RSS
 

Tugas rangkuman Kepemimpinan

22 Nov

Rangkuman pokok bahasan mata kuliah kepemimpinan dipersilakan di posting di comment.

 

Leave a Reply

 
CAPTCHA Image
*

 
  1. Ade Satria w

    October 14, 2013 at 4:23 pm

    Ade Satria W / 125030400111052 / Kepemimpinan C
    Berbagai pendekatan dalam studi kepemimpinan
    1.Pendekatan Sifat (trait approach)
    Dalam pendekatan sifat timbul pemikiran bahwa pemimpin iti
    dilahirkan, pemimpin bukan dibuat. Pemikiran semacam itu dinamakan
    pemikiran “Hereditary” (turun temurun). Pendekatan secara turun
    temurun bahwa pemimpin dilahirkan bukan dibuat, pemimpin tidak dapat
    memperoleh kemampuan dengan belajar/latihan tetapi dari menerima
    warisan, sehingga menjamin kepemimpinan dalam garis turun temurun
    dilakukan antar anggota keluarga. Dengan demikian kekuasaan dan
    kesejahteraan dapat dilangsungkan pada generasi berikutnya yang
    termasuk dalam garis keturunan keluarga yang saat itu berkuasa.

    2.Pendekatan Perilaku
    Pendekatan perilaku adalah keberhasilan dan kegagalan seorang
    pemimpin itu dilakukan oleh gaya bersikap dan bertindak pemimpin yang
    bersangkutan. Gaya bersikap dan bertindak akan tampak dari cara
    memberi perintah, memberi tugas, cara berkomunikasi, cara membuat
    keputusan, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara menegakkan
    disiplin, cara pengawasan dan lain-lain.

    3.Pendekatan Situasional Kepemimpinan
    Dalam pendekatan situasional dapat dikatakan bahwa factor determinan yang dapat membuat efektif suatu gaya kepemimpinan tergantung pada situasi dimana pemimpin itu berada pada kepribadian pemimpin sendiri. Fieldler (1967, 1974) mengajukan teori Kontingen, menyampaikan situasi kepemimpinan digolongkan dalam 3 dimensi : 1. hubungan pemimpin-anggota, yaitu pemimpin akan mempunyai lebih banyak kekuasaaan dan pengaruh, apabila ia dapat menjalin hubungan yang baik dengan anggota-anggota; 2. struktur tugas: penugasan terstruktur baik, jelas, eksplisit, terprogram, akan memungkinkan pemimpin lebih berpengaruh daripada penugasan itu kabur, tidak jelas, dan tidak terstruktur. 3. Posisi kekuasaan: pemimpin akan mempunyai kekuasaan dan pengaruh lebih banyak apabila posisinya atau kedudukannya memperkenankan ia memberi ganjaran, hukuman, mengangkat dan memecat daripada ia tidak memeliki kedudukan seperti itu.

    4.Pendekatan Kontingensi
    Dalam pandangan ini dikenal dengan sebutan “One Best Way”
    (Satu yang terbaik), artinya untuk mengurus suatu organisasi dapat
    dilakukan dengan paralek tunggal untuk segala situasi. Padahal
    kenyataannya tiap-tiap organisasi memiliki cirri khusus bahkan organisasi
    yang sejenis akan menghadapi masalah berbeda lingkungan yang
    berbeda, pejabat dengan watak dan perilaku yang berbeda. Oleh karena
    itu tidak dapat dipimpin dengan perilaku tunggal untuk segala situasi.
    Situasi yang berbeda harus dihadapi dengan perilaku kepepimpinan yang
    berbeda.

     
  2. Mukhammad Farid

    October 14, 2013 at 5:07 pm

    Mukhammad Farid (125030401111037), Perpajakan/KEPEMIMPINAN kelas C

    Pemimpin itu ada karena :
    1. Genetis ( bakat sejak lahir/keturunan )
    2. Sosial ( berkat didikan dan dorongan )
    3. Ekologis/sintesis/ ( bakat yang dikembangkan dengan pendidikan dorongan, dan pengalaman )

    Pendekatan Kepemimpinan

    A. Pendekatan Sifat (trait approach)
    Pendekatan kesifatan, memandang kepemimpinan sebagai suatu kombinasi sifat-sifat (traits) yang tampak pada seseorang. Lima sifat yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yaitu: kecerdasan, kemampuan mengawasi, inisiatif, ketenangan diri, dan kepribadian.(Ghizeli dan Stogdil:1920)

    B. Pendekatan Kekuasaan (power aprroach)
    Dalam pengertiannya, kekuasaan adalah kualitas yang melekat dalam satu interaksi antara dua atau lebih individu. Orang-orang yang berada pada pucuk pimpinan suatu organisasi
    memiliki kekuasaan power dalam konteks mempengaruhi perilaku orang-orang yang secara struktural organisator berada di bawahnya. Sebagian pimpinan menggunakan kekuasaan dengan efektif, sehingga mampu menumbuhkan motivasi bawahan untuk bekerja dan melaksanakan tugas dengan lebih baik. Jika setiap individu mengadakan interaksi untuk mempengaruhi tindakan satu sama lain, maka yang muncul dalam interaksi tersebut adalah pertukaran kekuasaan.
    Lima tipe kekuasaan menurut French dan Raven, yaitu:
    a. Reward Power
    b. Coervice Power
    c. Referent Power
    d. Expert Power
    e. Legitimate Power.

