaah terlebih dahulu.

    BAB III
    PENUTUP

    3.1 Kesimpulan
    Supervisi bertujuan membantu guru dalam meningkatkan kemampuannya agar situasi belajar mengajar menjadi lebih baik. Keberhasilan supervisor mencapai tujuan supervisi dipengaruhi berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah faktor guru yang disupervisi. Dalam hal ini dituntut berbagai peran dan partisipasi guru dalam mendukung pelaksanaan supervisi.
    3.2 Saran
    Topik makalah ini penting untuk calon seorang guru, sehingga penulis berharap, pembaca dapat memahami isi dari makalah ini dengan sebaik-baiknya. Dengan adanya makalah ini, penulis berharap pembaca bisa mengambil hal-hal penting dari makalah ini sehingga ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari makalah ini dapat disampaikan kepada yang lainnya.
    Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, jangan hanya mengandalkan sumber atau referensi dari makalah ini. Pembaca juga harus mencari sumber lain yang mendukung pembahasan topik makalah ini sehingga akan dapat menambah pengetahuan pembaca.

    DAFTAR PUSTAKA

    Mukhtar & Iskandar. Orientasi Baru Supervisi Pendidikan. 2009. Cet. I. Jakarta: Gaung Persada Press
    Prasojo, Lantip Diat, & Sudiyono. Supervisi Pendidikan. 2011. Edisi Revisi. Yogyakarta: Penerbit Gava Media
    Sahertian, Piet, A. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan (Dalam Rangka Membangun Sumber Daya Manusia). 2008. Cet. II. Jakarta: Rineka Cipta

     
  9. titin+solekah

    November 20, 2014 at 12:08 pm

    MAKALAH

    MICROTEACHING

    MATA KULIAH
    METODOLOGI PENDIDIKAN

    DOSEN PEMBIMBING
    Drs. HERU SUSILO, MA

    DIKERJAKAN OLEH
    MAHASISWA
    ADIAH MAWARNI
    TITIN SHOLEKAH
    DINA KARTIKASARI

    UNIVERSITAS TRIBHUAWANA TUNGGADEWI
    PROGRAM STUDI D-4 BIDAN PENDIDIK
    TAHUN 2014-2015

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 LATAR BELAKANG

    Micro Teaching berasal dari dua kata yaitu micro berarti kecil, terbatas, sempit dan teaching berarti mengajar. Jadi, Micro Teaching berarti suatu kegiatan mengajar yang dilakukan dengan cara menyederhanakan atau segalanya dikecilkan. Maka, dengan memperkecil jumlah murid, waktu, bahan mengajar dan membatasi keterampilan mengajar tertentu, akan dapat diidentifikasi berbagai keunggulan dan kelemahan pada diri calon guru secara akurat. J.Cooper & D.W. Allen ( 1971, h. I ) mengatakan bahwa Pengajaran mikro adalah studi tentang suatu situasi pengajaran yang dilaksanakan dalam waktu dan jumlah tertentu, yakni selama empat atau sampai dua puluh menit dengan jumlah siswa sebanyak tiga sampai sepuluh orang.bentuk pengajaran di sederhanakan, guru hanya memfokuskan diri hanya pada beberapa aspek.pengajaran berlangsung dalam bentuk sesungguhnya, hanya saja diselenggarakan dalam bentuk mikro. membahas tentang pengertian pengajaran mikro, sejarahnya, rasional, penggunaan pengajaran mikro dan efektivitas pengajaran mikro, serta rangkuman penelitian.
    Tetapi kenyataan banyak masalah yang yang timbul saling bertautan satu sama lain, baik segi tempat, waktu praktik maupun aspek-aspek yang berasal dari diri mahasiswa atau siswa praktikan. Latihan praktik mengajar yang dilakukan secara langsung dalam real class room, akan banyak ditemukan permasalahan baru yang tidak mungkin dapat dipecahkan secara cepat dan tepat pada saat di depan kelas juga.
    Dilihat dari aspek historis bahwa Pengajaran mikro mulai di kembangkan di Universitas Stanford pada tahun 1963, dalam rangka menemukan metode latihan bagi para calon guru yang lebih efektif. Dalam rangka mengembangkan keterampilan mengajar, perbuatan mengajar yang kompleks itu dipecapecah menjadi sejumlah keterampilan agar mudah dipelajari. Di samping itu diteliti pula cara-cara menggunakan metode secara fleksibel dan efektif, dan disertai pertanyaan-pertanya an sebagai reinforcement.