    C. Pendekatan Perilaku (behaviour approach)

    Pendekatan perilaku merupakan pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin. Sikap dan gaya kepemimpinan itu tampak dalam kegiatan sehari-hari, dalam hal bagaimana cara pemimpin itu memberi perintah, membagi tugas dan wewenangnya, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara memberi bimbingan dan pengawasan, cara membina disiplin kerja bawahan, cara menyelenggarakan dan memimpin rapat anggota, cara mengambil keputusan dan sebagainya.

    D. Pendekatan Situasi (situational approach)

    Pendekatan situasional ini muncul karena para peneliti mengenai gaya kepemimpinan tidak menemukan pendekatan yang paling efektif bagi semua situasi (Fielder, dengan teori contingency, Tannembaum dan Schmidt, dengan teori rangkaian kesatuan kepemimpinan). Pendekatan situasional bisa disebut dengan istilah kontingensi. Pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak hanya bergantung atau dipengaruhi oleh perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja, melainkan ada faktor lain yaitu keberhasilan mengentaskan situasinya.
    Tiap organisasi atau lembaga memiliki ciri-ciri khusus dan unik, dan organisasi sejenis pun dapat menghadapi masalah yang berbeda. Maka dengan perbedaan ini diperlukan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula, tergantung situasinya.

    Sumber:
    Danim, Sudarwan. 2010. Kepemimpinan Pendidikan. Bandung : Alfabeta

    Kartono, Kartini. 2005. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta : RajaGrafindo Persada

    http://nukhanku.wordpress.com/2011/06/15/pendekatan-kekuasaan-dan-pengaruh/ (diakses pada 14 Oktober 2013)

     
  3. RISKY KURNIAWAN

    October 15, 2013 at 7:52 pm

    NAMA : RISKY KURNIAWAN
    NIM : 125030400111111
    KELAS : c KEPEMIMPINAN / PERPAJAKAN

    sebab munculnya pemimpin
    Mengenai sebab-musabab munculnya pemimpin telah dikemukakan berbagai pandangan dan pendapat yang mana pendapat tersebut berupa teori yang dapat dibenarkan secara ilmiah, ilmu pengetahuan atau secara praktek. Munculnya pemimpin dikemukan dalam beberapa teori, yaitu;
    Teori pertama, berpendapat bahwa seseorang akan menjadi pemimpin karena ia dilahirkan untuk menjadi pemimpin; dengan kata lain ia mempunyai bakat dan pembawaan untuk menjadi pemimpin. Menurut teori ini tidak setiap orang bisa menjadi pemimpin, hanya orang-orang yang mempunyai bakat dan pembawaan saja yang bisa menjadi pemimpin. Maka munculah istilah “leaders are borned not built”. Teori ini disebut teori genetis.
    Teori kedua, mengatakan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin kalau lingkungan, waktu atau keadaan memungkinkan ia menjadi pemimpin. Setiap orang bisa memimpi asal diberi kesempatan dan diberi pembinaan untuk menjadi pemimpin walaupun ia tidak mempunyai bakat atau pembawaan. Maka munculah istilah “leaders are built not borned”. Teori ini disebut teori social.
    Teori ketiga, merupakan gabungan dari teori yang pertama dan yang kedua, ialah untuk menjadi seorang pemimpin perlu bakat dan bakat itu perlu dibina supaya berkembang. Kemungkinan untuk mengembangkan bakat ini tergantung kepada lingkungan, waktu dan keadaan. Teori ini disebut teori ekologis.
    Teori keempat, disebut teori situasi. Menurut teori ini setiap orang bisa menjadi pemimpin, tetapi dalam situasi tertentu saja, karena ia mepunyai kelibihan-kelebihan yang diperlukan dalam situasi itu. Dalam situasi lain dimana kelebihan-kelebiahannya itu tidak diperlukan, ia tidak akan menjadi pemimpin, bahkan mungkin hanya menjadi pengikut saja.

    pendekatan kepemimpinan
    Menurut stoner kepemimpinan adalah sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas. Ada tiga implikasi penting, pertama, kepemimpinan melibatkan orang lain ( bawahan atau pengikut ), kualitas seorang pemimpin ditentukan oleh bawahan dalam menerima pengarahan dari pemimpin. Kedua, kepemimpinan merupakan pembagian yang tidak seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan beberapa dari kegiatan anggota kelompok dan sebaliknya anggota kelompok atau bawahan secara tidak langsung mengarahkan kegiatan pimpinan. Ketiga kepemimpinan disamping dapat mempengaruhi bawahan juga mempunyai pengaruh. Dengan kata lain seorang pimpinan tidak dapat mengatakan kepada bawahan apa yang harus dikerjakan tapi juga mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintah pemimpin.

    A. Pendekatan Situasi
    Pendekatan situasional biasa disebut dengan pendekatan kontingensi. Pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak hanya bergantung atau dipengaruhi oleh perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja. Tiap organisasi atau lembaga memiliki ciri-ciri khusus dan unik. Bahkan organisasi atau lembaga yang sejenispun akan menghadapi masalah yang berbeda karena lingkungan yang berbeda, semangat, watak dan situasi yang berbeda-beda ini harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula.

    B. Pendekatan Kekuasaan
    Dalam pengertiannya, kekuasaan adalah kualitas yang melekat dalam satu interaksi antara dua atau lebih individu (a quality inherent in an interaction between two or more individuals). Jika setiap individu mengadakan interaksi untuk mempengaruhi tindakan satu sama lain, maka yang muncul dalam interaksi tersebut adalah pertukaran kekuasaan.
    Orang-orang yang berada pada puncak pimpinan suatu organisasi seperti manajer, direktur, kepala dan sebagainya, memiliki kekuasaan power) dalam konteks mempengaruhi perilaku orang-orang yang secara struktural organisator berada di bawahnya. Sebagian pimpinan menggunakan kekuasaan dengan efektif, sehingga mampu menumbuhkan motivasi bawahan untuk bekerja dan melaksanakan tugas dengan lebih baik.

    C. Pendekatan Perilaku
    Pendekatan perilaku merupakan pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin. Sikap dan gaya kepemimpinan itu tampak dalam kegiatan sehari-hari, dalam hal bagaimana cara pemimpin itu memberi perintah, membagi tugas dan wewenangnya, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara memberi bimbingan dan pengawasan, cara membina disiplin kerja bawahan, cara menyelenggarakan dan memimpin rapat anggota, cara mengambil keputusan dan sebagainya.

    D. Pendekatan SifaT
    Keberhasilan atau kegagalan seseorang pemimpin banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi seorang pemimpin. Sifat-sifat itu ada pada seseorang karena pembawaan dan keturunan. Jadi, seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih.

    sumber : http://diyanadevi-devirosdiyana.blogspot.com/2013/07/pendekatan-pendekatan-dalam-kepemimpinan.html

     
  4. yudhistira

    October 17, 2013 at 3:04 pm

    nama ; R. Yudhistira Eri Priambada
    NIM: 125030401111018
    kepemimpinan kelas C

    KEPEMIMPINAN

    Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
    • Kepemimpinan mempunyai 4 pendekatan yaitu :

    1. Kepemimpinan melalui pendekatan ciri
    2. Kepemimpinan melalui pendekatan kekuasaan
    3. Kepemimpinan melalui pendekatan perilaku
    4. Kepemimpinan melalui pendekatan situasi

    • Pendekatan ciri yaitu : Pendekatan kesifatan, memandang kepemimpinan sebagai suatu kombinasi sifat-sifat (traits) yang tampak pada seseorang. Keberhasilan atau kegagalan seseorang pemimpin banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi seorang pemimpin. Ghizeli dan Stogdil dalam Yukl (2005:13) misalnya mengemukakan adanya lima sifat yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yaitu:
    kecerdasan, kemampuan mengawasi, inisiatif, ketenangan diri, dan kepribadian

    • Pendekatan kekuasaan : Dalam pengertiannya, kekuasaan adalah kualitas yang melekat dalam satu interaksi antara dua atau lebih individu. Sebagian pimpinan menggunakan kekuasaan dengan efektif, sehingga mampu menumbuhkan motivasi bawahan untuk bekerja dan melaksanakan tugas dengan lebih baik. Namun, sebagian pimpinan lainnya tidak mampu memakai kekuasaan dengan efektif, sehingga aktivitas untuk melaksanakan pekerjaan dan tugas tidak dapat dilakukan dengan baik

    • Menurut French dan raven, ada 5 tipe kekuasaan yaitu :

    1. Reward Power , Tipe kekuasaan ini memusatkan perhatian pada kemampuan untuk memberi ganjaran atau imbalan atas pekerjaan atau tugas yang dilakukan orang lain.
    2. Coervice Power ,Kekuasaan yang bertipe paksaan ini, lebih memusatkan pandangan kemampuan untuk memberi hukuman kepada orang lain.

    3. Referent Power, Tipe kekuasaan ini didasarkan pada satu hubungan ‘kesukaan’ atau liking, dalam arti ketika seseorang mengidentifikasi orang lain yang mempunyai kualitas atau persyaratan seperti yang diinginkannya.

    4. Expert Power, Kekuasaan yang berdasar pada keahlian ini, memfokuskan diripada suatu keyakinan bahwa seseorang yang mempunyai kekuasaan, pastilah ia memiliki pengetahuan, keahlian dan informasi yang lebih banyak dalam suatu persoalan.

    5. Legitimate Power, Kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang sebenarnya (actual power), ketika seseorang melalui suatu persetujuan dan kesepakatan diberi hak untuk mengatur dan menentukan perilaku orang lain dalam suatu organisasi.

    • Pendekatan perilaku : Pendekatan perilaku merupakan pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin.