    1.2 TUJUAN PENULISAN

    1.2.1 Tujuan Umum

    Tujuan micro teaching adalah untuk meningkatkan berbagai keterampilan mengajar sehingga calon guru mampu menciptakan proses pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik (pembelajaran yang mendidik)

    1.2.2 Tujuan Khusus

    Calon guru mampu menganalisis tingkah laku pembelajaran kawannya dan dirinya sendiri
    Calon guru mampu melaksanakan berbagai jenis keterampilan dalam proses pembelajaran
    Calon guru mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif, produktif, dan efisien
    Calon guru mampu bertindak profesional

    BAB II
    PEMBAHASAN

    Sistem pengajaran kelas telah mendudukkan guru pada satu tempat yang sangat penting, karena guru yang memulai dan mengakhiri setiap interaksi belajar mengajar yang diciptakannya. Berbagai peranan guru, dibutuhkan keterampilan dalam pelaksanaan. Belajar merupakan usaha yang sangat kompleks, sehingga sulit untuk menentukan tentang bagaimanakah mengajar yang baik itu. Pelaksanaan interaksi belajar mengajar yang tidak dapat menjadi petunjuk tentang pengetahuan seorang guru dalam mengakumulasi dan mengaplikasikan segala pengetahuan keguruannya. Itulah ,sebabnya seperti telah ditekankan di muka bahwa dalam melaksanakan interaksiu belajar mengajar perlu adanya beberapa keterampilan mengajar. Ada tidaknya interaksi adalah merupakan tanggung jawab guru, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus. Suatu cara untuk menumbuhkan interaksi ini adalah dengan mengajukan pertanyaan atau permasalahan kepada siswa.
    Tetapi satu hal yang lebih penting ialah kemampuan guru dalam menyediakan kondisi yang memungkinkan terciptanya hal tersebut memiliki kemampuan untuk :
    a. Menghargai siswa sebagai insan pribadi dan insan sosial yang memiliki hakikat dan harga diri sebagai manusia.
    b. Menciptakan iklim hubungan yang intim dan erat antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa.
    c. Menumbuhkan gairah dan kegembiraan belajar di kalangan siswa
    d. Kesediaan dalam membantu siswa.
    e. Aktivitas siswa yang bersifat negatif dalam arti mengganggu berlangsungnya proses belajar mengajar perlu segera dihentikan. Siswa yang bermain sendiri atau mengganggu teman yang lain atau berusaha menarik perhatian kelas, penting untuk mendapatkan perhatian guru. Ucapan yang dapat digunakan misalnya: tenang! Perhatikan kemari!, jangan ramai!, dan lain sebagainya.

    2.1 Dasar Pemikiran
    a. Guru sebagai profesional seharusnya memiliki tiga modal dasar yaitu pemahaman yang mendalam ter-hadap hal-hal yang bersifat filo-sofis, konseptual, dan skill
    b. Pembelajaran merupakan suatu proses dan melibatkan berbagai aspek, karena itu, untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif diperlukan keterampilan.
    c. Keterampilan mengajar merupakan kompetensi profesional yang cukup kompleks, sebagai integrasi kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh.
    d. Sekumpulan teori yang diperoleh di perkuliahan tidak akan mampu secara otomatis menghadapi berbagai problema yang ada dalam kelas tersebut. Persoalan administrasi, tempat praktik dan mekanisme pengaturan waktu akan muncul secara bersamaan melahirkan situasi baru yang belum pernah ditemui oleh mahasiswa di meja atau di ruang sekolah sehari-harinya.
    2.2 Karakteristik Mikro Teaching
    Konsep pengajaran mikro dilandasi oleh pokok-pokok pikiran, yaitu Pengajaran yang nyata, artinya pengajaran di laksanakan tidak dalam bentuk sebenarnya, tetapi berbentuk mini dengan karakteristik sebagai berikut :
    a. Peserta berkisar antara 5 – 10 orang
    b. Wwaktu mengajar terbatas sekitar 10-15 menit
    c. Komponen mengajar dikembangkan terbatas
    d. Latihan terpusat pada keterampilan mengajar.
    e. Mempergunakan informasi dan pengetahuan tentang tingkat belajar
    f. Uumpan balik terhadap kemampuan guru / calon guru.
    g. Ppengajaran di laksanakan bagi para siswa dengan latar belakang yang berbeda-beda dan berdasarkan pada kemampuan intelektual kelompok usia tertentu.
    h. Pengontrolan secara ketat terhadap lingkungan latihan yang di selenggarakan dalam laboratorium mikro teaching
    i. Pengadaan low-threat-situation untuk memudahkan calon guru mengajari keterampilan mengajar.
    j. Penyediaan low-risk-situation yang memungkinkan siswa berpartisipasi aktif dalam pengajaran.
    k. Sempatan latihan ulang dan pengaturan distribusi latihan dalam jangka waktu tertentu.
    Perbedaan micro teaching dan teaching
    Mikroteaching :
    1. Dilaksanakan dalam kelas laboratorium
    2. Sekedar real teaching
    3. Siswa 5 s/d 10 orang
    4. Waktu sekitar 10 menit
    5. Bahan terbatas
    6. Ketrampilan yang dilatihkan meliputi semua teaching skill dalam porsi yang terbatas dan terpisah pisah
    7. Diperlukan alat laboratorium agar diperoleh feadback yang obyektif

    Teaching :
    1. Dilaksanakan dalam real classroom
    2. Merupakan real classroom teaching
    3. Siswa 30 s/d 40 orang
    4. Waktu sekirar 45 menit
    5. Bahan luas
    6. Ketrampilan yang didemonstrasikan semua teaching skill dan terintegrasi
    7. Tidak dilengkapi alat alat laboratorium