    • Pendekatan situasi : Pendekatan situasional biasa disebut dengan pendekatan kontingensi. Pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak hanya bergantung atau dipengaruhi oleh perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja. Tiap organisasi atau lembaga memiliki ciri-ciri khusus dan unik. Bahkan organisasi atau lembaga yang sejenispun akan menghadapi masalah yang berbeda karena lingkungan yang berbeda, semangat, watak dan situasi yang berbeda-beda ini harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula.
    Pendekatan kontingensi menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi. Teori ini bukan hanya penting bagi kompleksitas yang bersifat interaktif dan fenomena kepemimpinan tetapi turut membantu para pemimpin yang potensial dengan konsep-konsep yang berguna untuk menilai situasi yang bermacam-macam dan untuk menunjukkan perilaku kepemimpinan yang tepat berdasarkan situasi.

     
  5. Dian Ayu Prastiwi

    October 19, 2013 at 11:53 am

    DIAN AYU PRASTIWI
    125030400111047
    KELAS KEPEMIMPINAN C

    PENDEKATAN DALAM STUDI KEPEMIMPINAN

    Kepemimpinan adalah terjemahan dari kata “leadership” yang berasal dari kata “leader”. Pemimpin (leader) adalah orang yang memimpin, sedangkan pimpinan merupakan jabatannya. Dalam pengertian lain, secara etimologi istilah kepemimpinan berasal dari kata dasar “pimpin” yang artinya bimbing atau tuntunan. Dari “pimpin” lahirlah kata kerja “memimpin” yang artinya membimbing dan menuntun. Kepemimpinan menurut Yukl Gary, (2009), didifinisikan sebagai berikut :
    “Kepemimpinan adalah proses untuk mempengaruhi orang lain untuk memahami dan setuju dengan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efektif, serta proses untuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.”
    Berikut beberapa pendekatan dalam studi kepemimpinan:
    A. Pendekatan Sifat (trait approach)
    Pendekatan kesifatan, memandang kepemimpinan sebagai suatu kombinasi sifat-sifat (traits) yang tampak pada seseorang. Keberhasilan atau kegagalan seseorang pemimpin banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi seorang pemimpin. Sifat-sifat itu ada pada seseorang karena pembawaan dan keturunan. Jadi, seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih.
    Banyak ahli yang telah berusaha meneliti dan mengemukakan pendapatnya mengenai sifat-sifat baik manakah yang diperlukan bagi seorang pemimpin agar dapat sukses dalam kepemimpinannya. Ghizeli dan Stogdil misalnya mengemukakan adanya lima sifat yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yaitu: kecerdasan, kemampuan mengawasi, inisiatif, ketenangan diri, dan kepribadian. Selain itu, dari hasil studi pada tahun 1920-1950, diperoleh kesimpulan adanya tiga macam sifat pribadi seorang pemimpin meliputi ciri-ciri fisik, kepribadian, dan kemampuan atau kecakapan.
    Maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa berdasarkan pendekatan sifat, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi, melainkan ditentukan pula oleh kecakapan atau keterampilan (skills) pribadi pemimpin.
    B. Pendekatan Kekuasaan (power aprroach)
    Orang-orang yang berada pada pucuk pimpinan suatu organisasi seperti manajer, direktur, kepala dan sebagainya, memiliki kekuasaan power) dalam konteks mempengaruhi perilaku orang-orang yang secara struktural organisator berada di bawahnya. Sebagian pimpinan menggunakan kekuasaan dengan efektif, sehingga mampu menumbuhkan motivasi bawahan untuk bekerja dan melaksanakan tugas dengan lebih baik. Namun, sebagian pimpinan lainnya tidak mampu memakai kekuasaan dengan efektif, sehingga aktivitas untuk melaksanakan pekerjaan dan tugas tidak dapat dilakukan dengan baik. Oleh karena itu, sebaiknya kita bahas secara terperinci tentang jenins-jenis kekuasaan yang sering digunakan dalam suatu organisasi.
    Dalam pengertiannya, kekuasaan adalah kualitas yang melekat dalam satu interaksi antara dua atau lebih individu (a quality inherent in an interaction between two or more individuals). Jika setiap individu mengadakan interaksi untuk mempengaruhi tindakan satu sama lain, maka yang muncul dalam interaksi tersebut adalah pertukaran kekuasaan.
    Menurut French dan Raven, ada lima tipe kekuasaan, yaitu :
    1. Reward Power
    2. Coervice Power
    3. Referent Power
    4. Expert Power
    5. Legitimate Power
    C. Pendekatan Perilaku (behaviour approach)
    Pendekatan perilaku merupakan pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin. Sikap dan gaya kepemimpinan itu tampak dalam kegiatan sehari-hari, dalam hal bagaimana cara pemimpin itu memberi perintah, membagi tugas dan wewenangnya, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara memberi bimbingan dan pengawasan, cara membina disiplin kerja bawahan, cara menyelenggarakan dan memimpin rapat anggota, cara mengambil keputusan dan sebagainya.
    D. Pendekatan Situasi (situational approach)
    Pendekatan situasional biasa disebut dengan pendekatan kontingensi. Pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak hanya bergantung atau dipengaruhi oleh perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja. Tiap organisasi atau lembaga memiliki ciri-ciri khusus dan unik. Bahkan organisasi atau lembaga yang sejenispun akan menghadapi masalah yang berbeda karena lingkungan yang berbeda, semangat, watak dan situasi yang berbeda-beda ini harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula.
    Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan antara lain: sifat pribadi pemimpin, sifat pribadi bawahan, sifat pribadi sesama pemimpin, struktur organisasi, tujuan organisasi, motivasi kerja, harapan pemimpin maupun bawahan, pengalaman pemimpin maupun bawahan, adat, kebiasaan, budaya lingkungan kerja dan lain sebagainya.
    Pendekatan kontingensi menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi. Teori ini bukan hanya penting bagi kompleksitas yang bersifat interaktif dan fenomena kepemimpinan tetapi turut membantu para pemimpin yang potensial dengan konsep-konsep yang berguna untuk menilai situasi yang bermacam-macam dan untuk menunjukkan perilaku kepemimpinan yang tepat berdasarkan situasi.