    2.3 Implikasi Mikro Teaching Terhadap Ilmu Pendidikan
    Hasil penelitian yang di laksanakan oleh para pengarang tentang pengajaran mikro pada lembaga pendidikan guru di Amerika Serikat sesungguhnya memberikan input baru terhadap perkembangan ilmu kependidikan dan keguruan pada umumnya.pengaruh tersebut dapat dapat kita lihat dalam perhatian para ahli kependidikan ternyata bertambah meningkat dalam usaha menemukan suatu system yang lebih efisien dan efektif dalam rangka pendidikan guru dan penerapan teknologi baru dalam teknologi pendidikan.
    2.4 Implikasi Micro Teaching Terhadap Profesi Kependidikan
    Pada masa silam masih banyak orang yang mempertanyakan apakah jabatan guru adalah suatu profesi? Pernyataan ini tentu timbul di kalangan pihak-pihak yang masih beranggapan bahwa jabatan guru bukan jabatan professional, atau dengan kata lain bahwa setiap orang mampu menjadi guru. Pandangan ini sudah lama lewat sejak munculnya para ahli pendidikan yang mengemukakan, bahwa pekerjaan guru tidak dapat di pegang oleh sembarang orang tanpa memiliki keahlian dalam bidang kependidikan dan keguruan.و Pendidikan melakukan fungsinya melalui tiga cara, atau proses pendidikan memiliki tiga dimensi, yakni Dimensi substantif, tentang apa yang diajarkan; Dimensi tingkah laku, tentang bagaimana mengajar atau dinamika pembuatan belajar mengajar;Dimensi lingkungan, keadaan lingkungan secara fisik di mana berlangsung pembelalajaran
    Mengenai kompetensi guru ini, ada barbagai model cara mengklasifikasikan. Untuk program S1 salah satunya dikenal adanya “sepuluh kompetensi guru” yang merupakan profil kemampuan dasar bagi seorang guru. Sepuluh kompetensi guru itu meliputi: menguasai bahan, mengelola program belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media atau sumber, menguasai landasan kependidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran. Sebelu guru tampil di depan kelas untuk mengelola interaksi belajar mengajar, terlebih dahulu harus sudah menguasai bahan-bahan apa yang dikontakkan dan sekaligus bahan-bahan yang dapat mendukung jalannya proses belajar-mengajar. Dengan modal penguasaan bahan, guru akan dapat menyampaikan materi pelajaran secara dinamis. Untuk mengajar satu kelas, guru dituntut mampu mengelola kelas, yakni menyediakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya proses belajar mengajar. Kalau belum kondusif, guru harus berusaha seoptimal mungkin untuk membenahinya. Oleh karena itu kegiatan mengelola kelas akan menyangkut “mengatur tata ruang kelas yang memadai untuk pengajaran” dan menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi. Mengatur tata ruang kelas maksudnya guru harus dapat mendisain dan mengatur ruang kelas sedemikian rupa sehingga guru dan anak didik itu kreatif, kerasan belajar di ruang itu. Misalnya bagaimana mengatur meja dan tempat duduk, menempatkan papan tulis, tempat meja guru, bahkan bagaimana pula harus mengatur hiasan di dalam ruangan kelas. Disamping itu pula, kelas juga harus dalam keadaan bersih.
    Berkaitan dengan kemampuan guru, Wijaya dan Rusyan (1991: 14-20) mengemukakan bahwa kemampuan pribadi guru dalam proses belajar mengajar, terdiri dari:
    (a) Kemantapan dan integrasi pribadi,
    (b) Peka terhadap perubahan,
    (c) Adil, jujur dan objektif,
    (d) Bersikap disiplin dalam melaksanakan tugas,
    (e) Ulet dan tekun bekerja,
    (f) Simpatik, menarik, luwes, bijaksana, dan sederhana,
    (g) Bersifat terbuka,
    (h) Kreatif,
    (i) Berwibawa.

    Sedangkan kemampuan profesional guru dalam proses belajar mengajar terdiri dari:
    (a) Mampu menguasai bahan bidang studi;
    (b) Mampu mengelola program belajar mengajar;
    (c) Mampu mengelola kelas;
    (d) Mampu mengelola dan menggunakan media serta sumber belajar;
    (e) Mampu menilai prestasi belajar mengajar;
    (f) Memahami prinsip-prinsip pengelolaan lembaga dan program pendidikan;
    (g) Menguasai metode berpikir;
    (h) Terampil memberikan bantuan dan bimbingan kepada siswa;
    (i) Meningkatkan kemampuan menjalankan misi profesional;
    (j) Memiliki wawasan tentang penelitian pendidikan;
    (k) Mampu menyelenggarakan penelitian sederhana;
    (l) Mampu memahami karakteristik siswa;
    (m) Mampu menyelenggarakan administrasi sekolah;
    (n) Memiliki wawasan tentang inovasi pendidikan;
    (o) Berani mengambil keputusan;
    (p) Memahami kurikulum;
    (q) Mampu bekerja berencana dan terprogram; dan
    (r) Mampu menggunakan waktu secara tepat.

    Kemampuan sosial guru dalam proses belajar mengajar menurut Wijaya dan Rusyan (1991) bahwa guru harus mampu;
    (a) Terampil berkomunikasi dengan siswa;
    (b) Bersikap simpatik baik kepada siswa dan guru;
    (c) Dapat bekerja sama dengan BP3;
    (d) Pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan.