    Referensi:
    Yukl, Gary. 2009. Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: PT Indeks.

     
  6. lestari silalahi

    October 20, 2013 at 2:44 pm

    LESTARI SILALAHI
    125030400111039
    KEPEMIMPINAN KELAS C/ PERPAJAKAN
    Pendekatan Dalam Studi Kepemimpinan
    1. Pendekatan Sifat
    Dalam pendekatan sifat terdapat pemikiran bahwa pemimpin itu dilahirkan. Maksudnya ialah, jiwa pemimpinnya itu memang ada sejak lahir. Pemimpin memeperoleh kemampuannya bukan dengan belajar ataupun berlatih, melainkan menerima warisan, atau secara tidak langsung jiwa pemimpinnya itu ada dari garis keturunannya. Jadi jiwa pemimpin itu diwariskan secara turun menurun. Contoh pendekatan ini ialah pada kerajaan Inggris. Dan tingkat kesuseskan seorang pemimpin ini bergantung pada sifat dasar yang ada dalam diri pemimpin itu sendiri.
    2. Pendekatan Perilaku
    Dalam pendekatan ini, keberhasilan seorang pemimpin berdasarkan perilaku dia sendiri. Maksudnya ialah, keberhasilannya bergantung pada gaya bersikap, cara Ia bertindak, dan cara dia menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Contohnya, cara Ia mengawasi, memberi tugas, menegakkan disiplin, menegur bawahannya, dsb. Dan melalui pendekatan inilah kita dapat melihat apakah si pemimpin itu tergotong demokratis atau otoriter.
    3. Pendekatan Kontingensi
    Dalam hal ini dibahas bagaimana cara si pemimpin mengurus organisasi bila menghadapi masalah atau tantangan atau bahkan sejenisnya. Bagaimana cara si pemimpin dalam menghadapi masalah, dan menerapkan azas “One Best Way” atau Satu yang Terbaik. Maksudnya disini si pemimpin dituntut membuat keputusan yang bersifat universal. Yang dapat diterima oleh semua kaum, dan keputusan itu juga yang terbaik.
    4. Pendekatan Kekuasaan
    Dalam hal ini, seorang pemimpin diminta untuk merangkul semua anggota organisasi, dengan caranya sendiri. Karena interaksi yang erat antar anggota organisasi sangat mempengaruhi hasil kerja dari organisasi tersebut. Dan cara merangkul yang baik dapat membuat kekuasaan dengan efektif. Cara yang umum, seorang pemimpin menimbulkan kompetisi untuk bersaing mendapatkan jabatan yang lebih baik. Dan hal ini akan memotivasi anggotanya untuk berkerja dengan baik, dan temotivasi untuk mengerjakan tugas dengan baik. Ini cara merangkul namun tetap sportif dalam bersaing. Hal ini akan membuat organisasi itu tetap berjalan dengan baik dengan anggota yang penuh dengan motivasi.

    Referensi:
    (Konsep, Pendekatan dan Strategi)Oleh : Saliman, M.Pd, http://diyanadevi-devirosdiyana.blogspot.com/2013/07/pendekatan-pendekatan-dalam-kepemimpinan.html.

     
  7. Asri Anggun Salamah

    January 11, 2014 at 3:41 pm

    ASRI ANGGUN SALAMAH
    125030400111133/ Kelas F perpajakan

    Pola kegiatan dalam pekerjaan manajerial
    Pola kegiatan dalam pekerjaan manajerial menunjukkan kecenderungan untuk aktivitas pekerjaan yang berhubungan dengan informasi dan penggunaan komunikasi lisan dalam unit organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi merupakan inti dari pekerjaan manajerial. (Stanley B. Petzall, 1991 : 34).
    Menurut penelitian Carlson, meskipun manajer terdiri dari berbagai macam jenis pekerjaan (manajer pemasaran, manajer keuangan, manajer sumber daya, dan lain sebagainya) tetapi terdapat suatu pola kegiatan yang menjadi pola dasar kegiatan manajerial berdasarkan persamaan umum pekerjaan yang dilakukan oleh tiap manajer. Berikut adalah pola kegiatan dalam pekerjaan manajerial menurut Carlson:
    1. Pekerjaan manajerial mudah terpengaruh oleh interupsi, kurangnya treatment, dan pergantian lokasi- yang semuanya berpotensi memberikan dampak terhadap keberlangsungan pekerjaan
    2. Merupakan pekerjaan yang berpusat pada pengaturan dan pengkoordiniran bawahan (orang-orang) sehingga menuntut kompetensi interpersonal
    3. Kebanyakan dari pekerjaan yang dilakukan kemungkinan ‘tidak terlihat’ oleh anggota organisasi lain dan kurang mendapat timbal balik atau apresiasi.
    4. Memerlukan adanya rentang batas dan juga koneksi hubungan terhadap lingkungan eksternal organisasi
    5. Mempunyai inti komunikasi baik secara interpersonal (antar pribadi) maupun informational, bergantung pada hubungan sosial dan kecepatan aliran informasi yang dimiliki
    6. Berhubungan dengan tugas organisasi yang menimbulkan persolan-persoalan dalam pengkoordiniran bawahan dalam pekerjaannya sehingga dapat menimbulkan kondisi tertekan (stressful) pada manajer.
    Peran kepemimpinan
    Peran kepemimpinan bisa diartikan sebagai suatu perilaku yang teratur oleh seorang pemimpin dalam proses mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi. Peran kepemimpinan menurut Mintzberg dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok peran, antara lain:
    (i) peran membangun hubungan yang terdiri dari: peran pemimpin, peran sebagai kepala dan perantara,
    (ii) peran mencari dan memberi informasi yang terdiri dari: peran monitor, peran penyebar/disseminator dan peran sebagai juru bicara, dan
    (iii) peran pengambilan keputusan/decision making yang meliputi: peran wirausaha, peran penghalau gangguan, serta pembagi sumber daya/resource allocator dan perunding.
    Gaya Kepemimpinan dan Tingkat Kematangan Bawahan
    Gaya kepemimpinan menurut Stoner (1996:165) adalah pola tingkah laku yang disukai oleh pemimpin dalam proses mengarahkan dan mempengaruhi pekerja. Hersey & Blancard (1996:180) mengatakan bahwa gaya kepemimpinan mana yang harus diterapkan seorang pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpinnya tergantung pada level kematangan dari orang-orang yang akan dipengaruhi pemimpin.
    Tingkat kematangan seorang bawahan/karyawan dilihat dari dua aspek yang meliputi kematangan kerja dan kematangan psikologis (spirit/motivasi kerja). Seorang karyawan dengan tipe X merupakan karyawan yang mempunyai keterikatan(attachment) dengan organisasi tempatnya bekerja akan memiliki perilaku malas, memerlukan pengawasan, serta berorientasi pada upah dan keterjaminan kerja. Hal tersebut berbanding terbalik dengan karyawan bertipe Y yang mempunyai ikatan(commitment) terhadap organisasinya sehingga ia berperilaku rajin dan tidak perlu diawasi karena ia berorientasi pada kebutuhan bersosial(social need), wibawa(estimacy), dan improvisasi.
    Berdasarkan hal tersebut, Hersey & Blancard menetapkan gaya kepemimpinan situasional seperti di bawah ini:
    - Tingkat Kematangan Rendah (M1), Gaya Pengarahan/Instruksi (G1)
    Karakteristik M1 merupakan karyawan yang tidak mampu dan tidak mau, maka Gaya G1 / Gaya pengarahan yang tepat untuk diterapkan. Pimpinan harus menginstruksikan kepada bawahan tentang apa, bagaimana, bilamana dan dimana harus melakukan sesuatu tugas tertentu. Serta diperlukan adanya pengawasan ketat selain pemberian instruksi.
    - Tingkat Kematangan Rendah Ke Sedang (M2), Gaya Konsultasi (G2)
    Tipe bawahan M2 dikarakteristikkan sebagai bawahan yang tidak mampu tetapi mau, Gaya G2 (Gaya Konsultasi) sesuai untuk diterapkan berdasar tipe bawahan M2. Gaya Konsultasi ini hampir seluruh pengarahan masih dilakukan oleh pemimpin. Namun melalui komunikasi dua arah dan penjelasan pemimpin melibatkan bawahan untuk mencari saran dan jawaban atas masalah yang dihadapi.
    - Tingkat Kematangan Sedang Ke Tinggi (M3) Gaya Partisipasi (G3)
    M3 dikarakteristikkan pada karyawan yang mampu tetapi tidak mau, maka gaya G3 (Gaya Partisipasi), mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi untuk diterapkan bagi individu dengan tingkat kematangan M3. Pemimpin dan pengikut saling bertukar ide dalam pembuatan keputusan, dengan peranan pemimpin yang utama memberikan fasilitas dan komunikasi
    - Tingkat Kematangan Tinggi (M4) Gaya Delegasi (G4)
    M4 dikarakteristikkan untuk karyawan yang mampu sekaligus mau, maka gaya G4 (Gaya Delegasi), mempunyai efektivitas tinggi dengan bawahan bertipe M4. Bawahan diperkenankan untuk melaksanakan sendiri dan membuat keputusan sendiri dalam menyelesaikan tugasnya. Gaya ini banyak memerlukan komunikasi dua arah atau perilaku mendukung dari pemimpin.