    2.5 Aplikasi dalam Sistem Pendidikan Guru
    sejauh manakah kemungkinan penerapan system pengajaran mikro dalam system pendidikan guru di negara kita ? pertanyaan inni akan mengundang dua pendapat yang mungkin berbeda atau bertentangan satu sama lain. Pihak yang berpandangan optimis sudah tentu akan mengatakan, bahwa sistem mikro perlu segera dilaksanakan dan dikembangkan dalam program pendidikan guru di negara kiita. Argumentasi yang di gunakan adalah, mengingat manfaatnya yang dapat diperoleh, efisien dan efektif yang tinggi dalam rangka mmellatih keterampilan mengajar yang relevan dengan tugasnya. Hal ini terbukti sudah ada LPTK yang melaksanakannya.
    2.6 Peranan Pengajaran Mikro dalam Praktek Kependidikan
    Pengajaran mikro di pergunakan dalam rangka praktek kependidikan, telah di gunakan di LPTK/ Biro Praktek keguruan bertugas mengelola pelaksanaan praktek keguruan telah menggunakannya untuk mempersiiapkan dan memperbaiiki penampilan mengajar para mahasiswa peserta yang memenuhi persyaratan.

    2.7 Model Pengajaran Mikro
    2.7.1. Konsep
    pengajaran mikro ( Mikro Teaching ) adalah suatu situasi pengajaran yang di laksanakan dalam waktu dan jumlah siswa yang terbatas, yakni selama 4 sampai 20 mennit dengan jjumlah siswa sebanyak 3 sampai 10 orang ( Cooper dan Allen, 1971, h. I ). Bentuk pengajaran yang sederhana, di mana calon guru/guru berada dalam suatu lingkungan kelas yang terbatas dan terkontrol. Guru mengajarrkan hanya satu konsep dengan menggunakan satu atau dua keterampilan mengajar.
    2.7.2 Program
    Pertimbangan yang mendasari penggunaan program pengajaran mikro adalah Untuk mengatasi kekurangan waktu yang di perlukaan dalam latihan mengajar secara tradisional
    Keterampilan mengajar yang kompleks dapat di perinci menjadi keterampilan-keterampilan mengajar yang khusus dan dapat di latih secara yang berurutan
    2.8 Model Latihan Intership
    2.8.1 Konsep
    Intership adalah suatu tahap persiapan professional di mana seorang siswa yang hampir menyelesaikan studinya secara formal bekerja di lapangan di bawah supervisi seorang administrator ( practicing administrator ) yang kompeten dan seorang professional school representative selama jangka waktu ( block of time ) dengan maksud mengembangkan kompetensi dan melaksanakan tanggung jawab kependidikan ( Davies, 1962, h. 2 ).
    2.8.2 Program
    Program intership berdasarkan pada yuridis, Kebijaksanaan Pendidikan,danadministraatif.

    2.9 Model Pengalaman Lapangan
    2.9.1 Konsep
    Pengalaman lapangan merupakan salh satu kegiatan intrakurikuler yang di laksanakan oleh mahasiswa, yang mencakup, baik latihan mengajar maupun tugas-tugas kependidikan di luar mengajar secara terbimbing dan terpadu untuk memenuhi persyaratan pembentukan profesi kependidikan. Berdasarkan rumusan yang singkat itu, dapat di ungkapkan tiga pokok pikiran penting, yakni pengalaman lapangan berorientasi pada kompetensi, terarah pada pembentukan kemampuan-kemampuan profesional siswa calon guru atau tanaga kependidikan lainnya, dan dilaksanakan, dikelola, dan ditata secara terbimbing dan terpadu.
    2.9.2 Proggram
    Program Pengalaman Lapangan ( PPL ) adalah serangkaian kegiat an yang diprogramkan bagi siswa LPTK, yang meliputi, baik latihan mengajar maupun latihan di luar mengajar. Kegiatan ini merupakan ajang untuk membentuk dan membina kompetensi-kompetensi professional yang dipersyaratkan oleh pekerjaan guru atau tenaga kependidikan yang lain. Sasaran yang ingin dicapai adalh pribadi calon pendidik yang memiliki seperangkat pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, serta pola tingkah laku yang diperlukan bagi profesinya serta cakap ddan tepat menggunakannya di dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, baik di seekolah maupun di luar sekolah.
    2.10 Model Latihan Guru Sistematik
    2.10.1. Konsep
    A Systematic Teacher Training Model ( Cage et al. 1977 ).pokok pikiran yang melandaasi model ini ialah, bahwa belajar dan mengajar merupakaan fungsi-fungsi manusia yang fundamental, yang beraneka ragam bentuknya, yang berkembang sepanjang masa. Setiap masa hanya ada satu cara yang digunakan untuk mellatih guru guna memajukan mengajar dan belajar yang dianggap sebagai suatu cara yang teerbaik.
    2.10.2. Program
    Sesuai dengan pendekatan sistem yang mendassari program sistematik dalam konteks pendidikan guru dan proses belajar mengajar, maka isi program latihan tidak perlu sama. Tiap sekolah dapat memiliki program yang berbeda-beda sesuai dangan tujuan, kebutuhan sekolah, dan lembaga pendidikan guru : ( 2003: 1-176)

    2.11 Persyaratan teknis mikro teaching
    • Ada guru dan peserta yang berperan sebagai murid. Kalau anda kenal dengan peserta yang akan jadi muridnya, boleh kompakan dulu, siapa yang mau jadi anak yang ‘aktif’ sampai yang ‘lambat’ belajarnya.
    • Ada Silabus sebagai kerangka kerja dan RPP sebagai peta dan penjelasan tahap demi tahap dalam pembelajaran.
    • biasanya durasinya 20 sampai 35 menit, satu RPP tuntas dijalankan
    beberapa hal lain yang patut menjadi perhatian adalah;
    • Micro teaching membutuhkan guru yang konsisten, namun jangan sampai saat praktek mengajarnya ‘ceramah’nya justru malah banyak dan mendominasi.
    • Ukuran keberhasilannya pada seberapa aktifnya kelas
    • Micro teaching ukuran keberhasilanya ada pada melibatkan siswa, penggunaan media & strategi belajar
    • jika anda akan mengajar semakin aktif suasananya, semakin berhasil anda
    • pilih waktu pengajaran anda, jika memilih waktu pagi hari maka berikan suasana pagi hari saat mikro teaching misalnya dengan membuat yel yel khas pagi hari, jika anda memilih memeragakan pelajaran di siang hari jangan langsung memulai pelajaran, selingi dengan permainan dulu 3 menit baru dimulai pelajaran.
    PENUTUP

    3.1. Kesimpulan
    Micro teaching atau pengajaran Mikro merupakan kegiatan yang sangat vital bagi setiap mahasiswa atau calon guru. Untuk memenuhi tuntutan agar dapat menempatkan kediriannya utuh dan professional di bidang keguruan. Mereka beranggapan bahwa asal lulus pasti dapat mengajar, karena sudah belajar dan memiliki banyak teori yang berkaitan dengan cara-cara mengajar.
    3.2 Saran
    Calon guru yang melakukan real class room teaching akan berdampak cukup signifikan memenuhi maksud proses belajar mengajar. Dengan demikian, calon guru harus langsung di depan kelas berhadapan dengan 30 siswa atau lebih, untuk menyampaikan pesan atau misi satuan pelajaran yang padat dan kompleks, maka akan dirasakan sebagai beban yang berat. Sebab pada hakikatnya ia sendiri baru belajar untuk mengajar.