     
  8. MISBACHUL WAHYUDI/125030400111058/PERPAJAKAN

    January 14, 2014 at 5:16 pm

    MISBACHUL WAHYUDI/125030400111058/KEPEMIMPINAN KELAS F PERPAJAKAN
    Tingkat Kematangan Bawahan
    Pengertian Kematangan Bawahan
    Kematangan (maturity) dalam kepemimpinan situasional dapat diartikan sebagai kemampuan dan kemauan orang-orang untuk bertanggung jawab dalam mengarahkan perilaku mereka sendiri. Konsep kematangan dalam hubungannya terdiri dari dua unsur yaitu kemampuan (ability) dan kemauan (willingness). Kematangan kemampuan dikaitkan dengan pengetahuan atau keterampilan yang dapat diperoleh dari pendidikan, latihan, dan atau pengalaman. Sedangkan kematangan kemauan dikaitkan dengan keyakinan diri dan motivasi untuk melakukan sesuatu. (Thoha, 2010:68).
    Tingkat Kematangan para Bawahan
    Tingkat kematangan bawahan diperinci menjadi 4 tingkat menurut Paul Hersey dan Blanchard dalam Thoha (2010:71), yaitu:
    1.Tingkat kematangan M1 (Tidak mampu dan tidak ingin) maka gaya kepemimpinan yang diterapkan pemimpin untuk memimpin bawahan seperti ini adalah Gaya Telling (G1), yaitu dengan memberitahukan, menunjukkan, mengistruksikan secara spesifik.
    2.Tingkat kematangan M2 (tidak mampu tetapi mau), untuk menghadapi bawahan seperti ini maka gaya yang diterapkan adalah Gaya Selling/Coaching, yaitu dengan Menjual, Menjelaskan, Memperjelas, Membujuk.
    3.Tingkat kematangan M3 (mampu tetapi tidak mau/ragu-ragu) maka gaya pemimpin yang tepat untuk bawahan seperti ini adalah Gaya Partisipatif, yaitu Saling bertukar Ide & beri kesempatan untuk mengambil keputusan.
    4.Tingkat kematangan M4 (Mampu dan Mau) maka gaya kepemimpinan yang tepat adalah Delegating, mendelegasikan tugas dan wewenang dengan menerapkan system control yang baik.
    Mengubah Kematangan Bawahan Melalui Modifikasi Perilaku Bawahan
    Menurut pandangan para ahli, menurut Eysenk modifikasi Perilaku adalah upaya mengubah perilaku dan emosi manusia dengan cara yang menguntungkan berdasarkan teori yangg modern dalam prinsip psikologi belajar.
    Ada 4 faktor penting yang dibutuhkan dalam pengembangan untuk kematangan bawahan:
    1.Menetapkan Target Hasil
    Penetapan target hasil ini merupakan bagian dari rencana kerja yang melandasi peraturan-peraturan dasar yang mengkoordinasikan usaha-usaha para mandor, supervisior dan manajer dalam kerjasamanya
    2.Keuntungan Bagi Bawahan
    Bawahan percaya bahwa supervisior pada dasarnya akan menilai dari segi pelaksanaan daripada dari segi-segi yang tidak relevan seperti politik, favoritisme, azas senioritas, dsb.
    3.Keuntungan Bagi Organisasi
    Jika setiap orang berhasil (bekerja) maka kemudia sasaran tujuan perusahaan akan dicapai. Penaikan pangkat dapat diteliti segera dan perencanaan tenaga kerja manusia dapat disedehanakan. Ketidakberhasilan mencapai target memberikan suatu dasar untuk pelatihan dan penyuluhan.
    4.Menempatkan Target Hasil
    Cara yang dilakukan dalam menempatkan target hasil yaitu dengan menyususn keadaan kondisi yang dapat dikuasai jika setiap aspek dari seluruh tugas itu dapat dikerjakan, dengan menggunakan deskripsi posisinya sebagai titik tolaknya.
    Ada 10 langkah dalam proses mengubah dan membentuk perilaku bawahan:
    1.Menampung proses perubahan perilaku.
    2.Tentukan pola-pola perilaku baru dengan rinci.
    3.Memberikan umpan balik pada setiap prestasi.
    4.Menanggapi perilaku secepat mungkin.
    5.Menggunakan penguatan (reinforcement) yang kuat.
    6.Menggunakan penguatan secara berkesinambungan.
    7.Menggunakan beragam penguatan untuk perawatan.
    8.Menghargai kerjasama kelompok (teamwork) – bukan persaingan.
    9.Mengaitkan semua penghargaan dengan prestasi kerja.
    10.Tetap mengingat dan menghargai prestasi kerja yang tinggi.
    Referensi : Karjadi.M. 1983. Kepemimpinan(Leadership). Bogor:Politeia, Suwardi, Eddy.1982. Aspek-Aspek Kepemimpinan Dalam Menejemen Operasional. Bandung: Alumni. Dan Wahjosumidjo.1987.Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta : Ghalia Indonesia

     
  9. Aya Shopia

    May 1, 2014 at 9:38 pm

    AYA SHOPIA/135030300111015/Kepemimpinan Kelas B Bisnis Internasional
    Beberapa Pendekatan Kepemimpinan
    Menurut stoner kepemimpinan adalah sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas. Ada tiga implikasi penting, pertama, kepemimpinan melibatkan orang lain ( bawahan atau pengikut ), kwalitas seorang pemimpin ditentukan oleh bawahan dalam menerima pengarahan dari pemimpin. Kedua, kepemimpinan merupakan pembagian yang tidak seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan beberapa dari kegiatan anggota kelompok dan sebaliknya anggota kelompok atau bawahan secara tidak langsung mengarahkan kegiatan pimpinan. Ketiga kepemimpinan disamping dapat mempengaruhi bawahan juga mempunyai pengaruh. Dengan kata lain seorang pimpinan tidak dapat mengatakan kepada bawahan apa yang harus dikerjakan tapi juga mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintah pemimpin.

    Pendekatan Studi Kepemimpinan

    Untuk mempelajari kepemimpinan menggunakan tiga pendekatan. Pendekatan pertama bahwa kepemimpinan itu tumbuh dari bakat, kedua kepemimpinan tumbuh dari perilaku. Kedua pendekatan diatas berasumsi bahwa seseorang yang memiliki bakat yang cocok atau memperlihatkan perilaku yang sesuai akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi kelompok ( organisasi ) apapun yang ia masuki. Pendekatan yang ketiga bersandar pada pandangan situasi ( situasionar perspective ) pandangan ini berasumsi bahwa kondisi yang menentukan efektifitas pemimpin. Efektifitas pemimpin bervareasi menurut situasi tugas yang harus diselesaikan, keterampilan dan pengharapan bawahan lingkungan organisasi dan pengalaman masa lalu pemimpin dan bawahan. Dalam situasi yang berbeda prestasi seorang pemimpin berbeda pula, mungkin lebih baik atau lebih buruk. Pendekatan ini memunculkan pendekatan kontingensi yang menentukan efektifitas situasi gaya pemimpin.

    1. Pendekatan Sifat

    Secara historis, mula-mula timbul pemikiran bahwa pemipin itu dilahirkan, bukan dibentuk atau karena pengalaman. Pemikiran ini disebut Hereditary (turun-temurun). Namun demikian, kemudian muncul teori baru, yaitu teori Physical characteristic. Teori ini dikemukakan oleh Sheldon, bahwa ada 76 tipe struktur badan yang berhubungan dengan perbedaan temperamen dan kepribadian. Perkembangan terakhir menyatakan bahwa pemimpin itu dapat dibentuk atau dilatih.
    Pendekatan sifat tentang kepemimpinan bersifat tidak absolut sebab tak seorangpun yang bisa memiliki sifat-sifat secara lengkap dan utuh, bahkan situasi yang dihadapi organisasi berbeda satu sama lain, sehingga setiap organisasi menuntut keberadaan sifat-sifat kepemimpinan yang berbeda.

    2. Pendekatan Perilaku

    Pendekatan perilaku terhadap kepemimpinan didasarkan pada suatu pemikiran bahwa keberhasilan pemimpin ditentukan oleh gaya bersikap dan gaya bertindak pemimpin yang bersangkutan. Gaya bersikap dan bertindak akan tampak dari: cara melakukan suatu pekerjaan, cara memberikan perintah, cara memberi tugas, cara berkomunikasi, cara membuat keputusan, cara mendorong semangat bawahannya, cara memberikan bimbingan, cara menegakkan disiplin, cara memimpin rapat, cara mengawasi pekerjaan bawahan, cara menegur kesalahan bawahan. Berdasarkan pengamatan pada gaya bersikap dan bertindak, seorang pemimpin dikatakan memiliki gaya kepemimpinan otoriter, atau demokratik.
    Pendekatan perilaku yang melahirkan beberapa teori gaya kepemimpinan, penelitiannya telah dilakukan oleh: Universitas Iowa, Universitas Ohio, Universitas Michigan, studi managerial Grid, teori empat sistem manajemen, serta teori X dan Y.
    Dalam hal ini Urwick (1974) menawarkan teori Z, yang menyatakan bahwa apabila dalam kondisi kerja yang baik, pengarahan dilakukan melalui perpaduan teori X dan teori Y. Artinya, pada suatu ketika, seorang pemimpin memang harus menggunakan cara yang halus, hanya sedikit mengontrol, memerintah dengan sikap permintaan, kesukarelaan bersifat bertanya, tetapi pada kesempatan yang lain seorang pemimpin harus berani bertindak tegas, melakukan kontrol secara ketat, memerintah, menyalahkan, dan menghukum. Teori Z juga dikemukakan oleh Ouchi, yang menyatakan bahwa produktivitas akan meningkat apabila melibatkan para pekerja.

    3. Pendekatan Kontingensi

    Pendekatan kontingensi juga sering disebut pendekatan situasional (situational approach), terdiri dari berbagai macam model, antara lain: model kepemimpinan kontingensi dari Fiedler, model tiga demensi kepemimpinan dari Reddin, model kontinum kepemimpinan dari Tannenbaum dan Schmidt, model kontinum kepemimpinan berdasarkan banyaknya peran serta bawahan dalam pembuatan keputusan dari Yetton, model kontingensi lima faktor dari Farris, model kepemimpinan dinamika kelompok dari Cartwright dan Zander, model kepemimpinan path-goal dari vans dan House, model kepemimpinan vertikal Dyad Linkage dari Grean, model kepemimpinan sistem dari Bass, dan model kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard.